Sabtu, 09 Februari 2013

Terputus segala amalannya...

Terputuslah segala amalannya
sebelum baca, comentar ada
baiknya membaca sayyidul istigfar.
agar di beri kefaham dan menjadi
Ilmu nafi' ( Ilmu yang bermanfaat )
agar kita selalu mendekat diri
kepada Allah.
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺭَﺑِّﻲْ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺧَﻠَﻘْﺘَﻨِﻲْ،
ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻋَﺒْﺪُﻙَ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻬْﺪِﻙَ ﻭَﻭَﻋْﺪِﻙَ ﻣَﺎ
ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺖُ، ﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّﻣَﺎ ﺻَﻨَﻌْﺖُ،
ﺃَﺑُﻮْﺀُ ﻟَﻚَ ﺑِﻨِﻌْﻤَﺘِﻚَ ﻋَﻠَﻲَّ ﻭَﺃَﺑُﻮْﺀُ ﻟَﻚَ
ﺑِﺬَﻧْﺒِﻲْ ﻓَﺎﻏْﻔِﺮْﻟِﻲْ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻻَ ﻳَﻐْﻔِﺮُ
ﺍﻟﺬُّﻧُﻮْﺏَ ﺇِﻻَّ ﺃِﻧْﺖَ.
==
ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺑْﻦُ ﺃَﻳُّﻮﺏَ ﻭَﻗُﺘَﻴْﺒَﺔُ
ﻳَﻌْﻨِﻲ ﺍﺑْﻦَ ﺳَﻌِﻴﺪٍ ﻭَﺍﺑْﻦُ ﺣُﺠْﺮٍ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ
ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺇِﺳْﻤَﻌِﻴﻞُ ﻫُﻮَ ﺍﺑْﻦُ ﺟَﻌْﻔَﺮٍ ﻋَﻦْ
ﺍﻟْﻌَﻠَﺎﺀِ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻴﻪِ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺃَﻥَّ
ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ
ﻗَﺎﻝَ ﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎﺕَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥُ ﺍﻧْﻘَﻄَﻊَ ﻋَﻨْﻪُ ﻋَﻤَﻠُﻪُ
ﺇِﻟَّﺎ ﻣِﻦْ ﺛَﻠَﺎﺛَﺔٍ ﺇِﻟَّﺎ ﻣِﻦْ ﺻَﺪَﻗَﺔٍ ﺟَﺎﺭِﻳَﺔٍ ﺃَﻭْ
ﻋِﻠْﻢٍ ﻳُﻨْﺘَﻔَﻊُ ﺑِﻪِ ﺃَﻭْ ﻭَﻟَﺪٍ ﺻَﺎﻟِﺢٍ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﻟَﻪُ
Telah menceritakan kepada kami
Yahya bin Ayyub dan Qutaibah -
yaitu Ibnu Sa'id- dan Ibnu Hujr
mereka berkata; telah menceritakan
kepada kami Isma'il -yaitu Ibnu
Ja'far- dari Al 'Ala' dari Ayahnya dari
Abu Hurairah, bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: "Apabila salah seorang
manusia meninggal dunia, maka
terputuslah segala amalannya
kecuali tiga perkara; sedekah
jariyah, ilmu yang bermanfa'at
baginya dan anak sholeh yang selalu
mendoakannya." (HR Muslim 3084)
Sebagian ulama “mempergunakan”
hadits di atas untuk menolak
sampainya pahala kepada orang
yang sudah mati.
Hadits itu hanya mengatakan
“inqatha’a ‘amaluhu , terputus
amalnya maknanya adalah setiap
manusia setelah meninggal dunia
maka kesempatan beramalnya sudah
terputus atau apapun yang mereka
perbuat tidak akan diperhitungkan
lagi amalnya kecuali amal yang
masih diperhitungkan terus adalah
apa yang dihasilkan dari amal yang
mereka perbuat ketika masih hidup
seperti,
1. Sedekah jariyah
2. Ilmu yang bermanfaat bagi
dirinya dan yang disampaikan
kepada orang lain
3. Mendidik anak sehingga menjadi
anak sholeh yang selalu
mendoakannya
Hadits tersebut tidak dikatakan,
“inqata’a intifa’uhu”, “terputus
keadaannya untuk memperoleh
manfaat”.
Adapun amal orang lain, maka itu
adalah milik (haq) dari amil yakni
orang yang mengamalkan itu kepada
si mayyit maka akan sampailah
pahala orang yang mengamalkan itu
kepada si mayyit.
Para ulama menyatakan bahwa do’a
dalam shalat jenazah bermanfaat
bagi si mayyit. Begitupula sedekah
atau amal kebaikan orang lain
bermafaat bagi si mayyit seperti
bebasnya utang mayyit yang
ditanggung oleh orang lain sekalipun
bukan keluarga. Ini berdasarkan
hadits Abu Qotadah dimana ia telah
menjamin untuk membayar hutang
seorang mayyit sebanyak dua dinar.
Ketika ia telah membayarnya Nabi
bersabda: “Sekarang engkau telah
mendinginkan kulitnya” (HR Ahmad).
Jadi si mayyit masih mendapatkan
manfaat (intifa’) dari amal orang lain
yang membayarkan utangnya
termasuk sedekah lainnya yang
dilakukan oleh orang llain atas nama
si mayyit. Sedekah bisa dalam
bentuk bacaan. Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam telah
menyampaikan bahwa sedekah tidak
selalu dalam bentuk harta
ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﻣُﺤَﻤَّﺪِ ﺑْﻦِ ﺃَﺳْﻤَﺎﺀَ
ﺍﻟﻀُّﺒَﻌِﻲُّ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻣَﻬْﺪِﻱُّ ﺑْﻦُ ﻣَﻴْﻤُﻮﻥٍ
ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻭَﺍﺻِﻞٌ ﻣَﻮْﻟَﻰ ﺃَﺑِﻲ ﻋُﻴَﻴْﻨَﺔَ ﻋَﻦْ
ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺑْﻦِ ﻋُﻘَﻴْﻞٍ ﻋَﻦْ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺑْﻦِ ﻳَﻌْﻤَﺮَ
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺍﻟْﺄَﺳْﻮَﺩِ ﺍﻟﺪِّﻳﻠِﻲِّ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺫَﺭٍّ ﺃَﻥَّ
ﻧَﺎﺳًﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻟِﻠﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺫَﻫَﺐَ ﺃَﻫْﻞُ
ﺍﻟﺪُّﺛُﻮﺭِ ﺑِﺎﻟْﺄُﺟُﻮﺭِ ﻳُﺼَﻠُّﻮﻥَ ﻛَﻤَﺎ ﻧُﺼَﻠِّﻲ
ﻭَﻳَﺼُﻮﻣُﻮﻥَ ﻛَﻤَﺎ ﻧَﺼُﻮﻡُ ﻭَﻳَﺘَﺼَﺪَّﻗُﻮﻥَ
ﺑِﻔُﻀُﻮﻝِ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟِﻬِﻢْ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻭَ ﻟَﻴْﺲَ ﻗَﺪْ ﺟَﻌَﻞَ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﺗَﺼَّﺪَّﻗُﻮﻥَ ﺇِﻥَّ ﺑِﻜُﻞِّ
ﺗَﺴْﺒِﻴﺤَﺔٍ ﺻَﺪَﻗَﺔً ﻭَﻛُﻞِّ ﺗَﻜْﺒِﻴﺮَﺓٍ ﺻَﺪَﻗَﺔً
ﻭَﻛُﻞِّ ﺗَﺤْﻤِﻴﺪَﺓٍ ﺻَﺪَﻗَﺔً ﻭَﻛُﻞِّ ﺗَﻬْﻠِﻴﻠَﺔٍ
ﺻَﺪَﻗَﺔً ﻭَﺃَﻣْﺮٌ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ ﻭَﻧَﻬْﻲٌ ﻋَﻦْ
ﻣُﻨْﻜَﺮٍ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ
Telah menceritakan kepada kami
Abdullah bin Muhammad bin Asma`
Adl Dluba’i Telah menceritakan
kepada kami Mahdi bin Maimun
Telah menceritakan kepada kami
Washil maula Abu Uyainah, dari
Yahya bin Uqail dari Yahya bin
Ya’mar dari Abul Aswad Ad Dili dari
Abu Dzar bahwa beberapa orang
dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bertanya kepada beliau,
Wahai Rosulullah, orang-orang kaya
dapat memperoleh pahala yang
lebih banyak. Mereka shalat seperti
kami shalat, puasa seperti kami
puasa dan bersedekah dengan sisa
harta mereka. Maka beliau pun
bersabda: Bukankah Allah telah
menjadikan berbagai macam cara
kepada kalian untuk bersedekah?
Setiap kalimat tasbih adalah
sedekah, setiap kalimat takbir
adalah sedekah, setiap kalimat
tahmid adalah sedekah, setiap
kalimat tahlil adalah sedekah, amar
ma’ruf nahi munkar adalah sedekah
(HR Muslim 1674)
Firman Allah ta'ala, wa-an laysa lil-
insaani illaa maa sa'aa, "dan
bahwasanya seorang manusia tiada
memperoleh selain apa yang telah
diusahakannya" (QS An Najm [53]:39
Ayat Al-Qur’an itu tidak menafikan
adanya kemanfaatan untuk
seseorang dengan sebab usaha orang
lain. Ayat Al Qur’an itu hanya
menafikan “kepemilikan seseorang
terhadap usaha orang lain”. Allah
Subhanahu wa ta’ala hanya
mengabarkan bahwa “laa yamliku
illa sa’yah (orang itu tidak akan
memiliki kecuali apa yang
diusahakan sendiri). Adapun usaha
orang lain, maka itu adalah milik
bagi siapa yang mengusahakannya.
Jika dia mau, maka dia boleh
memberikannya kepada orang lain
dan pula jika ia mau, dia boleh
menetapkannya untuk dirinya
sendiri. (jadi huruf “lam” pada
lafadz “lil insane” itu adalah “lil
istihqaq” yakni menunjukan arti
“milik”).
Masuknya seorang muslim bersama
golongan kaum muslimin yang lain
didalam ikatan Islam adalah
merupakan sebab paling besar
dalam hal sampainya kemanfaatan
dari masing-masing kaum muslimin
kepada yang lainnya baik di dalam
kehidupan ini maupun sesudah mati
nanti dan doa kaum muslimin yang
lain.
Dalam satu penjelasan disebutkan
bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala
menjadikan iman sebagai sebab
untuk memperoleh kemanfaatan
dengan doa serta usaha dari kaum
mukminin yang lain. Maka jika
seseorang sudah berada dalam
iman, maka dia sudah berusaha
mencari sebab yang akan
menyampaikannya kepada yang
demikian itu.
Dengan demikian pahala ketaatan
yang dihadiahkan kepadanya dan
kaum mukminin sebenarnya bagian
dari usahanya sendiri. Oleh
karenanya setiap manusia yang telah
bersyahadat maka setelah mereka
mati akan mendapatkan manfaat
dari doa kaum muslimin lainnya
yang masih hidup dari doa seperti
“Astaghfirullahalazim li wali waa
lidaiya wali jami il muslimina wal
muslimat wal mukminina wal
mukminat al ahya immin hum wal
amwat”
"Ampunilah aku ya Allah yang Maha
Besar, kedua ibu bapaku, semua
muslimin dan muslimat, mukminin
dan mukminat yang masih hidup
dan yang telah mati.”
Terlebih lagi bagi kaum muslim yang
telah mencapai muslim yang ihsan ,
minimal muslim yang sholeh maka
mereka akan mendapatkan manfaat
dari sholawat bagi hamba yang
sholeh yang diucapkan oleh kaum
muslimin yang masih hidup ketika
mereka menjalankan sholat dalam
doa tasyahhud, “Assalaamu’alaina
wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin”
Rasulullah menyampaikan bahwa
ketika kita membaca doa tasyahhud
mengucapkan “Assalaamu’alaina
wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin”,
maka hal itu sudah mencakup
seluruh hamba-hamba yang sholeh
baik di langit maupun di bumi“.
Hamba yang sholeh di langit
maknanya penduduk langit, para
malaikat dan kaum muslim disisiNya
termasuk hamba sholeh yang sudah
wafat , dan hamba yang sholeh di
bumi adalah hamba yang sholeh
yang masih hidup
Telah menceritakan kepada kami
Umar bin Hafsh telah menceritakan
kepada kami Ayahku telah
menceritakan kepada kami Al
A'masy dia berkata; telah
menceritakan kepadaku Syaqiq dari
Abdullah dia berkata; Ketika kami
membaca shalawat di belakang Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam, maka
kami mengucapkan: ASSALAAMU
'ALALLAHI QABLA 'IBAADIHI,
ASSALAAMU 'ALAA JIBRIIL,
ASSSALAAMU 'ALAA MIKAA`IIL,
ASSALAAMU 'ALAA FULAAN WA
FULAAN (Semoga keselamatan
terlimpahkan kepada Allah, semoga
keselamatan terlimpah kepada Jibril,
Mika'il, kepada fulan dan fulan).
Ketika Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam selesai melaksanakan
shalat, beliau menghadapkan
wajahnya kepada kami dan
bersabda: Sesungguhnya Allah
adalah As salam, apabila salah
seorang dari kalian duduk dalam
shalat (tahiyyat), hendaknya
mengucapkan; AT-TAHIYYATUT
LILLAHI WASH-SHALAWAATU WATH-
THAYYIBAATU, ASSALAAMU 'ALAIKA
AYYUHAN-NABIYYU WA
RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH,
ASSALAAMU 'ALAINAA WA 'ALA
'IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN,
(penghormatan, rahmat dan
kebaikan hanya milik Allah. Semoga
keselamatan, rahmat, dan
keberkahan tetap ada pada engkau
wahai Nabi. Keselamatan juga
semoga ada pada hamba-hamba
Allah yang sholeh. Sesungguhnya
jika ia mengucapkannya, maka hal
itu sudah mencakup seluruh hamba-
hamba yang sholeh baik di langit
maupun di bumi, lalu melanjutkan;
ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAH
WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN
'ABDUHU WA RASUULUH (Aku
bersaksi bahwa tiada Dzat yang
berhak disembah selain Allah, dan
Muhammad adalah hamba dan
utusan-Nya). Setelah itu ia boleh
memilih do'a yang ia kehendaki. (HR
Bukhari 5762)
Hal yang harus kita ingat bahwa
manusia yang meninggal dunia pada
hakikatnya hanya berpindah alam
saja dan mereka masih melakukan
perbuatan namun sudah tidak
diperhitungkan lagi apa yang mereka
lakukan sebagai amal perbuatan.
Rasulullah bersabda, “sebagaimana
engkau tidur begitupulah engkau
mati, dan sebagaimana engkau
bangun (dari tidur) begitupulah
engkau dibangkitkan (dari alam
kubur)”
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam telah membukakan kepada
kita salah satu sisi tabir kematian.
Bahwasanya tidur dan mati memiliki
kesamaan, ia adalah saudara yang
sulit dibedakan kecuali dalam hal
yang khusus, bahwa tidur adalah
mati kecil dan mati adalah tidur
besar.
Ibnu Zaid berkata, “Mati adalah
wafat dan tidur juga adalah wafat”.
Al-Qurtubi dalam at-Tadzkirah
mengenai hadis kematian dari
syeikhnya mengatakan: “Kematian
bukanlah ketiadaan yang murni,
namun kematian merupakan
perpindahan dari satu keadaan
kepada keadaan lain.”
Rasulullah bersabda,
ﺣﻴﺎﺗﻲ ﺧﻴﺮ ﻟﻜﻢ ﻭﻣﻤﺎﺗﻲ ﺧﻴﺮ ﻟﻜﻢ
ﺗﺤﺪﺛﻮﻥ ﻭﻳﺤﺪﺙ ﻟﻜﻢ , ﺗﻌﺮﺽ ﺃﻋﻤﺎﻟﻜﻢ
ﻋﻠﻲّ ﻓﺈﻥ ﻭﺟﺪﺕ ﺧﻴﺮﺍ ﺣﻤﺪﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺇﻥ
ﻭﺟﺪﺕ ﺷﺮﺍ ﺍﺳﺘﻐﻔﺮﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻜﻢ .
“Hidupku lebih baik buat kalian dan
matiku lebih baik buat kalian. Kalian
bercakap-cakap dan mendengarkan
percakapan. Amal perbuatan kalian
disampaikan kepadaku. Jika aku
menemukan kebaikan maka aku
memuji Allah. Namun jika
menemukan keburukan aku
memohonkan ampunan kepada Allah
buat kalian.” (Hadits ini
diriwayatkan oelh Al Hafidh Isma’il
al Qaadli pada Juz’u al Shalaati ‘ala
al Nabiyi Shallalahu alaihi wasallam.
Al Haitsami menyebutkannya dalam
Majma’u al Zawaaid dan
mengkategorikannya sebagai hadits
shahih dengan komentarnya : hadits
diriwayatkan oleh Al Bazzaar dan
para perawinya sesuai dengan
kriteria hadits shahih)
Nabi shallallahu alaihi wasallam
bersabda:
( ﻣﺎ ﻣﻦ ﺭﺟﻞ ﻳﺰﻭﺭ ﻗﺒﺮ ﺃﺧﻴﻪ ﻭﻳﺠﻠﺲ
ﻋﻠﻴﻪ ﺇﻻ ﺍﺳﺘﺄﻧﺲ ﻭﺭﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﺣﺘﻲ
ﻳﻘﻮﻡ )
“Tidak seorangpun yang
mengunjungi kuburan saudaranya
dan duduk kepadanya (untuk
mendoakannya) kecuali dia merasa
bahagia dan menemaninya hingga
dia berdiri meninggalkan kuburan
itu.” (HR. Ibnu Abu Dunya dari
Aisyah dalam kitab Al-Qubûr).
Nabi shallallahu alaihi wasallam
bersabda:
( ﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﺣﺪ ﻳﻤﺮﺑﻘﺒﺮ ﺃﺧﻴﻪ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻛﺎﻥ
ﻳﻌﺮﻓﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻴﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﺇﻻ
ﻋَﺮَﻓَﻪُ ﻭﺭﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ )
“Tidak seorang pun melewati
kuburan saudaranya yang mukmin
yang dia kenal selama hidup di
dunia, lalu orang yang lewat itu
mengucapkan salam untuknya,
kecuali dia mengetahuinya dan
menjawab salamnya itu.” (Hadis
Shahih riwayat Ibnu Abdul Bar dari
Ibnu Abbas di dalam kitab Al-
Istidzkar dan At-Tamhid).
Nabi shallallahu alaihi wasallam
bersabda:
ﺇﻥ ﺃﻋﻤﺎﻟﻜﻢ ﺗﻌﺮﺽ ﻋﻠﻰ ﺃﻗﺎﺭﺑﻜﻢ
ﻭﻋﺸﺎﺋﺮﻛﻢ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺧﻴﺮﺍ
ﺍﺳﺘﺒﺸﺮﻭﺍ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻗﺎﻟﻮﺍ:
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻻ ﺗﻤﺘﻬﻢ ﺣﺘﻰ ﺗﻬﺪﻳﻬﻢ ﻛﻤﺎ
ﻫﺪﻳﺘﻨﺎ)
“Sesungguhnya perbuatan kalian
diperlihatkan kepada karib-kerabat
dan keluarga kalian yang telah
meninggal dunia. Jika perbuatan
kalian baik, maka mereka
mendapatkan kabar gembira, namun
jika selain daripada itu, maka
mereka berkata: “Ya Allah, janganlah
engkau matikan mereka sampai
Engkau memberikan hidayah kepada
mereka seperti engkau memberikan
hidayah kepada kami.” (HR. Ahmad
dalam musnadnya).
Wassalam
maaf saya tidak menggunakan fatwa
ulama wahaby salafy, di shahihkan
ulama Ini dan itu, karena Ulama su'
wahaby salafy Bukan Ulama Ahl
sunnah wal jama'ah.
maka ikuti dan amalkan sesuai
Ulama masing2...
semoga bermnafaat. jangan Lupa
baca Sayyidul istigfar di setiap
sholat fardhu atau kapan , siapa dan
dimana saja kita mau, kecuali di
tempat dan waktu waktu yang di
haramkan.
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺭَﺑِّﻲْ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺧَﻠَﻘْﺘَﻨِﻲْ،
ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻋَﺒْﺪُﻙَ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻬْﺪِﻙَ ﻭَﻭَﻋْﺪِﻙَ ﻣَﺎ
ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺖُ، ﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّﻣَﺎ ﺻَﻨَﻌْﺖُ،
ﺃَﺑُﻮْﺀُ ﻟَﻚَ ﺑِﻨِﻌْﻤَﺘِﻚَ ﻋَﻠَﻲَّ ﻭَﺃَﺑُﻮْﺀُ ﻟَﻚَ
ﺑِﺬَﻧْﺒِﻲْ ﻓَﺎﻏْﻔِﺮْﻟِﻲْ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻻَ ﻳَﻐْﻔِﺮُ
ﺍﻟﺬُّﻧُﻮْﺏَ ﺇِﻻَّ ﺃِﻧْﺖَ .

By : sayyidul istighfar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar