Selasa, 09 Oktober 2012

Tentang Menunda Amalan Sholeh


Kitab Al-hikam
“MENUNDA BERAMAL (SALEH) GUNA MENANTIKAN YANG LEBIH LUANG, TERMASUK TANDA KEBODOHAN DIRI”

Watak nafsu adalah selalu mencari kelonggaran, kemudahan dan kesenangan. Menunda-nunda amal-amal yang wajib dan sepi dari pamrih adalah tipuan nafsu demi menghadirkan tuntutan dan kekuasaannya yang selalu bertambah. Alasan karena tidak ada waktu dan tenaga. Orang bijak adalah dia yang bertindak melawan nafsunya. Kebiasaan mentalnya pada masa lalu dan bertindak bertindak dengan maksud mencapai tujuan yang lebih tinggi, baik dalam waktu senang, luang, susah, maupun sibuk. Waktu laksana pedang, jika engkau tidak menebasnya, engkaulah yang akan tertebas olehnya. Salam...

Kesempatan Mengadu

Kita sebenarnya diberi kesempatan untuk mengadu. Kita adukan semua persoalan kita kepada Allah. Kita adukan semua kebingungan kita, pekerjaan, rizki, kesehatan, cinta, dan semua apapun. Kita mengadu, dan kita pasrah menunggu dijawab. Dan pasti Allah menjawabnya langsung. Ruh bisa merasakannya, namun kalau dia dipaksa tertinggal-tinggal oleh gerakan badan, maka dia tidak sempat menikmati pertemuan
dengan Allah itu.

Saat ruku’ kita ruku’ lama, sambil menarik regang kaki dan punggung . Nikmati saja seperti menikmati peregangan bila senam. Saat sujud, kita tumpukan kepala sebagai tumpuan utama. Nikmat rasanya ‘terpijat’ dahi ini oleh gerak sujud. Saat ruh telah ikut sujud, saya baca dengan penghayatan, “Subhana robbiyal a’laa wa bi hamdih” (Maha Suci Engkau yang Maha Tinggi dan Maha Terpuji). Rasanya nikmat sekali sujud lama.

Lalu, lalu kita duduk setelah sujud. kita baca sepotong-sepotong bacaannya,. Robbighfirlii (Ya Tuhan ampunilah aku). Lalu kita diam sejenak. Tiba-tiba keluar sendiri air mata, kita menangis karena menyadari betapa dalam makna kalimat pengaduan ini. Kita minta secara langsung untuk dimaafkan . Ruh kita meminta secara langsung, dan Allah menjawabnya. kita menangis. Ruh kita menangis, kita yang sejati, menangis. War hamnii (dan sayangilah aku), air mata itupun tumpah. Wajburnii. Diam. War fa’nii. Diam.. Warzuqnii (beri rizki padaku -Ya Allah), air mata kita akan benar-benar tumpah, betul-betul kita tiba-tiba sadar bahwa selama ini kita mengejar-ngejar rizki tapi tidak serius mengakui itu dariNya

lalu saat ini kita sedang memintanya langsung! Wahdinii (tunjukilah aku -karena aku sedang bingung dan tak tahu). Diam sejenak, rasakan getaran qalbu nya kita akan merasakan air mata kita benar-benar meleleh deras Wa’aafinii (dan sehatkan aku). Wa’fuannii (dan maafkan aku- yang banyak dosa ini).

Mulailah kita berdoa dengan meratap. Seraya mengucapkan, “Ya Allah… Ya Allah… Ya Allah…”, sambil mengangkat tangan setinggi wajah seperti seorang pengemis yang meminta-minta. Berkali-kali, hingga hati kita siap berdoa. Imam Gazali berkata kalau kita ingin dekat Allah maka kita harus sungguh-sungguh memanggilnya laksana seorang anak kecil yang ketakutan karena ada ular atau bahya, lalu memanggil-manggil ayahnya

“Ayah… Ayah… Ayah…”, maka ayahnya pasti datang dengan seruan itu dan melindungi anak tersebut. Demikianlah kalau kita ingin bebas dari maksiat, kata Al Ghazali, maka kita harus panggil dengan betul-betul ketakutan akan maksiat tersebut, kita panggil pelindung kita dengan sungguh-sungguh seakan anak kecil memanggil-manggil ayahnya, maka akan dilindungi kita dari maksiat tersebut.

Cobalah kita berdoa, mengadu di depan Tuhan secara langsung. kita ikhlaskan apapun jawaban dari doa tersebut. Dengan bahasa yang kita mengerti dan kita kuasai agar esensi do’a tercapai yakni dialog bercakap-cakap dengan Allah SWT.
Mugi2 migunani tumprap kula pribadi lan sedayanipun...Aamiin...

Nafsu

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary

“Bagian nafsu dalam kemaksiatan itu jelas nyata. Sedangkan bagian nafsu di dalam ta’at, itu tersembunyi dan tidak nyata. Mengobati yang tersembunyi itu sangat sulit terapinya.”

Bahwa nafsu itu mmiliki kcenderungan maksiat & melakukan tindak maksiat itu sangat nyata dan jelas, karena naluri nafsu memang demikian. Namun ketika nafsu menyelinap di balik a

ktivitas taat, kebajikan, amaliah, sangat tersembunyi. Alur nafsu dalam konteks ini memiliki tiga karakter:

1).Takut pada sesama makhluk,

2).Ambisi rizki,

3).Rela pada kemauan nafsu itu sendiri.

Munculnya ketiga karakter itu bersamaan dengan selera nafsu.Sdangkan perselingkuhan nafsu dibalik taat dan ibadah kita begitu tersembunyi. Tiba-tiba ia merasa lebih tinggi dibanding orang lain, lebih suci, kemudian muncul rekayasa untuk manipulasi, dengan tujuan tertentu atau imbalan tertentu, yang menyebabkan riya’.
Mari kita bertanya pada diri sendiri dibalik nafsu yang tersembunyi ini. Apakah ketika kita beribadah, melakukan aktivitas kebajikan dan amaliyah lainnya, agar kita disebut berperan? Agar disebut lebih di banding yang lain? Mendapat pujian dan kehormatan orang lain? Anda sendiri dan orang-orang sholeh yang memiliki matahatilah yang mengenal karakter itu.
Karena itu nafsu sering bersembunyi dibalik bendera agama, dibalik aktivitas ibadah dan gerakan massa keagamaan, bahkan nafsu merangsek ornamen penampilan orang-orang saleh, agar disebut saleh.
Disnilah Syekh Ibnu Athaillah juga mengingatkan berikutnya:

“Kadang-kadang riya’ itu masuk padamu, ketika orang lain tidak memandangmu.”
Kenapa demikian? Karena riya’ itu bertumpu pada pandangan makhluk. Ketika anda bersembunyi atau makhluk lain tidak mengenal anda, lalu anda diam-diam merasa ikhlas, karena makhluk lain tidak melihatmu, itu pun disebut riya’. Sebab unsur makhluk masih tersisa di hatimu.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh, ra, menegaskan:

“Beramal demi pandangan manusia itu adalah syirik. Sedangkan tidak melakukan amaliah karena agar di pandang manusia, adalah riya’. Meninggalkan amal demi manusia adalah syirik. Ikhlas, adalah Allah jika anda diampuni (lalu meninggalkan) kedua faktor di atas.”

Ketika seseorang berlaku riya’, dalam kondisi khalwat, secara diam-diam pula ia ingin disebut lebih utama dibanding yang lain.

“Wah saya sudah suluk, saya sudah baiat, saya sudah khalwat…Sedangkan kalian kan belum… Jelas saya lebih baik dibanding anda…”. Bisikan lembut ini adalah bentuk ketakaburan dan riya’.
Inilah mengapa Syekh Ibnu Athaillah melanjutkan:

“Upayamu untuk meraih kemuliaan agar makhluk mengetahui keistemewaanmu,menunjukkan bahwa ubudiyahmu sama sekali tidak benar.”
Karena, menurut Syeikh Zarruq, ra,manakala anda benar dalam ubudiyah pada Tuhanmu, pasti anda tidak senang jika yang lainNya tahu amalmu.
Sebagian Sufi mengatakan:
“Tak seorang pun benar pada Allah Swt, sama sekali, kecuali jika ia senang bila cintanya tidak dikenal oleh yang lain.”
Ahmad bin Abul Hawary ra, mengatakan:
“Siapa pun bila senang kebaikannya dipandang orang lain atau disebut-sebut, ia benar-benar musyrik dalam ibadahnya. Karena orang yang berbakti pada cinta, tidak senang bila baktinya dipandang oleh selain yang di abdi.”
Sahl bin Abdullah ra, mengatakan:
“Siapa yang senang pamer amalnya pada orang lain ia telah riya’. Dan siapa yang ingin dikenal kondisi ruhaninya oleh orang lain,ia adalah pendusta.”
Ibrahim bin Adham nengatakan:
“Tidak benar bagi Allah orang yang senang dengan keterkenalan (popularitas).”
Dan menghapus riya’ dan mmbersihkannya,sudah seharusnya dilakukan dengan memandang kepada Allah Swt dan menolak selain DiriNya. Semangat pagi...salam damai...

Rosulullah Mengeluhkan Kita


Perlu kita ketahui, Rasul pernah mengadu kepada Allah soal kita yang tidak memperlakukan Al Quran secara tidak semestinya. Beliau pernah berdoa dengan doa yang diabadikan dalam Al Quran, “Ya Tuhanku! Kaumku menjadikan Al Quran ini tercampakkan.” (QS Al Furqan: 30)

Pengaduan Rasulullah ini ditujukan kepada orang-orang yang justru akrab dengan Al

Quran, yang dalam kesehariannya berinteraksi dengan Al Quran, yaitu orang yang sibuk membaca dan menghafalkan Al Quran, tapi melalaikan sisi terpenting darinya, yaitu mengantarkan jiwa dari kegelapan menuju cahaya.

“Cahaya dan Kitab yang menerangkan telah datang dari Allah kepadamu. Dengan Kitab itu Allah menunjukkan jalan keselamatan kepada orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya. Dengan Kitab itu pula Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dan mengantarkan mereka ke jalan yang lurus.”
(QS Al Maidah: 15-16)

Jika kita akrab dengan Al Quran hanya sebatas lidah dan tidak berusaha meneruskan ke hati dan akal maka kita telah kehilangan sisi terpenting kemukjizatan Al Quran. Dan jika saat ini kita terpuruk, itu karena kita mencampakkan Al Quran. Benarlah apa yang disabdakan oleh Nabi Saw:

إن الله يرفع بهذا القرآن أقواما ويضع به آحرين

“Dengan Al Quran ini, Allah mengangkat derajat suatu kaum atau merendahkannya.”(HR. Muslim, 1893).

Lalu, Apa Solusinya?

Solusi masalah keimanan adalah membuka diri kepada Al Quran. Ia di depan kita, siap mengubah kondisi hati kita dengan pancaran iman. Dengan begitu, kita akan mampu mengatasi krisis keimanan yang menjerat yang menjadikan kita umat yang cacat.

Namun, meski solusi itu mudah dilakukan, banyak umat Islam yang tidak yakin akan kebenarannya. Menurut mereka, usaha tertinggi menghidupkan Al Quran adalah menyuburkan tumbuhnya lembaga -sekolah maupun perguruan tinggi- yang mampu melahirkan para penghafal Al Quran dalam waktu singkat, dan mendorong umat rajin membacanya, giat mengkhatamkannya berkali-kali, lebih-lebih pada bulan Ramadhan, demi sekedar meraih pahala sebanyak-banyaknya.

Jika anda mengingatkan mereka pentingnya merenungkan dan meresapi pengaruh Al Quran bagi hati, mereka berdalil, “Kami ingin meraih sebanyak mungkin kebaikan. Kami ingin masuk ke surga. Mereka merenungkan Al Quran hanya menyita waktu kami untuk melakukan itu.”

Yang lain berkata, “Lebih baik cepat mengkhatamkan Al Quran tanpa pemahaman dan penghayatan lalu meraih pahala sebanyak mungkin daripada mengkhatamkan seraya memahami dan menghayati namun membutuhkan waktu bertahun-tahun.”

Ini banyak kita jumpai pada sebagian besar umat Islam, sehingga amat sulit mengajak mereka kembali kepada Al Quran dan memetik manfaat untuk mengatasi problem keimanan.

Tetapi, karena tidak ada solusi lain maka gerakan membangun kesadaran akan nilai dan tujuan Al Quran harus terus-menerus disuarakan. Andai semua ini tersaji secara jelas di depan kita, dan tidak ragu lagi akan muncul daya dorong yang amat kuat untuk menerima Al Quran sebagai sumber cahaya dan petunjuk. Dengan kata lain, perhatian kita akan beralih kepada upaya mewujudkan tujuan hakiki turunnya Al Quran dengan beragam cara; membaca, mendengarkan dan menghafal. Percaya dan yakin bahwa Al Quran satu-satunya sumber petunjuk, iman, dan perubahan adalah titik tolak kembali kepadanya dan meraih nilai positif darinya. Imam Bukhari pernah mengatakan.

“Tidak ada yang bisa mencicipi aroma Al Quran kecuali orang-orang yang mempercayainya.”
(Tibyan fii AqsamAl Quran, Ibnul Qayyim, hal 205).

Malik bin Dinar berkata, “Aku bersumpah, orang yang mempercayai Al Quran pasti luluh hatinya.”
(Durrul Mantsur, As Suyuti, 6/298)

Orang yang mempecayai Al Quran tidak akan legah bila tidak memperlakukannya secara tepat.

“Orang-orang yang telah Kami beri Al Kitab, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya. Mereka meyakininya.”
(QS Al Baqarah: 121).

Mungkin Anda berkata, “Aku sudah mengimai Al Quran, tetapi aku tidak merasakan pengaruhnya.”

Meyakini Al Quran tidak hanya percaya bahwa ia “firman Allah yang diturunkan kepada Muhammad, dan membacanya adalah ibadah,” (Mabahits Fii Ulumil Qur’an, Manna’ Al Qaththani) tetapi juga meyakini nilai dan keagungan Al Quran, dan meyakini bahwa ia diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, membimbing mereka menuju Allah.

Dengan pola keimanan seperti inilah para sahabat Nabi berinteraksi dengan Al Quran. Abdullah bin Umar berkata:

“Kami hidup pada suatu masa ketika di antara kami telah beriman lebih dulu sebelum mempelajari Al Quran. Setelah itu, turunlah surah demi surah kepada Nabi Muhammad Saw, kami mempelajari halal dan haram serta perintah dan larangan yang ada dalam surah-surah itu, dan bagaimana seharusnya menyikapi itu semua. Kemudian kulihat juga sekelompok orang yang di antara mereka diberi Al Quran sebelum mempercayainya. Ia baca Al Quran itu dari awal hingga akhir, tetapi tidak bisa memahami isinya, juga tidak tahu bagaimana menyikapinya. Ia seperti menabur kurma busuk.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Setiap huruf Al Quran berseru, “Aku adalah utusan Allah untukmu agar aku diamalkan dan dijadikan nasehat.“(Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak, 1/91. Menurut Al Hakim, hadits ini shahih dengan standar keshahihan Bukhari dan Muslim).

Pemaknaan sahabat terhadap Al Quran di atas diperkuat Jundub bin Abdillah. Ia mengatakan, “Kami bersama nabi dan kami adalah pemuda yang bersemangat. Kami mempelajari keimanan sebelum mempelajari Al Quran. Setelah mempelajari Al Quran, iman kami pun meningkat.”(HR. Ibnu Majah dan Baihaqi. Lihat juga dalam Fadhail Al Quran, Mustaghfiri, 1/275).

Jika Anda katakan mereka mampu memahami keagungan Al Quran karena mereka mendengarnya sebagai sesuatu yang tidak biasa, sehingga mereka tidak habis berdecak kagum, lalu lubuk hati mereka takluk, diri mereka merasakan pengaruhnya, maka kujawab: semua itu benar. Dan ini pula salah satu sebab kita terpuruk ke lembah terasing ini. Kita mewarisi Al Quran sebagaimana yang diterima para pendahulu kita, termasuk cara bagaimana kita berinteraksi dengannya.

Sejak bayi kita telah berusaha mendengar senandung Al Quran, tidak berusaha memahami kandungan maknanya. Al Quran jadi terasing, menjauh dari kehidupan kita. Lalu, dari sana kita seolah mendengar ia berteriak menyeru kita: Beginikah caramu memperlakukan aku?! Padahal aku datang untuk membahagiakanmu, membuat hatimu berbunga-bunga, membantumu menghadapi persoalan kehidupan.

Kau simpan aku di rumahmu, tetapi kenapa kau acuh dan mencampakkanku?!
Apakah kau menempatkanku hanya sampai di tenggorokan? Ketika aku dibacakan, kenapa kau tidak menyimaknya secara seksama? Apakah kau tahu apa yang akan dikatakan pada Tuhanmu kelak pada Hari Kiamat?

bergegaslah sebelum waktu berlalu. Jadikanlah aku penolongmu -bukan pembinasamu- kelak!

Ayo co....senajan mung sak ayat rong ayat...moco qur'an saben ndino...

Jangan Sampai Hati Tertawan Syahwat

Dari Kajian Kitab Al-Hikam

seorang sufi kehilangan anaknya hingga tiga hari tidak ada kabar beritanya, maka ada orang berkata kepadanya ; Mangapa Engkau tidak minta kepada Allah supaya mengembalikan anak itu kepadamu ? Jawabnya ; tantanganku terhadap putusan Allah akan lebih berat bagiku daripada hilangnya anak.

Abu Sulaiman Addarany ra berkata :
A

llah telah mewahyukan kepada Nabi Daud as ; Sesunggunya Aku menjadikan itu syahwak hanya untuk orang-orang yang lemah dari para hambaKu, karena itu awaslah jangan sampai hatimu tertawan oleh syahwat itu, maka seringan-ringan siksa untuknya ialah aku cabut manisnya rasa cinta kepadaKu dari dalam hatimu.

Dalam sebagian wahyu Allah kepada Nabi Daud as :
Hai Daud berpeganglah pada ajaranKu dan tahanlah nafsumu untuk kesenangan dirimu, jangan sampai engkau tertipu daripadanya niscaya engkau terhijab dari cintaKu, putuskan syahwatmu karena Aku, sebab Aku hanya memberikan syahwat itu untuk hambaKu yang lemah, untuk apakah orang-orang yang kuat akan memuaskan syahwat, padahal ia akan mengurangi kelezatan bermunajat kepadaKu, bahkan aku bersihkan ia daripadanya.
Hai Daud jangan engkau mengadakan antaraKu mabuk pada alam itu daripada cinta kepadaKu, mereka hanya perampok di tengah jalan terhadap hambaKu yang baru berjalan.

Usahakan untuk meninggalkan syahwat dengan banyak puasa. HHai Daud cintailah Aku dengan memusuhi hawa nafsumu dan tahanlah dari syahwatnya, niscaya engkau melihat kepadaku dan engkau akan dapat melihat yang terbuka antaraKu dengan engkau.

Ibrahim bin Adham ra berkata :
seorang tidak akan mencapai derajat orang salihin, sehingga melalui enam rintangan :
1. Menutup pintu kemuliaan, membuka pintu kehinaan.
2. Menutup pintu nikmat, membuka pintu kesukaran.
3. Menutup pintu istirahat, membuka pintu perjuangan.
4. Menutup pintu tidur, membuka pintu jaga.
5. Menutuk pintu kekayaan, membuka pintu kemiskinan.
6. Menutup pintu harapan, membuka pintu bersiap menghadapi maut.

Ibrahim Al-Khawaash ra berkata :
Ketika saya di tengah perjalanan tiba-tiba merasa lapar, kemudian ke kota Array, maka berkata dalam hati ; di sini saya banyak sahabat, maka jika saya bertemu tentu mereka akan menjamu saya, maka ketika telah masuk kota tiba-tiba saya melihat perbuatan munkar yang mana saya merasa berkewajiban harus nahi munkar.
Tiba-tiba saya ditangkap dan dipukuli oleh orang-orang. Sehingga bertanya dalam hati ; Mengapa saya dipukuli orang padahal saya ini lapar.
Tiba-tiba di ingatkan dalam hatiku ; Engkau mendapat hukuman itu karena kau mengharap dijamu oleh sahabat-sahabatmu. Selamat pagi dulur2ku kabeh....sami wilujeng nggih....
.. SAYA SHOLAT LIMA WAKTU TAPI .. ? ...

Bismillahir-Rah manir-Rahim ..... Sebuah
renungan yang menakjubkan, subhanallah,
semoga kita semua sadar akan keislaman
kita .....

Saya Sholat lima waktu tapi ......
Ingat pada Allah hanya lima waktu itu saja ..
Dan pada masa lainnya saya lupa pada Nya ..
... Jika Sholat saya 10 menit , maka cuma 10
menit itu saja ingat pada Nya ... Mungkin dalam
10 menit itu pun saya masih ingat selain
daripada Nya ...
Saya Sholat lima waktu tapi ....
Saya tidak pernah bersyukur padaNya ..
Padahal dulunya saya amat susah ..
Allah yang memberi rezeki pada saya ..
Dengan rezeki itu saya dapat membeli rumah ...
Dengan rezeki itu saya dapat menampung
keluarga ...
Dengan rezeki itu saya dapat membeli
kendaraan .. dan sebagainya ..
Tapi .. hati saya masih belum puas ..
Saya masih tamak akan harta dunia dan masih
menganggap serba kekurangan ...
Saya Sholat lima waktu tapi ....

Saya masih menggunakan perkataan yang tidak
sopan kepada teman teman ..
Saya sering menyakiti hati mereka ..
Saya sering menghina mereka ..
Saya sering menghina keturunan dan bangsa
mereka seolah olah keturunan dan bangsa saya
saja yang paling baik .. Padahal saya sendiri
tidak tahu persis tempat saya di mahsyar
nanti ....
Saya Sholat lima waktu tapi ....
Saya masih sombong dengan ilmu yang saya
miliki ..
Saya masih sombong dengan amal perbuatan
yang telah saya perbuat ...
Saya masih sombong dengan ibadah yang saya
lakukan ..

Saya masih sombong dan menganggap sayalah
yang paling pandai.. Saya masih sombong dan
merasa saya paling dekat dengan Allah SWT ...
Dengan berbagai macam cara dan berbagai
argumen saya debat mereka yang tidak
sehaluan dengan saya dan saya hancurkan
Rumah Ibadah mereka, saya aniaya dan saya
siksa mereka dan keluarga mereka ..
Padahal saya sendiri belum tahu, ridhokah Allah
SWT dengan apa yang telah saya perbuat itu ...

Saya Sholat lima waktu tapi ....
Saya masih menggunakan ilmu hitam untuk
menjatuhkan musuh musuhku ...
Saya menggunakan uang bahkan harta serta
pangkat dan kekuasaan untuk menjatuhkan
manusia yang saya tidak suka ...
Saya Sholat lima waktu tapi ....
Saya amat bakhil dan kikir mengeluarkan uang
untuk zakat dan sedekah kepada fakir miskin
atau kepada anak yatim piatu kerena saya
takut hartaku habis dan jatuh miskin ....
Saya Sholat lima waktu tapi ....
Saya masih menyimpan sifat dengki dan khianat
kepada teman teman yang sukses dinaikkan
pangkatnya atau dinaikan gajinya dan atau
berhasil dalam usahanya, padahal mereka
berusaha dan bekerja sungguh sungguh dan
saya hanya bekerja seperti hidup segan mati tak
mau ...

Saya Sholat lima waktu tapi ....
Saya mengabaikan anak isteri yang kelaparan
dan menderita di rumah, kerena saya merasa
sebagai raja di dalam rumahtangga dan boleh
berbuat sesuka hati ....
Saya Sholat lima waktu tapi ....
Masih merungut dan mencaci maki bila saya
ditimpa musibah, walaupun sebenarnya saya
tahu sesuatu musibah itu datangnya dari Allah,
karena perbuatan dan prilaku saya sendiri
Seharusnya saya sadar kepada siapakah saya
mencaci maki itu .. ?

Saya Sholat lima waktu tapi ....
Menuntut ilmu semata mata mempersiapkan diri
untuk berdebat dengan orang lain atau untuk
menduga keilmuan mereka dan sengaja mencari
cari yang tidak sehaluan dengan saya, .. dan
memaksa mereka mengikuti jejak langkah
saya, ... padahal seharusnya saya sadar tujuan
kita menuntut ilmu adalah supaya kita dapat
berbuat amal sholeh dan beribadah dengan
khusyuk dan tidak melakukan syirik kepada
Allah (mempersekutuka n Allah SWT dengan
yang lainnya) ...

Saya Sholat lima waktu tapi ....
Saya enggan melaksanakan serta kurang
bahkan tidak faham dengan firman Allah SWT
dalam Al Quran QS: 29 : (Al-Ankabut) : 45 yang
artinya Bacalah apa yang telah diwahyukan
kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan
dirikanlah shalat. sesungguhnya shalat itu
mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan
mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah
(shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari
ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui
apa yang kamu kerjakan ...

Saya Sholat lima waktu tapi..
Saya tidak faham dan tidak tahu dan tidak
menjalankan dengan benar firman Allah dalam
QS 107. (Al Maa´uun) : yang artinya
1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan
agama ? ..
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim ..
3. dan tidak menganjurkan memberi makan
orang miskin ..
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang
shalat ..
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari
shalatnya ..
6. orang-orang yang berbuat riya ..
7. dan enggan (menolong dengan) barang
berguna ..

... Mari kita perbaiki sholat kita dan
sesungguhnya Allah SWT Maha Pengampun,
Semoga Dia Nan Agung berkenan memaafkan
kelalaian kita dalam shalat dan ibadah kita
pada-Nya ...

.... Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-
Nya sempurnalah semua kebaikan ....

Barakallahufikum ....
Rambu-Rambu agar Pelan-Pelan

Category: Kisah Humor Dewasa

Di gerbang sebuah kompleks ada rambu bertuliskan:

"AWAS PELAN-PELAN, BANYAK PENYEBERANG JALAN..!!!"

Tapi pengendara tetap saja ngebut jalannya...

Karena rambu tersebut tidak dipatuhi pengendara maka pak RT membuat rambu yang lain lagi:

"AWAS PELAN-PELAN BANYAK ANAK-ANAK..!!!"

Ternyata rambu itupun tak diindahkan juga...

Namun pak RT gak kurang akal, dipasangnya rambu baru dengan tulisan:

"AWAS PELAN-PELAN, BANYAK PEREMPUAN PAKAI ROK MINI"

Dan ternyataaaaaa...

Sejak rambu itu dipasang, tidak ada lagi yang berani ngebut dijalan. Bahkan mereka terlihat sangat sopan dan waspada, mereka selalu melihat kekiri dan kanan... celinglak-celinguk ketika berjalan...

Hayo......
Kisah Indah Abu Hurairah

Waktu kecil Abdusy Syams (hamba Matahari) sangat sayang kepada seekor anak kucing betina, yang dalam bahasa Arab disebut Hurairah. Sejak itu, dia dikenal dengan panggilan Abu Hurairah.

Setelah masuk Islam, Rasulullah SAW lebih suka memanggilnya Abu Hirr sebagai panggilan akrab, dan dia lebih suka panggilan itu. Abu Hirr artinya penyayang kucing jantan.

Namun, Rasulull

ah SAW kemudian mengganti namanya menjadi Abdur Rahman (hamba Allah yang Mahapenyayang).

Abu Hurairah RA berasal dari suku Daus dan dia masuk Islam melalui Thu f ail bin ‘Amir ad-Dausy, salah seorang pe mimpin suku tersebut.

Setelah masuk Islam, pemuda Ad-Dausy ini pergi ke Madinah menemui Nabi dan berkhidmat untuk Rasulullah sepenuh hati. Dia tinggal bersama ahli shuffah di beranda Masjid Nabawi. Tiap waktu dia bisa shalat di belakang Nabi dan mendengarkan pelajaran berharga dari Nabi.

Abu Hurairah punya ibu yang sudah tua dan sangat disayanginya. Dia ingin ibunya memeluk Islam, tapi menolak bahkan mencela Rasulullah SAW. Abu Hurairah sangat sedih. Dia pergi menemui Rasulullah sambil menangis.

“Mengapa engkau menangis, wahai Abu Hirra?” sapa Nabi. Abu Hurairah menjelaskan apa yang menyebabkan hatinya galau, sambil meminta Rasul mendoakan ibunya. Lalu Nabi berdoa agar ibu Abu Hurairah terbuka hatinya untuk menerima Islam.

Suatu hari Abu Hurairah menemui ibunya. Sebelum membuka pintu dia mendengar suara gemericik air, kemudian terdengar suara ibunya. “Tunggu di tempatmu, Nak!”

Setelah dipersilakan masuk, Abu Hurairah kaget tatkala ibunya langsung menyambut dengan ucapan dua kalimat syahadat. Alangkah bahagianya Abu Hurairah, keinginannya tercapai. Segera dia kembali menemui Rasulullah. “Dulu aku menangis karena sedih, sekarang aku menangis karena gembira.”

Abu Hurairah sangat menyayangi ibunya, terlebih setelah ibunya masuk Islam. Dia selalu hormat dan berbakti kepada ibunya. Setiap akan pergi meninggalkan rumah dia berdiri lebih dahulu di depan pintu kamar ibunya mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaiki wa rahmatullah wa barakatuh, ya ummah!”

Ibunya menjawab dengan lembut, “Wa ‘alaikas salam wa rahmatullahi wa barakatuh, ya bunayya.”

Kemudian, Abu Hurairah mendoakan ibunya, “Rahimakillahu kama rabbay tini shaghira” (semoga Allah mengasihi ibu sebagaimana ibu merawatku waktu kecil).”

Ibunya membalas doa putranya dengan doa yang tidak kalah indahnya, “Wa rahimakallahu kama barartani kabira” (semoga Allah mengasihimu sebagaimana engkau berbuat baik kepadaku setelah engkau dewasa).

Abu Hurairah aktif mengajak orang lain agar memuliakan dan berbuat baik dan menyayangi kedua orang tua. Suatu hari dia melihat dua orang berjalan bersama, yang satu lebih tua dari lainnya. Abu Hurairah bertanya kepada yang muda, siapa orang tua ini? “Bapakku,” jawab anak muda itu.

Lalu Abu Hurairah menasihatinya. “Janganlah engkau memanggilnya dengan menyebut namanya. Jangan berjalan di hadapannya. Dan jangan duduk sebelum dia duduk lebih dahulu.” Begitulah, sisi lain Abu Hurairah, yang sangat sayang kepada ibunya dan hormat kepada yang lebih tua.

Semangat pagi.....salam damai.
Kisah Indah Abu Hurairah

Waktu kecil Abdusy Syams (hamba Matahari) sangat sayang kepada seekor anak kucing betina, yang dalam bahasa Arab disebut Hurairah. Sejak itu, dia dikenal dengan panggilan Abu Hurairah.

Setelah masuk Islam, Rasulullah SAW lebih suka memanggilnya Abu Hirr sebagai panggilan akrab, dan dia lebih suka panggilan itu. Abu Hirr artinya penyayang kucing jantan.

Namun, Rasulull

ah SAW kemudian mengganti namanya menjadi Abdur Rahman (hamba Allah yang Mahapenyayang).

Abu Hurairah RA berasal dari suku Daus dan dia masuk Islam melalui Thu f ail bin ‘Amir ad-Dausy, salah seorang pe mimpin suku tersebut.

Setelah masuk Islam, pemuda Ad-Dausy ini pergi ke Madinah menemui Nabi dan berkhidmat untuk Rasulullah sepenuh hati. Dia tinggal bersama ahli shuffah di beranda Masjid Nabawi. Tiap waktu dia bisa shalat di belakang Nabi dan mendengarkan pelajaran berharga dari Nabi.

Abu Hurairah punya ibu yang sudah tua dan sangat disayanginya. Dia ingin ibunya memeluk Islam, tapi menolak bahkan mencela Rasulullah SAW. Abu Hurairah sangat sedih. Dia pergi menemui Rasulullah sambil menangis.

“Mengapa engkau menangis, wahai Abu Hirra?” sapa Nabi. Abu Hurairah menjelaskan apa yang menyebabkan hatinya galau, sambil meminta Rasul mendoakan ibunya. Lalu Nabi berdoa agar ibu Abu Hurairah terbuka hatinya untuk menerima Islam.

Suatu hari Abu Hurairah menemui ibunya. Sebelum membuka pintu dia mendengar suara gemericik air, kemudian terdengar suara ibunya. “Tunggu di tempatmu, Nak!”

Setelah dipersilakan masuk, Abu Hurairah kaget tatkala ibunya langsung menyambut dengan ucapan dua kalimat syahadat. Alangkah bahagianya Abu Hurairah, keinginannya tercapai. Segera dia kembali menemui Rasulullah. “Dulu aku menangis karena sedih, sekarang aku menangis karena gembira.”

Abu Hurairah sangat menyayangi ibunya, terlebih setelah ibunya masuk Islam. Dia selalu hormat dan berbakti kepada ibunya. Setiap akan pergi meninggalkan rumah dia berdiri lebih dahulu di depan pintu kamar ibunya mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaiki wa rahmatullah wa barakatuh, ya ummah!”

Ibunya menjawab dengan lembut, “Wa ‘alaikas salam wa rahmatullahi wa barakatuh, ya bunayya.”

Kemudian, Abu Hurairah mendoakan ibunya, “Rahimakillahu kama rabbay tini shaghira” (semoga Allah mengasihi ibu sebagaimana ibu merawatku waktu kecil).”

Ibunya membalas doa putranya dengan doa yang tidak kalah indahnya, “Wa rahimakallahu kama barartani kabira” (semoga Allah mengasihimu sebagaimana engkau berbuat baik kepadaku setelah engkau dewasa).

Abu Hurairah aktif mengajak orang lain agar memuliakan dan berbuat baik dan menyayangi kedua orang tua. Suatu hari dia melihat dua orang berjalan bersama, yang satu lebih tua dari lainnya. Abu Hurairah bertanya kepada yang muda, siapa orang tua ini? “Bapakku,” jawab anak muda itu.

Lalu Abu Hurairah menasihatinya. “Janganlah engkau memanggilnya dengan menyebut namanya. Jangan berjalan di hadapannya. Dan jangan duduk sebelum dia duduk lebih dahulu.” Begitulah, sisi lain Abu Hurairah, yang sangat sayang kepada ibunya dan hormat kepada yang lebih tua.

Semangat pagi.....salam damai.
Belajar Ikhlas

Ikhlas itu kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit dilaksanakan. Karena itu, kita perlu belajar dan membiasakan diri menjadi mukhlis (orang yang ikhlas).

Dari segi bahasa, ikhlas itu mengandung makna memurnikan dari kotoran, membebaskan diri dari segala yang merusak niat dan tujuan kita dalam melakukan suatu amalan.

Ikhlas juga mengandung arti meniadakan segala penyakit hati, se

perti syirik, riya, munafik, dan takabur dalam ibadah. Ibadah yang ikhlas adalah ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT.

Ungkapan “semata-mata karena Allah SWT” setidaknya mengandung tiga dimensi penghambaan, yaitu niatnya benar karena Allah (shalih al-niyyat), sesuai tata caranya (shalih al-kaifiyyat), dan tujuannya untuk mencari rida Allah SWT (shalih al-ghayat), bukan karena mengharap pujian, sanjungan, apresiasi, dan balasan dari selain Allah SWT.

Beribadah secara ikhlas merupakan dambaan setiap Mukmin yang saleh karena ikhlas mengantarkannya untuk benar-benar hanya menyembah atau beribadah kepada Allah SWT, tidak menyekutukan atau menuhankan selain- Nya. “Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (QS An-Nisa’ [4]: 36).

Jika ikhlas sudah menjadi karakter hati dalam beramal ibadah, niscaya keberagamaan kita menjadi lurus, benar, dan istiqamah (konsisten). (QS Al-Bayyinah [98]: 5). Selain kunci diterima tidaknya amal ibadah kita oleh Allah SWT, ikhlas juga membuat “kinerja” kita bermakna dan tidak sia-sia. Kinerja yang bermakna adalah kinerja yang berangkat dari hati yang ikhlas.

Menurut Imam Al-Ghazali, peringkat ikhlas itu ada tiga. Pertama, ikhlas awam yakni ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dilandasi perasaan takut kepada siksa-Nya dan masih mengharapkan pahala dari-Nya.

Kedua, ikhlash khawas,ialah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dimotivasi oleh harapan agar menjadi hamba yang lebih dekat dengan-Nya dan dengan kedekatannya kelak ia mendapatkan “sesuatu” dari-Nya.

Ketiga, ikhlash khawas al-khawas adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena atas kesadaran yang tulus dan keinsyafan yang mendalam bahwa segala sesuatu yang ada adalah milik Allah dan hanya Dia-lah Tuhan yang Mahasegala-galanya.

Ikhlas merupakan komitmen ter ting gi yang seharusnya ditambatkan oleh setiap Mukmin dalam hatinya: sebuah komitmen tulus ikhlas yang sering dinyatakan dalam doa iftitah. (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata karena Allah Tuhan semesta alam). (QS Al-An’am [6]: 162).

Sifat dan perbuatan hati yang ikhlas itu merupakan perisai moral yang dapat menjauhkan diri dari godaan setan (Iblis). Menurut At-Thabari, hamba yang mukhlis adalah orang-orang Mukmin yang benar-benar tulus sepenuh hati dalam beribadah kepada Allah, sehingga hati yang murni dan benar-benar tulus itu menjadi tidak mempan dibujuk rayu dan diprovokasi setan.

Ikhlas sejatinya juga merupakan “benteng pertahanan” mental spiritual Mukmin dari kebinasaan atau kesia-siaan dalam menjalani kehidupan. Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah berujar, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang meng isi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tetapi tidak bermanfaat.
KENAPA HARUS RIDHO MENGHADAPI MUSIBAH

Siapakah yang tidak was-was, yang tidak susah lagi gundah gulana, jika menghadapi hal-hal yang tidak sejalan dengan hati dan perasaannya ?
Siapakah yang tidak resah gelisah dan terguncang hatinya, bila ditimpa malapetaka ? Mengalami bala, bencana dan musibah sebagamana pengertian awam selama ini ?.
Musibah seperti sudah pernah kita bahas sebelumnya, berasal

dari kata ashaaba yang berarti sesuatu yang kita alami, apakah itu baik atau buruk. Namun sudah menjadi kelaziman sehari-hari, kata musibah itu hanya dipakai untuk kejadian yang buruk atau yang sulit-sulit saja. Sedangkan yang baik tidak disebut musibah. Padahal dalam surat An Nisaa Ayat 79 disebutkan “Maa ashaabka min hasanatin fa minnallah. Wamaa ashaabaka min sayyi’atin fa min nafsik”. Maknanya, yang kamu alami sehingga menimbulkan dampak kesenangan dalam hidup, itu harus kamu sadari, bahwa itu dari Allah. Tapi apa yang kamu alami yang berdampak atau mengakibatkan kesulitan bagi kamu, cobalah terlebih dahulu periksa diri kamu. Bahasa gaulnya, yang baik dari Allah, yang buruk karena ulah kita sendiri.
Musibah dalam pengertian kejadian buruk sering disebut pula kesulitan, bala, cobaan atau ujian Tuhan. Adapun jenis-jenisnya antara lain sakit, kematian, bencana, kecelakaan, tertipu, rugi, pailit, miskin, kehilangan harta benda, kehilangan pekerjaan, belum kunjung punya suami - isteri atau anak, dijahati-difitnah-disyiriki orang lain, anak kita nakal dan sebagainya.
Semuanya tidak mengenakkan hati dan perasaan. Bahkan tidak jarang karenanya langit sudah bagaikan mau runtuh. Dunia serasa hendak kiamat. Atau memang kiamat kecil, kata sementara orang. Orang yang di dera duka nestapa seperti itu, kehilangan sanak saudara tercinta karena meninggal dunia misalkan, bisa meraung-raung, menangis meratapi jenazahnya. Sampai pernah terjadi, Sayidina Ali menegor sahabatnya yang berbuat seperti itu, “Ketahuilah, betapapun takdir akan tetap berlaku. Kalau engkau ridho akan takdir ini engkau akan mendapatkan ampunan dan pahala, sebaliknya jika engkau tidak ridho maka takdir tetap berlaku dan engkau malah mendapatkan dosa”. (Imam Al Ghazali dalam Minhajul ‘Abidin).
Bila kita renungkan dalam-dalam nasehat tersebut, demikian pula berbagai hadis tentang menghadapi musibah dan kematian, memang sungguh keterlaluan jika kita tidak ridho. Semua yang selama ini kita klaim sebagai milik kita termasuk sanak saudara, sesungguhnya adalah milik Gusti Allah yang dititipkan dengan sepenuh amanah kepada kita. Nah ini sang Pemilik mengambil kembali hak-Nya kok kita tidak rela ? Berani benar kita memprotes Nya dengan menangis meratap meraung-raung ? Toh yang sudah diambil oleh Sang Pemilik tak mungkin kita minta lagi. Yang sudah mati tak mungkin hidup kembali.
Tetapi, apakah kita sungguh-sungguh tidak dibenarkan menangis menghadapi musibah buruk seperti kematian, khilangan dan kehancuran ? Menangisi jenazah dengan tidak meratapinya, dibolehkan sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Mas’ud Al Anshari dan Qarazhah bin Ka’ab yang berkata, “Rasulullah saw membolehkan kami menangis ketika ditimpa musibah asalkan tidak disertai dengan ratapan “ (HR Ibnu Abi Syaibah dan Thabrani).
Dalam riwayat-riwayat lain dikisahkan, Rasulullah pun mencucurkan air mata tatkala memangku puteranya yang sedang menghadapi sakaratul maut. Air mata yang seperti itu menurut beliau adalah rahmat yang dijadikan di dalam hati hamba-hamba-Nya yang suka berbelas kasih kepada sesamanya.
Lantas sikap yang bagaimana yang sebaiknya kita lakukan, jika Gusti Allah mengambil kembali “titipan” Nya dari kita ? Ridho seperti yang diajarkan Sayidina Ali itulah yang terbaik. Segala sesuatu ini sesungguhnya adalah milik Allah dan kepada Allah pula akan kembali. Oleh karena itu meskipun kita tercekat menghadapi bala, malapetaka dan musibah, meski hati kita pilu bagai tersayat sembilu lantaran yang kita cintai diambil-Nya, kita tetap harus ridho, dan tentu saja boleh seraya berdoa memohon gantinya yang lebih baik lagi, sejalan dengan nasihat Nabi Khidir As. pada saat Rasulullah Saw wafat;
“Sesungguhnya Allah telah menyediakan balasan pada setiap musibah, pengganti pada setiap yang hilang, dan khalifah pada setiap yang tiada. Maka kembalikanlah segalanya kepada Allah dan berharaplah kepada Nya. Allah telah mempersiapkan segalanya untuk kalian dan ketahuilah bahwasannya yang ditimpa musibah adalah orang yang tidak terpaksa”. (kesaksian Abu Bakar, riwayat Baihaqi dari Anas bin Malik). Dari tasawuf Jawa.

✿ ♥♥ BALADA BUAH APEL ✿ ♥♥

Seorang pemuda shaleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan dipinggiran kota Kuffah,tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh keluar pagar dari sebuah kebun.Maka tanpa fikir panjang dipungut dan dimakannyalah apel merah yang ranum dan lezat itu.Akan tetapi baru setengah dia makan,dia sadar bahwa apel itu bukan miliknya,dan dia belum mendapat izin dari yang empunya

kebun.

Dikebun itu dia melihat seorang lelaki tua,dia hampiri dan berkata,"aku sudah makan setengah dari buah apel ini,aku harap tuan menghalalkanya,"

"Aku bukan pemilik kebun ini,aku adalah khadamnya yang ditugaskan menjaga dan merawat kebun ini," jawab lelaki itu.

"Dimana rumah pemiliknya", tanya tsabit.
"Rumahnya jauh sekali,jaraknya sehari semalam dari sini,"kata lelaki tua itu.

Tsabit tetap bertekat akan menemui pemilik kebun itu,karena dia ingat akan sabda Rasulullah SAW,"barang siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram,maka ia layak jadi umpan api neraka"

Sesampainya dirumah pemilik kebun,tsabit langsung memberi salam dengan sopan,seraya berkata" wahai tuan yang pemurah,saya sudah terlanjur memakan apel tuan yang terjatuh keluar dari kebun,sudikah tuan menghalalkannya untuk saya..? "

"Tidak,aku tidak akan menghalalkanya kecuali dengan satu syarat," kata orang itu.

"Apa syarat itu tuan ?" tanya Tsabit.
"Engkau harus menikahi putri ku" jawabnya.

"Tapi sebelum menikah engkau harus mengetahui dulu keadaan putriku,dia seorang yang buta,bisu,tuli,dan lumpuh" lanjut orang itu.

Namun dengan mantap Tsabit menjawab" aku akan menerima pinangan dan akan menikahi anakmu,aku telah bertekat dan berjanji dengan ALLAH Rabbil'alamin.Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban dan hak-hak ku pada Nya,aku berharap ALLAH swt meridhainya.

Maka pernikahanpun dilaksanakan dengan menhadirkan dua orang saksi.Kemudian Tsabit dipersilahkan masuk untuk menemui istrinya.Dia bertekat akan tetap mengucapkan salam meski istrinya tuli dan bisu,bukankah malaikat ALLAH swt yang berada didalam rumah itu tidak tuli dan bisu..?

"Assala mu'alaikum"

"wa'alaikum salam"

Tak disangka sama sekali wanita yang kini menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik,ketika dia menghampiri ia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya.

Tsabit yang keheranan bertanya kepada istrinya," kata ayahmu kamu buta, bisu,dan tuli mengapa ?

"Ayahku benar,aku buta karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan ALLAH swt,aku bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma ALLAH swt saja,aku tuli karena aku tidak mau mendengar cerita atau berita yang tidak di Ridhai ALLAH swt.

"Ayahku juga mengatakan bahwa aku lumpuh bukan ?'" tanya istrinya.
"Ya, jawab Tsabit, mengapa ?

"Aku lumpuh karena aku tidak pernah menggunakan kakiku untuk pergi ketempat-tempat yang tidak di Ridhai ALLAH Ta'ala.aku hanya menggunakan kakiku ketempat-tempat ibadah, jawab istrinya.

Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang amat sholeh dan memelihara dirinya.Dengan bangga dia berkata tentang istrinya," ketika kulihat wajahnya,...Subhanallah...dia bagaikan purnama dimalam yang gelap".

Mereka kemudian dikaruniai seorang putra yang kemudian menjadi seorang " IMAM BESAR".Beliau adalah " Al Imam Abu Hanifah An Nu'man bin Tsabit"....

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sahabatku...kisah diatas adalah dilakukan oleh manusia, bukan malaikat, artinya....manusia mampu untuk mencontoh akhlak dan adab ....inilah cermin sebuah hati yg ikhlas dan kesholihan yg terpancar lewat sebuah amalan......inilah cermin dari sebongkah IMAN yg ada di dada....Subhanallah........sungguh Luar biasa ya ?

yuk kita selalu mencontoh Akhlak dan sifat2 terpuji ini, krn ini merupakan cahaya di dunia dan di akhirat...
Siapakah Sahabat Sejati?

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary.
⁠“Tak ada sahabat sejatimu kecuali dia yang paling tahu aibmu, dan tidak ada (sahabat seperti itu) kecuali Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Sebaik-baik sahabatmu adalah yang menuntutmu, tetapi sama sekali tuntutan itu tidak ada kepentingannya darimu untuk-nya.”

Tak ada yang lebih tahu aib kita secara detil dan rinci melainkan Allah swt, k

arena Dia-lah yang tak pernah meninggalkan anda ketika anda dalam kondisi hina dan tidak menolak anda ketika anda dalam kondisi sangat kurang, bahkan senantiasa mengasihi anda dalam situasi apa pun.

Pada saat begitu Dia memerintahkan anda dan melarang anda, namun anda maksiat pada-Nya, namun Dia tidak meninggalkan anda, bahkan dengan rasa belas kasih-Nya Dia memanggilmu untuk datang kepada-Nya di saat anda alpa.

Namun jika yang tahu aib anda secara detil itu adalah makhluk, maka para makhluk pun justru meninggalkan anda dan melempari anda atas perbuatan anda selama ini. Namun Allah Swt dengan segala cinta dan kasih sayang-Nya senantiasa malah menjaga anda. Namun yang menyadari itu sangat sedikit.

Allah Swt tidak pernah meminta imbal balik kita dibalik perlindungan, perintah, tuntutan dan larangan-Nya. Sedangkan pergaulan dan persahabatan dengan makhluk penuh dengan tuntutan dan kepentingan. Maka sahabat sejati sesungguhnya yang menyadarkan kepentingan yang kembali pada diri kita, hal-hal yang berguna maupun hal-hal mana yang berbahaya.

Namun rasa yaqin yang rendah dan lemah membuat anda terhijab dari semua itu. Karena itu Ibnu Athaillah melanjutkan:
⁠“Seandainya cahaya yaqin memancar, pasti anda melihat akhirat lebih dekat padamu dibanding anda menempuhnya. Dan sungguh anda memandang keindahan dunia tak lebih dari reruntuhan fana yang tampak padanya.”

Dunia hanyalah khayal dalam wujudnya, apabila anda benar-benar tercerahi oleh cahaya yaqin.
⁠Ahmad bin Ashim al-Anthaky ra menegaskan, “Yaqin adalah nur yang dijadikan Allah swt dalam hati hamba-Nya, hingga ia melihat perkara akhiratnya dan cahaya itu membakar semua hijab antara Dia dan dirinya, sampai akhirat tampak begitu jelas dalam perspektifnya.”

Suatu hari Rasulullah Saw, bertanya kepada Haritsah ra, “Apa kabarmu pagi ini wahai Haritsah?”
⁠“Saya dalam kondisi beriman yang benar,” jawab Haritsah.
⁠Rasulullah saw, bersabda, “Setiap kebenaran ada hakikatnya, lalu apa hakikat imanmu?”
⁠“Seakan-akan saya berada di Arasy Tuhanku benar-benar ditegakkan dan saya melihat ahli syurga sedang menikmati nikmat-nikmat-Nya di syurga dan ahli neraka sedang saling minta pertolongan,” kata Haritsah.

Rasulullah saw, bersabda, “Kamu sedang mengenal maka teguhlah. Seorang hamba yang qalbunya dicerahi cahaya oleh Allah….” (Al-Hadits).
⁠Rasulullah saw, pernah bersabda, “Bila cahaya masuk dalam hati, maka hati akan lapang…”
⁠Rasul saw, ditanya, “Wahai Rasulullah apakah ada tanda untuk mengenal itu?”
⁠Beliau menjawab, “Merasa kosong di negeri tipudaya dan kembali pada negeri keabadian, serta mempersiapkan bekal mati

sebelum waktunya tiba…” semoga bermanfaat, khususnya buat pribadi saya dan saudara saudaraku semua. Aamiin

Dua Waktu Tidur Yang Dilarang Rasul

Tidur menjadi sesuatu yang esensi dalam kehidupan kita. Karena dengan tidur, kita menjadi segar kembali. Tubuh yang lelah, urat-urat yang mengerut, dan otot-otot yang dipakai beraktivitas seharian, bisa meremaja lagi dengan melakukan tidur.
Dalam Islam, semua perbuatan bisa menjadi ibadah. Begitu pula tidur, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dalam

Al-Quran, Allah swt pun menyuruh kita untuk tidur. Namun, ternyata ada dua waktu tidur yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk tidak dilakukan.
1. Tidur di Pagi Hari Setelah Shalat Shubuh
Dari Sakhr bin Wadi’ah Al-Ghamidi radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
”Ya Allah, berkahilah bagi ummatku pada pagi harinya” (HR. Abu dawud 3/517, Ibnu Majah 2/752, Ath-Thayalisi halaman 175, dan Ibnu Hibban 7/122 dengan sanad shahih).
Ibnul-Qayyim telah berkata tentang keutamaan awal hari dan makruhnya menyia-nyiakan waktu dengan tidur, dimana beliau berkata :
“Termasuk hal yang makruh bagi mereka – yaitu orang shalih – adalah tidur antara shalat shubuh dengan terbitnya matahari, karena waktu itu adalah waktu yang sangat berharga sekali. Terdapat kebiasaan yang menarik dan agung sekali mengenai pemanfaatan waktu tersebut dari orang-orang shalih, sampai-sampai walaupun mereka berjalan sepanjang malam mereka tidak toleransi untuk istirahat pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Karena ia adalah awal hari dan sekaligus sebagai kuncinya. Ia merupakan waktu turunnya rizki, adanya pembagian, turunnya keberkahan, dan darinya hari itu bergulir dan mengembalikan segala kejadian hari itu atas kejadian saat yang mahal tersebut. Maka seyogyanya tidurnya pada saat seperti itu seperti tidurnya orang yang terpaksa” (Madaarijus-Saalikiin 1/459).

2. Tidur Sebelum Shalat Isya’
Diriwayatkan dari Abu Barzah radlyallaahu ‘anhu : ”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya” (HR. Bukhari 568 dan Muslim 647).
Mayoritas hadits-hadits Nabi menerangkan makruhnya tidur sebelum shalat isya’. Oleh sebab itu At-Tirmidzi (1/314) mengatakan : “Mayoritas ahli ilmu menyatakan makruh hukumnya tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya. Dan sebagian ulama’ lainnya memberi keringanan dalam masalah ini. Abdullah bin Mubarak mengatakan : “Kebanyakan hadits-hadits Nabi melarangnya, sebagian ulama membolehkan tidur sebelum shalat isya’ khusus di bulan Ramadlan saja.”
Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Baari (2/49) : “Di antara para ulama melihat adanya keringanan (yaitu) mengecualikan bila ada orang yang akan membangunkannya untuk shalat, atau diketahui dari kebiasaannya bahwa tidurnya tidak sampai melewatkan waktu shalat. Pendapat ini juga tepat, karena kita katakan bahwa alasan larangan tersebut adalah kekhawatiran terlewatnya waktu shalat.

Salam...

humor yg menyindir polisi

surat kecil untuk
tuhan dan polisi

Biar seger suasana nya, monggo
di baca
Seorang bocah sangat Ingin
melanjutkan sekolah,tetapi
orang tuanya tidak

...
mempunyai uang untuk
membiayai sekolah nya.
Lagi pula ibu nya yang sedang
sakit membutuhkan
biaya untuk membeli obat.
Akhirnya dia memutuskan
untuk menulis surat kepada
Tuhan :
Kepada Yth
Tuhan
di Surga Tuhan yang baik, saya
mau
melanjutkan sekolah, tapi
orang tua saya tidak punya
uang. Ibu saya juga
sedang
sakit, mau beli obat. Tuhan saya
butuh uang Rp
20.000 utk beli obat ibu, Rp
20.000 untuk mem bayar
uang sekolah,Rp 10.000
untuk membayar uang sera
gam,dan uang buku Rp 10.000.
Jadi semuanya Rp 60.000
Terima kasih Tuhan, saya
tunggu kiriman uangnya.
Dari : Rio
Rio pun pergi ke kantor pos
untuk mengirim surat nya.
Membaca tujuan surat
tersebut, petugas kantor
pos merasa iba melihat Rio,
sehingga tidak tega
mengembalikan suratnya.
Bingung
mau di kemanain
surat itu, akhirnya petugas
pos itu menyerahkan nya ke
kantor polisi terdekat. Membaca
isi surat itu,
Komandan polisi merasa iba
dan tergerak hatinya utk
menceritakan hal tsb
kepada anak buahnya.
Walhasil, para polisi pun
mengumpulkan dana utk di
berikan ke Rio, tetapi dana
yang terkumpul hanya Rp
55.000,-
Sang Komandan pun
memasukan uang yang
terkumpul ke dalam amplop,
menuliskan
keterangan : "
Dari Tuhan di Surga " dan
menyerahkan ke anak
buahnya utk dikembalikan
ke Rio.
Menerima uang tsb, Rio
merasa sangat senang
permintaan nya terkabul,
walaupun yang di terima
hanya Rp 55.000,-.
Rio pun bergegas
mengambil kertas dan
pensil, dan mulai menulis
surat lagi : TERIMA KASIH
TUHAN, TAPI
LAIN KALI KALO MAU KIRIM
UANG, JANGAN LEWAT POLISI,
KARENA KALO LEWAT
POLISI DI POTONG RP 5.000,-
haha










 


Boros Takbir

Oleh Rumadi

USIANYA belum genap 40 tahun. Perawakannya ceking, berpenampilan kalem, murah senyum, selalu memakai kopyah hitam dan berambut panjang sebahu. Dia biasa dipanggil Gus Yusuf, lengkapnya KH. Yusuf Khudhori. Dia kini menjadi pengasuh sebuah pesantren yang cukup tua di Magelang. Masyarakat menyebutnya Pesantren Tegal Rejo. Ada juga yang menyebut Pesantren API (Asrama Pergu

ruan Islam). Gus Yusuf adalah putera Kiai Khudhori, seorang kiai yang sangat dihormati, dimana Gus Dur pernah menjadi santrinya.

Malam itu (30/12/10) Gus Yusuf menjadi bintang dalam haul pertama wafatnya Gus Dur di Ciganjur. Setelah ritual baca tahlil, Ratib Haddad dan surat Yasin selesai, beberapa tokoh memberi tausiyah. Malam itu ada sahabat dekat Gus Dur, Mahfud MD yang mendadak dipanggil kiai haji. Gus Yusuf mendapat giliran bicara berikutnya. Dengan duduk bersila, suara bariton yang teratur, kalimat tertata sambil diselingi guyonan khas pesantren, Gus Yusuf mulai membius ribuan orang yang datang malam itu.

Gus Yus bicara tidak lebih dari 30 menit. Namun, dalam waktu yang pendek itu dia berhasil menyampaikan pesan-pesan keagamaan dengan menggunakan Gus Dur sebagai ikonnya. "Kalau ada orang mengatakan Gus Dur itu rumit dalam beragama, bagi saya itu keliru". Demikian dia mulai membuka cerita. "Gus Dur itu orang yang sangat simple, sederhana dan tidak bertele-tele dalam beragama. Karena, sikap-sikap Gus Dur itu jelas dan tidak abu-abu".

Gus Yusuf juga menyampaikan satu cerita yang menurut pengakuannya sudah berulangkali diceritakan Gus Dur padanya. "Kadang saya bosen mendengarnya. Setiap kali sowan Gus Dur, ini terus yang disampaikan. Tapi kemudian saya renungkan, ternyata hal yang diceritakan Gus Dur itu sangat penting, sehingga pantas kalau terus diulang", kata Gus Yusuf.

Malam itu Gus Yusuf mengulang cerita Gus Dur ketika masih tinggal di Pesantren Tegal Rejo. Suatu hari, ada serombongan orang dari desa sebelah yang ingin bertemu Kiai Khudhori. Gus Dur yang kala itu masih menjadi santri diajak Kiai Khudhori untuk menemui tamu tersebut. Tamu itu mulai menceritakan masalahnya.

Di desa itu ada kekayaan sebagai hasil bondo deso. Warga bersitegang, akan digunakan untuk apa uang tersebut. Sebagian minta supaya uang tersebut digunakan untuk merenovasi masjid; dan sebagian lagi digunakan untuk membeli gamelan karena waktu itu kebetulan ada orang yang menjual seperangkat gamelan dengan harga murah.

Kiai Khudhori tahu bahwa orang-orang yang datang tersebut adalah kelompok orang yang menginginkan agar uang tersebut digunakan untuk merenovasi masjid. Mereka menduga, tokoh agama seperti Kiai Khudhori akan mendukung gagasan mereka. Tapi kiai Khudhori justru berpendapat sebaliknya, "uang tersebut sebaiknya dibelikan gamelan dahulu". Mengapa? Menurut Kiai Khudhori, melalui gamelan bisa dijadikan sarana untuk mengumpulkan banyak orang, termasuk yang belum sholat. "Di pertemuan itulah kita bisa memberi nasehat kepada mereka. Kalau orang sudah mau berkumpul, maka membangun masjid adalah sesuatu yang gampang", kata Kiai Khudhori.

Cerita sederhana yang sering disampaikan Gus Dur dan diulang lagi oleh Gus Yusuf tersebut menunjukkan betapa pesantren, yang diwakili Kiai Khudhori, begitu ramah dengan tradisi lokal yang disimbolisasi melalui gamelan.

Cerita lain yang dikemukakan Gus Yusuf adalah fenomena orang yang sering teriak takbir di jalan-jalan, di forum-forum pertemuan, bahkan takbir sering menjadi ungkapan kebencian. "Kenapa sih sekarang orang kok boros takbir. Sedikit-sedikit takbir. Kalau kiai-kiai dulu, takbir itu ya hanya waktu sholat atau wiridan", kata Gus Yusuf. Kalau dalam fiqih, orang yang mengulang-ulang perbuatan yang sama namanya orang was-was. Ada orang yang takbiratul ihram dalam sholat selalu diulang karena dia ragu apakah takbiratul ihram-nya sudah sah atau belum.

Dalam fiqih, orang yang was-was seperti itu dekat dengan setan, sehingga harus dijauihi. "Jangan-jangan orang yang suka takbir di jalan-jalan itu adalah orang yang was-was dan dekat dengan setan", sindir Gus Yusuf yang disambut tepuk tangan orang-orang yang hadir malam itu.

Dua cerita tersebut menunjukkan betapa sederhananya cara beragama kiai pesantren. Mereka tidak gila simbol Islam, tidak boros takbir. Cara beragama yang sederhana ini pelan-pelan mulai redup diganti dengan beragama yang suka hiruk pikuk.