Kamis, 28 Februari 2013

Al Hikam : Hati Sumber Cahaya



Dalam tulisannya mengenai hati, Syaikh Ahmad Ibn'Athaillah mengatakan bahwa "Tempat terbitnya berbagai cahaya itu adalah hati dan rahasia-rahasianya".

Cahaya ilmu, cahaya ma'rifat dan cahaya tauhid tempat terbit dan memancarnya ada di dalam hati orang-orang yang ma'rifat dan di dalam rahasia-rahasia mereka (di dalam jiwa mereka). Cahaya-cahaya ini merupakan cahaya yang hakiki karena lebih kuat daya pancarnya daripada cahaya yang terpancar dari berbagai macam bintang.

Rasulullah saw. telah bersabda di dalam menceritakan firman Allah :
"Tidak akan memuat Aku bumi-Ku dan langit-Ku, dan bisa memuat Aku hati hamba-Ku yang beriman".

Sebagian orang-orang ma'rifat berkata : "Seandainya Allah menyingkap tempat terbit cahaya hati orang-orang yang menjadi kekasih-Nya, niscaya terlipatlah cahaya matahari dan bulan karena kuatnya cahaya hati mereka".

Asy Syadzili berkata : "Seandainya disingkap cahaya orang mukmin yang maksiat, pasti akan memenuhi seluruh langit dan bumi. Maka bagaimanakah perkiraanmu mengenai cahaya orang mukmin yang ta'at ?". Ketahuilah bahwa cahaya bulan dan matahari masih bisa terkena gerhana dan bisa terbenam. Akan tetapi cahaya hati kekasih Allah tidak mengenal adanya gerhana dan terbenam.Oleh sebab itu Syaikh Ahmad bin 'Athaillah selanjutnya berkata :
"Cahaya yang tersimpan di dalam hati sumbernya dari cahaya yang dating langsung dari berbagai gudang kegaiban".

Cahaya keyakinan yang tersimpan di dalam hati terus bertambah-tambah sinarnya yang bersumber dari cahaya yang datang dari perbendaharaan gaib.
Yaitu berupa cahaya sifat=sifat azali. Apabila Allah telah membuka sifat-sifatNya, maka bertambah-tambahlah cahaya itu yang dihasilkan dari hati para kekasih Allah. Yang demikian itu merupakan suatu petunjuk bahwa Allah telah memberi pertolongan kepada mereka.

Selanjutnya Syaikh Ahmad bin 'Athaillah berkata:

"Cahaya yang diperoleh dengan panca indera bisa membuka kepadamu akan semua keadaan yang terjadi (benda-benda di alam ini), sedang cahaya yang tersimpan di dalam hati bisa membuka kepadamu akan sifat-sifat Allah yang azali".

Cahaya itu ada dua macam, yaitu :

1. Cahaya yang diperoleh dengan panca indera dengan adanya sinar matahari. Maka cahaya ini bisa memperlihatkan barang-barang yang ada di alam raya dan bermacam-macam kedaan manusia. Cahaya ini bukan yang menjadi perhatian orang-orang ahli hakekat, melainkan hanya sebagai petunjuk adanya Allah Yang Maha Pencipta.

2. Cahaya yang tersimpan dalam hati yang disebut sebagai cahaya keyakinan. Cahaya inilah yang bisa membuka sifat-sifat Allah yang azali sehingga menjadi nyata dan terang. Dengan cahaya hati ini
benar-benar oarng menjadi ma'rifat kepada Allah.
Selanjutnya Syaikh Ahmad bin 'Athaillah berkata :
"Terkadang hati terhenti bersama-sama dengan cahaya, sebagaimana terhalangnya nafsu sebab tebalnya benda-benda (syahwat)".

Penghalang hati untuk menuju kepada Allah itu ada dua macam, yaitu :

1. Nurani, yang berupa bermacam-macam ilmu dan ma'rifat. Apabila hati berhenti padanya dan cenderung kepadanya sehingga ilmu dan ma'rifat itu dijadikan pokok tujuannya, maka dia akan terhalang untuk menuju kepada Allah.

2. Zhulmani (kegelapan), yang berupa bermacam-macam keinginan nafsu dan kebiasaan-kebiasaanya. Karena hati masih terpengaruh oleh keinginan-keinginan nafsu inilah maka dia menjadi terhalang untuk
menuju kepada Allah.

Maka hati bisa terhalang oleh berbagai macam cahaya sebagaimana nafsu bias terhalang oleh berbagai kegelapan. Sedang Allah berda di belakang itu semua.

Selanjutnya Syaikh Ahmad bin 'Athaillah berkata :

"Allah menutupi cahaya hati dengan bermacam-macam keadaan lahiriyah karena memuliakannya untuk (tidak) diberikan secara terang atau (khawatir) untuk dipanggil atasannya dengan lisan kemasyhuran".

Allah menutup hati para kekasih-Nya (para wali) sebagai rahmat-Nya kepada sekalian orang-orang yang beriman. Sebab jikalau rahasia kewalian itu terbuka kepada seseorang, pasti akan mewajibkan orang yang sudah terlahir kewaliannya.

---------------------------------------------------------------------
Syaikh Ahmad Ibn' Atahaillah dalam "Al-Hikam" Al -Ustadz Mahfudli Shaly

Tentang Shodaqoh Kepada Mayit


Mungkin sering kita jumpai agenda simbah-simbah atau orang-orangkuno saat malam jum'at,orang-orang kampung bersih rumah, genthong( tempat penampuan air) diisi penuh, rumah dirapikan serapi mungkin...katanya " orang yang meninggal pada malam jum'at pulang ke rumah,sehingga rumah dibersihkan dgn tujuan biar arwah senang melihat keadaan rumah yg rapi dan bersih" kemudian masak yg lebih enak dari biasanya

katanya "ini untuk simbah A,B,C ( yg sdah mninggal) dimakan bersama/ ditukar dengan tetangga ternyata adat itu bukan ispan jempol& asal2an karna ada hadis yg menceritakan tntng kepulangan para arwah tersebut.
وقال صلى الله عليه وسلم : { إن أرواح المؤمنين يأتون في كل ليلة إلى سماء الدنيا ويقفون بحذاءبيوتهم وينادي كل واحد بصوت حزين ألف مرة يا أهلي وأقاربي وولدي يا من سكنوا بيوتنا ولبسوا ثيابنا واقتسموا أموالنا هل منكم من أحد يذكرنا ويفكرنا في غربتنا ونحن في سجن طويل وحصن شديد ؟ فارحمونا يرحمكم الله ولا تبخلوا علينا قبل أن تصيروا مثلنا يا عباد الله إن الفضل الذي في أيديكم كان في أيدينا وكنا لا ننفق منه في سبيل الله وحسابه ووباله عليناوالمنفعة لغيرنا ؛ فإن لم تنصرف أي الأرواح بشيء فينصرفون بالحسرة والحرمان } ا هـ من الجامع الكبير
Bersabda Nabi saw. Sesngghnya Arwah2 kaum mu'minin itu setiap malam mendatangi langit dunia & mereka ( arwah ) berhenti / berdiri dgn terompah mereka pd rumah2 mereka ( selama masih hidup),mereka memangil / menyeru setiap kali seruan dgn suara susah seribu kali seruan.Wahai ahliku& kerabatku& anak2 ku..Whai org yg telah menempati rumahku& memaki baju tinggalanku& yg telah membagi warisan hartaku Adakah dari mu seseorg yg ingat padaku& memikirkan Rantauanku ( merantau )Aku dlm penjara yg sangat lama& dlm benteng yg sangat kuat. Maka Kasianilah aku,maka Alloh akan menghasihi kalian dan jangan lah kamu pelit terhadapku sebelum kalian menjadi seperti aku ( mati ) wahai hamba2 alloh. sesungguhnya apa yang utama di tanganmu itu juga di tanganku.Dan akau tidak menafkah kan nya di jalan alloh dan aku tidak menghitungnya serta perduli terhadapnya( harta ) dan sekarang manfaat nya terhadap selain ku. Maka bila kamu tidak memberikan sesuatu pada arwah2 tadi dengan sesuatu, maka mereka para arwah akan pergi dengan kerugian dan dia akan tercengah.
Jadi,memang demikan maksudnya dia itu minta dido'akan. memang pulang, tapi bagi yang mukmin,, dan minta ditahlilkan juga. apakah sampai pada orang yang sudah mati. Kita lihat hadist di bawah ini:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan,atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Begini, kita jangan hanya melihat hadist diatas saja tapi lihat hadist lain yang mengatakan, bahwa tahlilan, shodaqoh yang diperuntukan untuk mayit itu bisa sampai pada si mayit. kita lihat hadist dibawah ini:
Dalam kitab Nail al Authar juz IV juga disebutkan sebuah hadits soheh yang berbunyi:
وَعَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ اِنَّ أَبِي مَاتَ وَلَمْ يُوْصِ أَيَنْفَعُهُ اِنْ اَتَصَدَّقُ عَنْهُ؟ قَالَ نَعَمْ، (رواه أحمد ومسلم والنساء وابن ماجه)
Dari Abu Hurairah, ia meriwayatkan: Ada laki2 datang kpd Nabi lalu ia berkata: Ayahku telah meninggal dunia& ia tdk berwasiat apa2. Apakah saya bias memberikan manfaat kpdnya jika saya bersedekah atas namanya? Nabi menjawab: Ya, dpt (HR. Ahmad, Muslim, Nasa’I, dan Ibnu Majah).
Hadits tersebut diatas menegaskan bahwa pahala shodakoh itu sampai kpd ahli kubur. Sementara di hadits shahih yg lain dijelaskan bahwa shodakoh takk hanya berupa harta benda saja,tapi juga dpt berwujud bacaan dzikir sprti kalimat la illaha illallah,subhanallah,& lain2 sebgaimana disbtkan dlm hadits shahih berikut ini:
عَنْ اَبِي دَرْأَنْنَاسًا مِنْ اَصْحَابِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوْا لِلنَّبِي ص.م يَارَسُوْلَ اللهِ ذَهَبَ اَهْلِالدُّثُوْرِ بِالْاُجُوْرِ يُصَلُّوْنَ كَمَا تُصَلَّى وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا تَصُوْمُ وَيَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ اَمْوَالِهِمْ قَالَ اَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُوْنَ اِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ (رواه مسبلم،١٦٧٤)

“Dari Abu Dzarr RA,ada beberapa sahabat berkata kpd Nabi SAW,” Ya Rosulullah, org2 yg kaya bisa (beruntung) mendptkan banyak pahala. (Pdhl) mereka shalat seperti kami shalat. Mereka berpuasa seperti kami berpuasa. Mereka bersedekah dgn kelebihan harta mereka. Nabi SAW menjawab, “ Bukankah Allah SWT telah menyediakan untukmu sesuatu yg dpt kamu sedekahkan? Sesngghnya setiap satu tasbih (yg kamu baca) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah,&setiap tahlil adalah sedekah.” (HR. Muslim:1674)

Dalam hadits lain disebutkan:
وَعَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ: تَصَدَّقُوْا عَلَى اَنْفُسِكُمْ وَعَلَى اَمْوَاتِكُمْ وَلَوْ بِشُرْبَةِ مَاءٍ فَاِنْ لَمْ تَقْدِرُوْا عَلَى ذَالِكَ فَبِأَيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى فَاِنْ لَمْ تَعْلَمُوْا شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ فَادْعُوْا لَهُمْ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ فَاِنَّ اللهَ وَعَدَكُمُ اْلاِجَابَةِ.
Sabda Nabi: Bersedekahlah kalian untuk diri kalian dan orang-orang yang telah mati dari keluarga kalian walau hanya air setejuk. Jika kalian tak mmampu dengan itu, bersedekahlah dengan ayat-ayat suci al-Qur’an, berdoalah untuk mereka dengan memintakan ampunan dan rahmat. Sungguh, Allh telah berjanji akan mengabulkan doa kalian.
Adzarami dan Nasa’i juga meriwayatkan hadis tentang tahlil dari Ibnu ‘Abbas RA.
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اَعَانَ عَلَى مَيِّتٍ بِقِرَائَةٍ وَذِكْرٍ اِسْتَوْجَبَ اللهُ لَهُ الْجَنَّةَ. (رواه الدارمى والنساء عن ابن عباس.)
Rasululloh bersabda: Siapa menolong mayit dengan membacakan ayat-ayat al-Qur’an dan Zikir, Alloh akan memastikan surga baginya.(HR.ad-Darimy dan Nasa’i dari Ibnu Abbas).
Hadis diatas juga didukung oleh hadis Nabi yang diriwayatkan oleh ad-Daroqutni dari Anas bin Malik:
رَوَى اَبُوْ بَكْرٍالنَحَادِ فِىْ كِتَابِ السُّنَنِ عَنْ عَلِى بْنِ اَبِي طَالِبِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُاَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ مَرَّ بَيْنَ اْلمَقَابِرِ فَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ اِحْدَى عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ وَهَبَ اَجْرَهَا لِلْاَمْوَاتِ أُعْطِيَ مِنَ اْلاَجْرِ بِعَدَدِ اْلاَمْوَاتِ.
Diriwayatkan oleh Abu Bakar an-Najjad dalam kitab Sunan bersumber dari Ali bin Abi Thalib, ia mengatakan , Nabi bersabda: Siapa lewat diantara batu nisan, lalu membaca surat al-Ikhlas11 kali dan menghadiahkan pahalanya untuk yang meninggal maka Alloh akan mengabulkannya.
Dalil-dalil inilah yang dijadikan dasar oelh para ulama tentang sampainya pahala bacaan al-Qur’an,tasbih, tahlil, shalawat yang dihadiahkan kepada orang yang meninggal dunia. Begitu pula dengansedekah dan amal baik lainnya.
Bahkan Ibnu Taimiyah mengatakan dalam kitabFatawa-nya, “sesuai dengan kesepakatan para Imam bahwa mayitdapat memperoleh manfaat dari semua ibadah, baik ibadah badaniyah seperti shalat,puasa, membaca al-Qur’an, ataupun ibadah maliyah seperti sedekah dan lain-lainnya. Hal yang sama juga berlaku bagi orang yang berdoa dan membaca istighfar untuk mayit.”(Hukm al-Syari’ah al-Islamiyah fi Ma’tam al_Arba’in,hal 36).
Jadi Tahlilan,terus shodakoh untuk mayit hukumnya itu boleh dan ditrima.Tapi itu jelas bid'ah, karna di zaman nabi tidak ada tahlilan, tapi tidak bid'ah keji atau bid'ah dholalah.

Rabu, 27 Februari 2013

Ketika Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Assallamu Allaikum wrwb

Pernahkah kamu berharap pada seorang mahluk, Kamu berharap kebaikannya, Kamu berharap kehadirannya, Kamu berharap perhatiannya, Bahkan kamu berharap kasih sayangnya, Tapi..

Seringkah engkau dikecewakannya? Seringkah engkau menangis karenanya? Seringkah engkau merasa disakiti olehnya? Lalu…

Pantaskah kamu masih berharap padanya? Ataukah dalam kecewa, dalam tangis dan dalam sakit itu Adakah kebahagiaan yang kamu dapatkan? Apakah dengan kecewamu, dia berubah menjadi baik? Apakah dengan tangismu, dia akan hadir? Ataukah dengan perasaan sakit hatimu, dia menyayangimu? Mungkin jawabannya TIDAK, Jadi…

Bukankah ini saatnya untuk kamu pergi? Bukankah ini saatnya untuk kamu berpaling? Bukankah ini saatnya untuk kamu menjauh? Setidaknya pergilah dari rasa kecewa itu… Berpalinglah untuk tetesan airmata itu Menjauhlah untuk membahagiakan hatimu.. Sulitkah itu bagimu? Jika “YA”,

Pikirkanlah betapa dia tak pernah mengharapkanmu.. Pikirkanlah betapa dia tak pernah mempedulikanmu.. Pikirkanlah betapa dia bahkan tak sempat memikirkanmu..

Tanpa kamu sadari… Kamu telah hanyut dalam harapan, impian dan angan kosongmu. Sedikit kata darinya sudah membuat kamu merasa diperhatikan, Sedikit senyum darinya sudah membuat kamu pikir dia peduli, Sedikit kabar darinya sudah membuat kamu terlena, tak beranjak… Ya… semua yg sedikit itu saja sudah membuat kamu bahagia… Yg sedikit bahkan semu, sudah membuat kamu bertahan..

Untuk apa? Untuk sesuatu yang KOSONG,
Untuk sesuatu yang tak pernah dia pikirkan, Untuk sesuatu yang bukan apa-apa untuknya, Untuk sesuatu yang DIA TIDAK TAHU Atau sesuatu yang dia TAK AKAN PEDULI Dan esok, lusa, nanti ataupun detik yang akan datang… Kamu akan kecewa, menagis dan sakit hati lagi… Tidakkah semua itu CUKUP?

Saatnya kamu melangkah … Mendaki di terjal kehidupan dan mengalir bagai sungai Jangan bertahan untuk harapan yg tak pernah ada… Jangan menunggu hembus angin yang lalu… Jangan sampai kamu terbangun dalam keadaan remuk,

Selagi kamu bisa berdiri… Selagi air matamu belum habis, Selagi hatimu belum bernanah.. Biarlah sakitnya terasa hari ini.. Esok luka itu akan mengering, Biarlah dia menjadi bagian kenanganmu, Tapi dia tak lagi menghancurkanmu

Bahkan ketika kamu pergi Dia tak akan menangisimu Mungkin dia tak menyadarinya Karena kamu bukan yang diharapkannya, Kamu bukan yang dipikirkannya, Kamu bukanlah apa-apa baginya, Jangan pernah menoleh lagi untuknya Jika hari ini kamu sadar siapa dia
Besok, tahun depan, sepuluh tahun lagi Dia akan menjadi orang yang sama, Yang tak pernah mempedulikanmu Yang hanya memberimu sedikit kata, sedikit senyum Yang akan menumpahkan air matamu, Menggoreskan rasa kecewa, Dan mengguratkan luka dihatimu…. Maka…. PERGILAH , PERGILAH…

Biarkan hari ini adalah akhir kecewa kamu Biarkanlah airmata itu menetes sederasnya Dan biarlah rasa sakit itu menghunjam dalam Tapi itu yang TERAKHIR untuknya…. Itu yang TERAKHIR… Ingat... Tuhan tidak menciptakan satu orang didunia ini.. Bukalah hatimu, Diluar sana masih banyak yang
membutuhkanmu.. Cukuplah dirimu untuk mereka yang siap
menerima cintamu.. Yang lebih menghargai cintamu.

Hobi Mengoleksi Amalan



 Darmo paling senang kalau ia mendapatkan amalan dan ijazah wirid dari seorang Kyai. Bahkan ia benar-benar maniak “wirid”. Bukunya ada tiga jilid, semua isinya tulisan tentang wirid, doa, dzikir, macam-macam, sampai soal pelet dan gendam pun ada di catatannya.
⁠Buku itu ditenteng kemana-mana, layaknya tukang kredit. Suatu hari ia ingin pamer pada kawan lamanya yang s

udah sekian tahun tidak bertemu, Kunto, nama kawan itu.
⁠
⁠“Kun, bagaimana perkembanganmu, apa kamu sudah punya amalan untuk pegangan hidupmu?”
⁠“Saya nggak punya apa-apa Mo, saya hanya punya satu saja …”
⁠“Lah, amalan kok satu, kurang sempurna Kun. Kalau saya nih…” katanya sambil menyodorkan tiga buku catatan amalan itu.
⁠“Kamu mestinya jadi sarjana Mo..”
⁠“Wah saya sudah S 7. Mestinya sudah lebih professor soal amalan…”
⁠Kunto hanya senyum-senyum saja.
⁠“Jadi kamu sudah bisa apa
⁠saja Mo?”
⁠“Jangankan samurai, peluru pun sudah nggak mempan.
⁠Orang sekampung juga sudah mulai tahu kedigdayaanku ini…”
⁠“Sakti donk kamu?”
⁠“Begitulah…”
⁠ “Sesakti-sakti kamu, kalau ketemu isterimu kamu juga sudah takut bukan main….”
⁠
⁠“Kok tahu kamu?”
⁠“Tau saja. Apa artinya kesaktianmu….kalau begitu”
⁠“Bukan itu Kun. Wirid saya juga lengkap. Semua kalau diamalkan kita menjadi paling sempurna. Ibarat bumbu paling lengkap punyaku. Tapi kalau kamu kan Cuma satu….”
⁠“Lha iya. Kalau kamu mau masak, semua bumbu kamu masukkan dalam masakan, jadinya rasa apa Mo…”
⁠Darmo agak kebingungan.
⁠“Iya..ya….Rasa apa ya? Tapi kan paling top kita…”
⁠“Top apanya, paling –paling malah dibuang semua, karena rasanya bukan masakan lezat, malah jadi kayak jamu…mendem…siapa mau makan?”
⁠Darmo memandangi begitu lama tiga catatan bukunya tak berkedip.
⁠“Kalau kamu Cuma satu, itu amalan apa?”
⁠“Akh sederhana. Satu itu kan Gusti Allah, tauhid…udah..”
⁠Darmo memandangi wajah Kunto dalam-dalam. Ia bergegas memasukkan buku catatannya dalam tasnya. Ia tampak gelisah bukan main. Wajahnya pucat.
⁠“Kun, kapan-kapan aku kesini lagi….”
⁠“Pintu terbuka untukmu kawan. Syukur-syukur kamu sudah jadi dukun…”

Azab Kubur

Bismillahirrahmanirrahim..

Dia adalah seorang pemuda berusia 18 tahun yang meninggal di salah satu rumah sakit di oman. Mayat pemuda tersebut digali kembali dari kuburnya setelah 3 jam dimakamkan yang di saksikan oleh ayahnya. Pemuda tersebut meninggal dirumah sakit dan setelah dimandikan di makamkan secara islam di hari itu juga. Tetapi setelah pemakaman ayahnya merasa ragu atas diagnosa dokter dan menginginkan untuk diidentifikasi kebenaran penyebab kematianya.

Seluruh kerabat dan teman-temannya begitu terkejut saat mereka melihat kondisi mayat. Mayat tersebut begitu berbeda dalam 3 jam, dia berubah tampak keabu-abuan seperti orang yang sudah tua. Dengan tampak jelas bekas siksaan dan pukulan yang amat keras. dan dengan tulang-tulang kaki dan tangan yang hancur begitu juga ujung ujungnya sehingga menekan kebadannya.

Seluruh badan dan mukanya memar. Matanya yang terbuka memerlihatkan ketakutan, kesakitan dan keputusasaan. Darah yang begitu jelas menandakan bahwa pemuda tersebut sedang mendapatkan siksaan yang amat berat.

Sebagai penutup dari orang yang meninggal tersebut semuanya ditujukan kepada Ilmu pengetahuan tentang Islam yang mana tidak dapat dipungkiri lagi bahwa siksa kubur itu benar adanya seperti yang diperingatkan oleh Allah Subhanahu wata'ala melalui Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam.

Pesan :

Dijelaskan oleh Rasulullah SAW bahwa itu adalah tentang pertolongan Allah SWT ketika seseorang menghadapi azab kuburnya. Dari Al-Barra’ bin Azib dari Rasulullah SAW bahwa ketika seorang mukmin didudukkan di dalam kuburnya, didatangilah oleh malaikat, kemudian dia bersyahadat tiada tuhan kecuali Allah SWT dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah SAW, maka itulah makna bahwa Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh . (HR. Bukhari kitab Janaiz Bab Maa Jaa Fi azabil Qabri hn. 1280)

Ada sebuah doa yang dipanjatkan oleh beliau dan diriwayatkan dengan shahih dalam shahih Al-bukhari. Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW berdoa dalam shalat, “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari azab kubur” (HR. Bukhari kitab azan bab doa sebelum salam hn. 789)

Dalam kitab shahihnya itu, Al-Bukhari pun membuat satu bab khusus azab kubur. Dari Aisyah ra bahwa seorang wanita yahudi mendatanginya dan bercerita tentang azab kubur dan berkata, “Semoga Allah SWT melindungimu dari azab kubur”. Lalu Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang keberadaan azab kubur itu. Rasulullah SAW menjawab, “Ya, azab kubur itu ada”. Aisyah ra berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan shalat kecuali beliau berlindung kepada Allah SWT dari azab kubur”. (HR. Bukhari kitab Janaiz Bab Maa Ja’a Fi azabil Qabri hn. 1283)

Dalam kitab shahihnya itu juga , Al-Bukhari membuat satu bab khusus tentang berlindung kepada Allah SWT dari azab kubur.
Dari Musa bin ‘Uqbah berkata bahwa telah menceritakan kepada anak wanita Khalid bin Said bin Al-Ash ra bahwa dia telah mendengar Rasulullah SAW berlindung kepada Allah SWT dari azab kubur. (QS. (HR. Bukhari kitab Janaiz Bab At-Ta�awwuz min azabil Qabri hn. 1287)

Dari Aisyah ra bahwa beliau bertanya kepada Rasulullah SAW tentang apakah manusia diazab di dalam kubur, lalu Rasulullah SAW menjawab, “Aku berlindung kepada Allah SWT dari hal itu (azab kubur). (HR. Bukhari kitab jum’at bab berlindung kepada Allah SWT dari azab kubur ketika gerhana hn. 991, 996)

Kesimpulan : Umat Islam sejak masa Rasulullah SAW hingga hari ini telah berijma’ (bersepakat) bahwa azab kubur itu adalah sesuatu yang pasti adanya. Sehingga mereka yang mengingkarinya hanya dua kemungkinannya. Pertama, mereka kurang dalam dan luas dalam mempelajari ayat dan hadits. Kedua, mereka tahu ada dalil dan nash yang sharih tapi mengingkarinya. Lepas dari motivasinya masing-masing.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan merahmati kita.

mohon dengan ikhlas meng-klik "bagikan"/"share" artikel ini Agar bisa bermanfaat bagi saudara mukmin yg lain

HADITS MEMBACA SURAH YASIIN UNTUK ORANG WAFAT



عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ اَلنَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اقْرَؤُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ (وأخرجه أحمد 20316 وأبو داود رقم 3121 وابن ماجه رقم 1448 وابن حبان رقم 3002 والطبرانى رقم 510 والحاكم رقم 2074 والبيهقى رقم 6392 وأخرجه أيضاً الطيالسى رقم 931 وابن أبى شيبة رقم 10853 والنسائى فى الكبرى رقم 10913)

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal dan al-Hakim melalui jalur 1) Sulaiman bin Tharkhan al-Taimi, dan 2) Abu Utsman dari ayahnya Ma'qil bin Yasar.

Albani (ulama wahabi) berkata dalam kitabnya Irwa' al-Ghalil hadis ini dlaif, karena mengandung tiga illat; 1) Abu Utsman dan 2) ayahnya, adalah perawi yang tidak diketahui keadaannya. Dan 3) hadis ini mudltharib, terjadi kesimpangsiuran. (Irwa' al-Ghalil 3/15)

Tentu saja pandangan Albani ini ditolak. Hadis ini telah dinilai sahih oleh Ibnu Hibban (al-Ihsan no 3002) dan dinilai hasan oleh al-Hafidz al-Mundziri (Takhrij Ahadits al-Muhadzdzab, sebagaimana dikutip oleh al-Hafidz Ibnu al-Mulaqqin dalam al-Badzr al-Munir 5/194) dan al-Hafidz as-Suyuthi dalam al-Jami' ash-Shaghir 1/52. Sementara al-Hakim dan adz-Dzahabi tidak mengomentarinya.

Meneliti perawi sanad.

1) Sulaiman bin Tharkhan al-Taimi telah disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Taqrib al-Tahdzib (2575) masuk dalam generasi keempat, yaitu generasi tabi'in yang menjumpai sejumlah orang sahabat. Sehingga ada dugaan kuat, bahwa 2) Abu Utsman yang menjadi sumber hadis tersebut adalah termasuk generasi senior tabi'in. Ibnu Hibban memasukkan Abu Utsman ini dalam golongan perawi yang dipercaya dalam kitab al-Tsiqat (7/664) dan menilai sahih hadisnya. Sedangkan perawi darinya, yaitu Sulaiman al-Taimi juga perawi tsiqah, dipercaya. Dengan demikian kecenderungan menerima hadisnya memiliki dasar yang kuat.

Disisi lain hadis ini memiliki penguat eksternal (syawahid). Ahmad bin Hanbal (Diriwayatkan juga oleh Ibnu Sa'd dalam al-Thabaqat 7/443 dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنِي أَبِي ثَنَا أَبُوْ الْمُغِيْرَةِ ثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي الْمَشِيْخَةُ اَنَّهُمْ حَضَرُوْا غُضَيْفَ بْنَ الْحَرْثِ الثَّمَالِيَ حِيْنَ اشْتَدَّ سَوْقُهُ فَقَالَ هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السُّكُوْنِي فَلَمَا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ فَكَانَ الْمَشِيْخَةُ يَقُوْلُوْنَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا قَالَ صَفْوَانُ وَقَرَأَهَا عِيْسَى بْنُ الْمُعْتَمِرِ عِنْدَ بْنِ مَعْبَدٍ (مسند أحمد بن حنبل 17010)
"Para guru bercerita bahwa mereka mendatangi Ghudlaif bin Hars al-Tsamali ketika penyakitnya sangat parah. Shafwan berkata: Adakah diantara anda sekalian yang mau membacakan Yasin? Shaleh bin Syuraih al-Sukuni yang membaca Yasin. Setelah ia membaca 40 dari Surat Yasin, Ghudlaif meninggal. Maka para guru berkata: Jika Yasin dibacakan di dekat mayit maka ia akan diringankan (keluarnya ruh) dengan Surat Yasin tersebut. (Begitu pula) Isa bin Mu'tamir membacakan Yasin di dekat Ibnu Ma'bad" (Musnad Ahmad No 17010)

Al-Hafidz Ibnu Hajar menilai atsar ini:

وَهُوَ حَدِيْثٌ حَسَنُ اْلإِسْنَادِ (الإصابة في تمييز الصحابة للحافظ ابن حجر 5 / 324)
"Riwayat ini sanadnya adalah hasan" (al-Ishabat fi Tamyiz al-Shahabat V/324)

Ahli hadis al-Hafidz Ibnu Hajar juga menilai riwayat amaliyah ulama salaf membaca Yasin saat Ghudlaif akan wafat sebagai dalil penguat (syahid) dari hadis riwayat Ma'qil bin Yasar yang artinya: Bacakanlah Surat Yasin di dekat orang yang meninggal. (Raudlah al-Muhadditsin X/266)

Al-Hafidz Ibnu Hajar memastikan Ghudlaif ini adalah seorang sahabat:
هَذَا مَوْقُوْفٌ حَسَنُ اْلإِسْنَادِ وَغُضَيْفٌ صَحَابِىٌّ عِنْدَ الْجُمْهُوْرِ وَالْمَشِيْخَةُ الَّذِيْنَ نَقَلَ عَنْهُمْ لَمْ يُسَمُّوْا لَكِنَّهُمْ مَا بَيْنَ صَحَابِىٍّ وَتَابِعِىٍّ كَبِيْرٍ وَمِثْلُهُ لاَ يُقَالُ بِالرَّأْىِ فَلَهُ حُكْمُ الرَّفْعُ (روضة المحدثين للحافظ ابن حجر 10 / 266)
"Riwayat sahabat ini sanadnya adalah hasan. Ghudlaif adalah seorang sahabat menurut mayoritas ulama. Sementara 'para guru' yang dikutip oleh Imam Ahmad tidak disebut namanya, namun mereka ini tidak lain antara sahabat dan tabi'in senior. Hal ini bukanlah pendapat perseorangan, tetapi berstatus sebagai hadis yang disandarkan pada Rasulullah (marfu')" (Raudlah al-Muhadditsin X/266)

Atsar dari Ghudlaif al-Tsumali diatas memiliki jalur lain yang diriwayatkan oleh Ibnu 'Asakir dalam Tarikhh Dimasyqi (48/82) dari jalur Said bin Manshur, dari Faraj bin Fudlalah dari Asad bin Wada'ah. Sanad atsar ini lemah, karena Faraj bin Fudlalah bin Nu'man dlaif. Akan tetapi kelemahan sanad ini diperkuat oleh sanad Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Sa'd diatas yang dinilai hasan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar.

al-Hafidz Ibnu Hajar juga meriwayatkan hadis tentang bacaan Surat Yasin:

وقال ابن أبي عمر حدثنا عبد المجيد بن أبي رواد عن مروان بن سالم عن صفوان بن عمرو عن شريح بن عبيد عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم « ما من ميت يموت ويقرأ عنده يس إلا هون الله تعالى عليه » (المطالب العالية للحافظ ابن حجر العسقلاني 816)

Hadis ini dinilai dlaif oleh al-Hafidz al-Bushiri dalam Mukhtashar al-Ithaf, karena lemahnya Marwan bin Salim. Akan tetapi hadis ini diperkuat dengan hadis yang diriwayatkan Ashabus Sunan dan disahihkan oleh Ibnu Hibban diatas.

Berikut kutipan selengkapnya dari kitab Musnad Ahmad mengenai pembacaan Yasin di samping orang yang akan meninggal yang telah menjadi amaliyah ulama terdahulu dan terus diamalkan oleh warga NU:

ثُمَّ قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ حَدَّثَنَا عَارِمٌ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِي عَنْ أَبِي عُثْمَانَ -وَلَيْسَ بِالنَّهْدِي- عَنْ أَبِيْهِ عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "اِقْرَؤُوْهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ" يَعْنِي يس. وَرَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالنَّسَائِي فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْمُبَارَكِ بِهِ إِلاَّ أَنَّ فِي رِوَايَةِ النَّسَائِي عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ مَعْقِلٍ بْنِ يَسَارٍ. وَلِهَذَا قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ مِنْ خَصَائِصِ هَذِهِ السُّوْرَةِ أَنَّهَا لاَ تُقْرَأُ عِنْدَ أَمْرٍ عَسِيْرٍ إِلاَّ يَسَّرَهُ اللهُ. وَكَأَنَّ قِرَاءَتَهَا عِنْدَ الْمَيِّتِ لِتُنْزَلَ الرَّحْمَةُ وَالْبَرَكَةُ وَلِيَسْهُلَ عَلَيْهِ خُرُوْجُ الرُّوْحِ وَاللهُ أَعْلَمُ. قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ حَدَّثَنَا أَبُوْ الْمُغِيْرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ قَالَ كَانَ الْمَشِيْخَةُ يَقُوْلُوْنَ إِذَا قُرِئَتْ - يَعْنِي يس- عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا (تفسير ابن كثير 6 / 562)
"Imam Ahmad berkata (dengan meriwayatkan sebuah) bahwa Rasulullah Saw bersabda: Bacalah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal (HR Abu Dawud dan al-Nasa'i dan Ibnu Majah). Oleh karenanya sebagian ulama berkata: diantara keistimewaan surat yasin jika dibacakan dalam hal-hal yang sulit maka Allah akan memudahkannya, dan pembacaan Yasin di dekat orang yang meninggal adalah agar turun rahmat dan berkah dari Allah serta memudahkan keluarnya ruh. Imam Ahmad berkata: Para guru berkata: Jika Yasin dibacakan di dekat mayit maka ia akan diringankan (keluarnya ruh) dengan bacaan Yasin tersebut" (Ibnu Katsir VI/342)

Terkait dengan tuduhan anti tahlil yang mengutip pernyataan beberapa ulama bahwa sanad hadis riwayat Ma'qil ini goncang, redaksi hadisnya (matan) tidak diketahui dan sebagainya, maka cukup dibantah dengan pendapat ahli hadis al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Bulugh al-Maram I/195:

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ اَلنَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اقْرَؤُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ (وأخرجه أحمد 20316 وأبو داود رقم 3121 وابن ماجه رقم 1448 وابن حبان رقم 3002 والطبرانى رقم 510 والحاكم رقم 2074 والبيهقى رقم 6392 وأخرجه أيضاً الطيالسى رقم 931 وابن أبى شيبة رقم 10853 والنسائى فى الكبرى رقم 10913)
"Dari Ma'qil bin Yasar bahwa Rasulullah Saw bersabda: 'Bacalah surat Yasin di dekat orang-orang yang meninggal.' Ibnu Hajar berkata: Diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Nasa'i dan disahihkan oleh Ibnu Hibban" (Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad No 20316, Abu Dawud No 3121, Ibnu Majah No 1448, al-Thabrani No 510, al-Hakim No 2074, al-Baihaqi No 6392, al-Thayalisi No 931, Ibnu Abi Syaibah No 10853 dan al-Nasa'i dalam al-Sunan al-Kubra No 10913)

Dalam kitab tersebut al-Hafidz Ibnu Hajar tidak memberi komentar atas penilaian sahih dari Ibnu Hibban. Sementara dalam kitab beliau yang lain, Talkhis al-Habir II/244, kendatipun beliau mengutip penilaian dlaif dari Ibnu Qattan dan al-Daruquthni, di saat yang bersamaan beliau meriwayatkan atsar dari riwayat Imam Ahmad diatas.

Oleh Ustadz Muhammad Ma'ruf Khozin (Nara Sumber "Hujjah Aswaja" di TV9, Anggota Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur)

SHALATNYA PARA ULAMA SETIAP HARI

1. Imam al-Bukhari (15126 rakaat)

وقال الفربري قال لي البخاري: ما وضعت في كتابي الصحيح حديثاً إلا اغتسلت قبل ذلك وصليت ركعتين
(طبقات الحفاظ - ج 1 / ص 48 وسير أعلام النبلاء 12 / 402 وطبقات الحنابلة 1 / 274، وتاريخ بغداد 2 / 9، وتهذيب الاسماء واللغات 1 / 74 ووفيات الاعيان 4 / 190، وتهذيب الكمال 1169، وطبقات السبكي 2 / 220، ومقدمة الفتح 490 وتهذيب التهذيب 9 / 42)
“al-Farbari berkata bahwa al-Bukhari berkata: Saya tidak meletakkan 1 hadis pun dalam kitab Sahih saya, kecuali saya mandi terlebih dahulu dan saya salat 2 rakaat”
(Diriwayatkan oleh banyak ahli hadis, diantaranya dalam Thabaqat al-Huffadz, al-Hafidz as-Suyuthi,1/48, Siyar A’lam an-Nubala’, al-Hafidz adz-Dzahabi 12/402, Thabaqat al-Hanabilah, 1/274, Tarikh Baghdad 2/9, Tahdzib al-Asma, Imam an-Nawawi, 1/74, Wafayat al-A’yan 4/190, Tahdzib al-Kamal, al-Hafidz al-Mizzi 1169, Thabaqat as-Subki 2/220, dan al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Muqaddimah al-Fath 490 dan at-Tahdzib 9/42)

Sedangkan hadis yang tertera dalam Sahih al-Bukhari berjumlah 7563 hadis. Maka salat yang beliau lakukan juga sesuai jumlah hadis tersebut atau 15126 (lima belas ribu seratus dua puluh enam) rakaat.

وروينا عن عبد القدوس بن همام، قال: سمعت عدة من المشايخ يقولون: حول البخارى تراجم جامعه بين قبر النبى - صلى الله عليه وسلم - ومنبره، وكان يصلى لكل ترجمة ركعتين (تهذيب الأسماء - (1 / 101)
“Kami meriwayatkan dari Abdul Quddus bin Hammam, bahwa ia mendengar dari para guru yang berkata seputar al-Bukhari ketika menulis bab-bab salam kitab Sahihnya diantara makam Nabi dan mimbarnya, dan al-Bukhari salat 2 rakaat dalam tiap-tiap bab” (Tahdzib al-Asma’, an-Nawawi, 1/101)

2. Imam Malik bin Anas (800 rakaat)

حدثنا أبو مصعب و أحمد بن إسماعيل قالا مكث مالك بن أنس ستين سنة يصوم يوماً ويفطر يوماً وكان يصلي في كل يوم ثمانمائة ركعة (طبقات الحنابلة 1 / 61)
“Abu Mush’ab dan Ahmad bin Ismail berkata: Malik bin Anas berpuasa sehari dan berbuka sehari selama 60 tahun dan ia salat setiap hari 800 rakaat” (Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la, 1/61)

3. Imam Ahmad Bin Hanbal (300 rakaat)

- قال ابو يحي وسمعت بدر بن مجاهد يقول سمعت أحمد بن الليث يقول سمعت أحمد بن حنبل يقول إنى لأدعو الله للشافعى فى صلاتى منذ أربعين سنة يقول اللهم اغفر لى ولوالدى ولمحمد بن إدريس الشافعى (طبقات الشافعية الكبرى للسبكي ج 3 / ص 194 ومناقب الشافعي للبيهقي 2-254)
“Sungguh saya berdoa kepada Allah untuk Syafii dalam salat saya sejak 40 tahun. Doanya: Ya Allah ampuni saya, kedua orang tua saya dan Muhammad bin Idris asy-Sfafii” (Thabaqat al-Syafiiyah al-Kubra, as-Subki, 3/194 dan Manaqib asy-Syafii, al-Baihaqi, 2/254)

- قال عبد الله بن أحمد: كان أبي يصلي في كل يوم وليلة ثلاث مئة ركعة. فلما مرض من تلك الأسواط أضعفته، فكان يصلي في كل يوم وليلة مئة وخمسين ركعة، وقد كان قرب من الثمانين (مختصر تاريخ دمشق لابن رجب الحنبلي ج 1 / ص 399)
“Abdullah bin Ahmad berkata: Bapak saya (Ahmad bin Hanbal) melakukan salat dalam sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Ketika beliau sakit liver, maka kondisinya melemah, beliau salat dalam sehari semalam sebanyak 150 rakaat, dan usianya mendekati 80 tahun” (Mukhtashar Tarikh Dimasyqa, Ibnu Rajab al-Hanbali, 1/399)

جعفر بن محمد بن معبد المؤدب قال: رأيت أحمد بن حنبل يصلي بعد الجمعة ست ركعات ويفصل في كل ركعتين (طبقات الحنابلة 1 / 123)
“Jakfar bin Muhammad bin Ma’bad berkata: Saya melihat Ahmad bin Hanbal salat 6 rakaat setelah Jumat, masing-masing 2 rakaat” (Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la, 1/123)

4. Imam Basyar bin Mufadlal (400 rakaat)

بشر بن المفضل بن لاحق البصري الرقاشي أبو إسماعيل. قال أحمد: إليه المنتهى في التثبت بالبصرة وكان يصلى كل يوم أربعمائة ركعة ويصوم يوماً ويفطر يوماً وكان ثقة كثير الحديث مات سنة ست وثمانين ومائة (طبقات الحفاظ 1 / 24)
“Imam Ahmad berkata tentang Basyar bin Mufadzal al-Raqqasyi: Kepadanyalah puncak kesahihan di Bashrah. Ia salat setiap hari sebanyak 400 rakaat, ia puasa sehari dan berbuka sehari. Ia terpercaya dan memiliki banyak hadis, wafat 180 H” (Thabaqat al-Huffadz, al-Hafidz as-Suyuthi,1/24)

5. Cucu Sayidina Ali (1000 rakaat)

ذو الثفنات علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب زين العابدين سمي بذلك لأنه كان يصلى كل يوم ألف ركعة فصار في ركبتيه مثل ثفنات البعير (تهذيب الكمال - 35 / 41)
“Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, hiasan ahli ibadah, disebut demikian karena ia salat dalam sehari sebanyak 1000 rakaat, sehingga di lututnya terdapat benjolan seperti unta” (Tahdzib al-Asma’, al-Hafidz al-Mizzi, 35/41)

وقال مالك بلغني أنه (علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب) كان يصلي في اليوم والليلة ألف ركعة إلى أن مات (تذكرة الحفاظ للذهبي 1 / 60)
“Malik berkata: Telah sampai kepada saya bahwa Ali bin Husain salat dalam sehari semalam 1000 rakaat sampai wafat” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-Dahabi, 1/60)

____________
Oleh Ustadz Muhammad Ma'ruf Khozin (Nara Sumber "Hujjah Aswaja" di TV9, Anggota Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur)

Minggu, 17 Februari 2013

Tentang Taubat

Oleh : Habib Munzir al-Musawa


Saudaraku yang dimuliakan Allah,
Allah Swt selalu memuliakan hamba
hamba Nya dan memuliakan mereka
yang berdosa jika ingin bertaubat
kepada Allah. Sebagaimana firman
Allah di dalam hadits qudsi riwayat
Shahih Bukhari “ketika seseorang
hamba Ku berbuat dosa dan
kesalahan lalu ia beristighfar kepada
Ku dan bertaubat”. Allah menjawab
“hamba Ku itu tahu, ia punya Tuhan
Pemelihara yang Mengampuni
dosanya dan Memeliharanya maka
Aku ampuni dosanya”. Kenapa?
setelah berbuat dosa ia bertaubat
kepada Allah dengan betul betul
keinginan bukan taubat yang main
main.
Besar keinginannya untuk tidak
melakukan dosa tapi barangkali
syaitan berhasil menjebaknya lagi, ia
terjebak lagi ke dalam dosa, kata
Rasul saw. Lalu Rasul saw
meneruskan “lalu Allah melihat
hamba ini berdosa lagi, maka Allah
pun melihat hamba Nya beristighfar
dan bertaubat lagi tidak putus asa
dari Kasih Sayang Allah” maka Allah
menjawab lagi “hamba Ku, hamba
Ku” kata Allah. “dia tahu ada Tuhan
Pemelihara yang Memeliharanya dan
bisa memaafkan kesalahannya,
Kuampuni dosanya”.
Demikian saudaraku, Imam Ibn
Hajar Al Asqalani di dalam kitabnya
Fathul Bari bisyarah Shahih Bukhari
menjelaskan bahwa dalam salah satu
riwayat para ulama mengatakan
“berkali kali ia terus berbuat dosa
lantas bertaubat kepada Allah dan
Allah tidak pernah bosan”.
Yang bosan adalah kita, sudah
berdosa taubat sekali, berdosa lagi,
ahh..sudah nanti kalau saya taubat
lagi nanti dosa lagi. Jangan bosan
berbuat taubat, justru kita harus
bosan berbuat dosa bukan taubat
yang ditinggalkan tapi dosa yang
mestinya ditinggalkan. Tapi kalau
dosa tidak bisa ditinggalkan jangan
tobat ditinggalkan juga. Biarkan
taubat terus menghiasi setiap kali
kita berdosa dan teruskan taubat
kita, 1X, 2X, 3X, Allah tidak akan
diam merubah keadaan kita menjadi
lebih baik dan lebih sempurna

Shalawat Atas Nabi Muhammad SAW

Oleh: Sayyid Hasan Husen Assagaf
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw
bersabda,
“Disaat aku tiba di langit di malam
Isra’
Miraj, aku melihat satu malaikat
memiliki 1000 tangan, di setiap
tangan
ada 1000 jari. Aku melihatnya
menghitung jarinya satu persatu.
Aku
bertanya kepada Jibril as,
pendampingku,
‘Siapa gerangan malaikat itu, dan
apa
tugasnya?.’
Jibril berkata,
Sesungguhnya dia adalah malaikat
yang diberi tugas untuk menghitung
tetesan air hujan yang turun dari
langit
ke bumi.’
Rasulullah saw bertanya kepada
malaikat tadi,
‘Apakah kamu tahu berapa bilangan
tetesan air hujan yang turun dari
langit
ke bumi sejak diciptakan Adam as?.’
Malaikat itupun berkata,
‘Wahai Rasulullah saw, demi yang
telah
mengutusmu dengan hak
(kebenaran),
sesungguhnya aku mengetahui
semua
jumlah tetesan air hujan yang turun
dari langit ke bumi dari mulai
diciptakan Adam as sampai sekarang
ini, begitu pula aku mengetahui
jumlah
tetetas yang turun ke laut, ke darat,
ke
hutan rimba, ke gunung-gunung, ke
lembah-lembah, ke sungai-sungai,
ke
sawah-sawah dan ke tempat yang
tidak
diketahui manusia.’
Mendengar uraian malaikat tadi,
Rasuluullah saw sangat takjub dan
bangga atas kecerdasannya dalam
menghitung tetesan air hujan.
Kemudian malaikat tadi berkata
kepada
beliau,
‘Wahai Rasulullah saw, walaupun aku
memiliki seribu tangan dan sejuta
jari
dan diberikan kepandaian dan
keulungan untuk menghitung tetesan
air hujan yang yang turun dari langit
ke
bumi, tapi aku memiliki kekurangan
dan kelemahan.’
Rasulullah saw pun bertanya,
‘Apa kekurangan dan kelemahan
kamu?.’
Malaikat itupun menjawab,
‘Kekurangan dan kelemahanku,
wahai
Rasulullah, jika umatmu berkumpul
di
satu tempat, mereka menyebut
namamu lalu bershalawat atasmu,
pada saat itu aku tidak bisa
menghitung berapa banyaknya
pahala
yang diberikan Allah kepada mereka
atas shalawat yang mereka ucapkan
atas dirimu.’ “

Sabtu, 16 Februari 2013

Sunnah Yang Jarang Dikerjakan Kaum Muslimin

Sunnah adalah segala sesuatu yang
diriwayatkan dari Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam baik
perkataan, perbuatan, ataupun
persetujuan. Sunnah juga berarti
sesuatu yang pelakunya mendapat
pahala dan tidak ada dosa bagi yang
meninggalkannya. Di antara
perbuatan sunnah yang jarang
dilakukan kaum muslimin adalah
sebagai berikut:
1. Mendahulukan Kaki Kanan Saat
Memakai Sandal Dan Kaki Kiri Saat
Melepasnya
Diriwayatkan dari Abu Hurairah
Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda, “Jika kalian memakai
sandal maka dahulukanlah kaki
kanan, dan jika melepaskannya,
maka dahulukanlah kaki kiri. Jika
memakainya maka hendaklah
memakai keduanya atau tidak
memakai keduanya sama
sekali.” ( HR. Al-Bukhari dan
Muslim )
2. Menjaga Dan Memelihara Wudhu
Diriwayatkan dari Tsauban
Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda, “Istiqamahlah
(konsistenlah) kalian semua (dalam
menjalankan perintah Allah) dan
kalian tidak akan pernah dapat
menghitung pahala yang akan Allah
berikan. Ketahuilah bahwa sebaik-
baik perbuatan adalah shalat, dan
tidak ada yang selalu
memeliharawudhunya kecuali
seorang mukmin.” ( HR.Ahmad dan
Ibnu Majah )
3. Bersiwak (Menggosok Gigi dengan
Kayu Siwak)
Diriwayatkan dari Aisyah
Radhiyallahu Anha bahwa Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda, “Siwak dapat
membersihkan mulut dan sarana
untuk mendapatkan ridha
Allah.” ( HR. Ahmad dan An-Nasa`i )
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam juga bersabda, “Andaikata
tidak memberatkan umatku niscaya
aku memerintahkan mereka untuk
bersiwak setiap kali hendak
shalat.” ( HR. Al-Bukhari dan
Muslim )
Bersiwak disunnahkan setiap saat,
tetapi lebih sunnah lagi saat hendak
berwudhu, shalat, membaca Al-
Qur`an, saat bau mulut berubah,
baik saat berpuasa ataupuntidak,
pagi maupun sore, saat bangun
tidur, dan hendak memasuki rumah.
Bersiwak merupakan perbuatan
sunnah yang hampir tidak pernah
dilakukan oleh banyak orang, kecuali
yang mendapatkan rahmat dari
Allah. Untuk itu, wahai saudaraku,
belilah kayusiwak untuk dirimu
dankeluargamu sehingga kalian bisa
menghidupkan sunnah ini kembali
dan niscaya kalian akan
mendapatkan pahala yang sangat
besar.
4. Shalat Istikharah
Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu
Anhu bahwa ia berkata, “Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam
mengajarkan kepada kita tata cara
shalat istikharah untuk
segalaurusan, sebagaimana beliau
mengajarkan surat-surat Al-Qur`an
kepada kami.” (HR. Al-Bukhari)
Oleh karena itu, lakukanlah shalat
ini dan berdoalah dengan doa yang
sudah lazim diketahui dalam shalat
istikharah.
5. Berkumur-Kumur Dan Menghirup
Air dengan Hidung Dalam Satu
Cidukan Telapak TanganKetika
Berwudhu
Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid
Radhiyallahu Anhu, bahwa
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam berkumur-kumurdan
menghirup air dengan hidung secara
bersamaan dari satu ciduk air dan
itu dilakukan sebanyak tiga kali.
( HR. Al-Bukhari dan Muslim )
6. Berwudhu Sebelum Tidur Dan
Tidur Dengan Posisi Miring Ke Kanan
Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib
Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda, “Jika kamu hendak tidur,
maka berwudhulah seperti hendak
shalat, kemudian tidurlah dengan
posisi miring kekanan dan bacalah,
‘Ya Allah, Aku pasrahkan jiwa ragaku
kepada-Mu, aku serahkan semua
urusanku kepada-Mu, aku
lindungkan punggungkukepada-Mu,
karena cinta sekaligus takut kepada-
Mu, tiada tempat berlindung
mencari keselamatan dari (murka)-
Mu kecualikepada-Mu, aku beriman
dengan kitab yang Engkau turunkan
dan dengan nabi yang Engkau utus’.
Jika engkau meninggal, maka engkau
meninggal dalam keadaan fitrah.
Dan usahakanlah doa ini sebagai
akhir perkataanmu.” ( HR. Al-
Bukhari dan Muslim )
7. Berbuka Puasa Dengan Makanan
Ringan
Diriwayatkan dari Anasbin Malik
Radhiyallahu Anhu , ia berkata,
“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam berbuka puasa sebelum
shalat maghrib dengan beberapa
kurma basah.Jika tidak ada maka
dengan beberapa kurma kering. Jika
tidakada, maka beliau
hanyameminum beberapa teguk
air.” ( HR. Ahmad, Abu Dawud dan
At-Tirmidzi )
8. Sujud Syukur SaatMendapatkan
Nikmat Atau Terhindar Dari Bencana
Sujud ini hanya sekali dan tidak
terikat oleh waktu. Diriwayatkan
dari Abu Bakrah Radhiyallahu Anhu
ia berkata, “Jika Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam
mendapatkan sesuatu yang
menyenangkan atau disampaikan
kabar gembira maka beliau langsung
sujud dalam rangka bersyukur

Wanita Pertama Yang Masuk Surga

Wanita Sholihah merupakan
dambaan setiap pria yang sholeh
pula, banyak cerita-cerita para
sholihin di jaman Rasulullah,
sebelum dan sesudahnya yang bisa
kita ambil Ibrohnya agar kita/kaum
wanita di jaman ini dapat selamat
dari fitnah dunia dan meninggalkan
dunia yang fana ini dalam keadaan
khusnul khotimah, amin.
Siapakah sebenarnya wanita yang
pertama akan masuk surga sebelum
Fatimah binti Rasulullah SAW?
Dalam sebuah hadist menceritakan,
antara lain kegemaran Rasulullah
adalah suka bergurau yang sopan
untuk memberi pengajaran. Suatu
hari ketika Rasulullah sedang
melayani puteri kesayangannya,
Fatimah, baginda bersabda, “Wahai
anakku! Ketahuilah olehmu bahwa
ada seorang perempuan yang akan
masuk surga terlebih dahulu dari
dirimu.”
Mendengar kata-kata ayahnya, serta
merta berubahlah air muka Fatimah.
Bertanya dia kepada baginda sambil
menangis, “Siapakah perempuan itu
wahai ayah? bagaimana keadaannya
dan bagaimana pula amal ibadahnya
sehingga dia terlebih dahulu masuk
surga daripada anakmu?
Kabarkanlah di mana dia sekarang,
anakmu mau menemui dia.”
Lalu Rasulullah menjelaskan, “Dia
adalah seorang wanita yang miskin,
tinggal di sebuah kampung kawasan
pedalaman dekat Jabal Uhud, kira-
kira 3 mil dari Kota Madinah. Nama
Perempuan itu ialah Muthi’ah.”
Tanpa membuang waktu, setelah
mendapat izin ayahnya, Fatimah pun
keluar mencari perempuan yang
dikatakan oleh Rasulullah itu.
Setelah bertanya kepada penduduk
setempat, banyak yang tidak tahu
dan mengenali perempuan bernama
Muthi’ah ini. Dia bukan perempuan
yang terkenal. Masing-masing
mengatakan tidak pernah
mendengar dan tidak mengetahui
perempuan ini.
Setelah berbagai usaha mencarinya,
dengan izin Allah, akhirnya
berjumpalah Fatimah dengan rumah
perempuan yang dimaksudkan itu.
Rumah Muthi’ah berada di kawasan
pedalaman, jauh dari pemukiman
orang-orang. Mungkin sebab itulah
susah mencarinya.
Setelah memberi salam dan
beberapa kali mengetuk pintu, ada
suara kedengaran menjawab salam
dari dalam sedangkan orangnya
belum juga muncul. Setelah agak
lama Fatimah menunggu, penghuni
rumah itu pun mengintip dari
jendela, sambil bertanya siapakah
yang berada di luar dan ada
keperluan apa. Dia tidak
mempersilahkan tamunya itu masuk.
Mereka hanya berbicara melalui
jendela saja.
Fatimah memperkenalkan dirinya:
“Saya Fatimah binti Rasulullah,
maksud kedatangan saya ke sini
karena ingin berjumpa dan
berkenalan dengan anda.”
Mendengar tamu yang datang itu
ialah putri Rasulullah, maka
perempuan itu menjawab: “Terima
kasih karena datang ke rumah saya,
tetapi saya tidak dapat mengizinkan
anda masuk karena suami saya tidak
ada di rumah. Nanti saya minta izin
dulu apabila dia kembali dari
bekerja. Silakan datang besok saja
lagi”
Dengan langkah yang amat berat,
Fatimah pulang dengan perasaan
yang sangat hampa karena tidak
dapat berbicara panjang dan
mengetahui rahasia amalannya.
Keesokan harinya, Fatimah datang
lagi bersama-sama anaknya, Hasan.
Segera setelah sampai dia memberi
salam dan perempuan itu pun terus
membuka pintu karena dia sudah
mengetahui tamu yang datang itu
ialah Fatimah.
Setelah ia mempersilakan masuk,
tiba-tiba dia terlihat ada seorang
anak kecil bersama-sama Fatimah
lalu dia bertanya: “Fatimah, ini
siapa?”
“Anak saya, Hasan,” sahut Fatimah.
Perempuan itu berkata, “Saya
bersedih karena saya belum minta
izin dari suami saya. Yang diizinkan
hanyalah Fatimah seorang. Oleh
karena itu saya perlu minta izin
dahulu dari suami lagi. Silakan
datang besok saja.”
Fatimah jadi serba salah. Akhirnya
setelah berfikir panjang lebar, dia
pun ambil keputusan untuk kembali.
Keesokan harinya, Fatimah datang
pula dengan membawa kedua-dua
anaknya yaitu Hasan dan Husein.
Setelah memberi salam, mereka
segera disambut oleh penghuni
rumah itu.
“Fatimah dengan Hasankah?” Tanya
perempuan itu minta kepastian.
Jawab Fatimah, “Kami datang bertiga
karena anak saya yang satu ini
(Husein) mau ikut juga.”
“Fatimah, saya minta maaf lagi
karena anak yang satu ini (Husein)
saya belum minta izin dari suami
saya. Silakan datang esok hari,”
tegas perempuan itu.
Mendengarkan kata-kata itu,
Fatimah tersipu-sipu menyahut,
“Baiklah kalau begitu besok saya
datang lagi kemari.”
Dalam perjalanan pulang ke
rumahnya, hatinya berkata-kata :
“Perempuan ini takut benar akan
suaminya, sehingga perkara yang
sekecil begini pun dia tidak berani
melakukannya. Jika dia benarkan aku
masuk, tak mungkinlah suaminya
marah. Tak perlulah pandang aku ini
siapa, anak siapa dan dua anak ini
cucu siapa, pandanglah (hormatilah)
aku ini sebagai tamu yang datang
dari jauh saja sudahlah,” bisik
hatinya, kesal.
Sekembali Siti Fatimah
meninggalkan rumahnya, kemudian
suaminya pulang, perempuan itu
pun memberitahu tentang anak
Fatimah yang satu lagi. Suaminya
terkejut dan heran, “Mengapa
engkau ragu sekali? Bukankah
Fatimah itu puteri Rasulullah SAW
dan dua anaknya itu adalah cucu
baginda? Tahukah engkau istriku
keselamatan kita berdua kelak
bergantung kepada keridloan
Rasulullah. Jangan sekali-kali engkau
berbuat seperti itu lagi. Jika mereka
datang lagi ke sini dengan membawa
apa pun dan siapa pun, terimalah
dengan baik, dan hormatilah mereka
semua sebagaimana yang pantas
bagi derajat mereka.”
“Baiklah, tetapi ampunilah kesalahan
saya karena saya mengerti bahawa
apa yang saya tahu, keselamatan diri
saya juga bergantung pada keridloan
suamiku. Oleh karena itu, saya tidak
berani membuat masalah yang akan
membawa kemarahan atau
menyakiti hati suamiku.”
“Terima kasih,” sahut suaminya.
“Tapi jangan lagi sampai engkau
tidak menerima tamu perempuan
melainkan dengan izin aku, karena
menghormati tamu perempuan itu
wajib pada adat dan agama kita.”
Pada hari berikutnya, Sayyidatuna
Fatimah pun datang seperti yang
dijanjikan dengan membawa dua
orang puteranya itu. Setelah
dijemput masuk dan dijamu dengan
sedikit buah kurma dan air, mereka
pun berkenalan serta memulai
perbincangan.
Pertanyaan Fatimah banyak berkisar
mengenai rahasia amal ibadah yang
menjadi penyebab Muthi’ah menjadi
wanita pertama masuk surga
menurut ayahnya. Setelah
memperkenalkan dirinya, Muthi’ah
menjawab semua pertanyaan
Fatimah dengan ikhlas.
Katanya,
“Tingkah laku saya biasa saja, tidak
ada yang istimewa, amal ibadahpun
biasa saja, malah Rasulullah lebih
mengetahui akan segalanya. Saya
hanya menuruti apa yang dianjurkan
oleh baginda dalam hal kewajiban
saya sebagai isteri. Antaranya:1.
Saya tidak boleh meninggalkan
rumah tanpa izin suami jika suami
saya keluar bekerja.2. Saya tidak
boleh menerima tamu (terutama
lelaki) jika tidak ada izin suami.3.
Saya tidak akan berkeluh-kesah jika
suami tidak mempunyai harta.4.
Saya berusaha agar suami saya
senang dan cinta kepada saya.5.
Saya tidak cepat-cepat cemburu.6.
Saling mengerti dan menghargai
antara kami berdua.Soal berhias dan
berdandan, menurut Mith’iah, dia
hanya mengutamakan kecantikannya
untuk suami, bukan untuk ditonton
dan diperagakan kepada orang lain.
Sebagian riwayat menyatakan,
Muth’iah mondar-mandir berjalan
ke pintu rumahnya sambil
memandang ke jalan seolah-olah
sedang menantikan seseorang. Dia
seolah-olah tidak begitu
mempedulikan Fatimah.
Di tangannya terdapat tongkat dan
sebuah wadah berisi air,
Melihat keadaan Muth’iah yang agak
aneh, Fatimah merasa gelisah
karena dia rasa tidak dipedulikan.
Fatimah bertanya: “Mengapa begini?”
Sahut Muth’iah: “Fatimah, maafkan
saya karena saya sedang menantikan
suami saya pulang.”
“Mengapa ada wadah air itu?” Tanya
Sayyidatuna Fatimah. Jawab
Muthi’ah jujur: “Kiranya suami saya
haus ketika dia pulang dari bekerja,
saya akan segera memberikan air ini
kepadanya supaya tidak terlambat.
Jika terlambat nanti, khawatir dia
akan marah kepada saya.”
Fatimah bertanya lagi: “Mengapa
dengan rotan ini?” Jawab Muthi’ah,
“Jika suami saya marah atau kurang
layanan dari saya, mudahlah dia
memukul saya dengan rotan ini.”
“Atas kehendak suamimukah kau
bawa rotan itu” tanya Fatimah.
“Oh, sama sekali tidak. Suami saya
seorang yang penyayang. Ini semata-
mata kehendak saya agar jangan
sampai menjadi isteri derhaka
kepada suami.”
Fatimah termenung, Wajarlah
menurut ayahnya, dia terlebih
dahulu masuk surga daripada aku.
Ternyata benarlah bahawa
keselamatan wanita yang telah
bersuami itu bergantung kepada
ketaatan dan keridloan suami
terhadapnya.”
Fatimah minta diri. Dia terus pulang
menghadap ayahnya dan
menceritakan segala yang terjadi.
“Wahai anakku, itulah rahasianya
mengapa Muthi’ah wanita pertama
masuk syurga,” kata baginda kepada
Fatimah.
Melihat kesedihan puterinya itu,
Rasululah tersenyum sambil berkata,
“Wahai anakku, janganlah bersusah
hati. Perempuan yang engkau jumpa
itu (Muthi’ah) ialah perempuan yang
akan memimpin dan memegang tali
tungganganmu tatkala engkau masuk
surga nanti. Jadi dialah yang akan
masuk terlebih dahulu daripada
engkau anakku.”Setelah mendengar
penjelasan ayahnya itu, barulah
nampak Fatimah mulai gembira dan
tersenyum.
Begitulah ganjaran yang Allah
berikan kepada Muthi’ah. Semoga
amalan yang dilakukannya itu sedikit
sebanyak akan menjadi panduan dan
dorongan kepada wanita-wanita
terutama bagi mereka yang sudah
berumahtangga.
Semoga bermanfa'at

Jumat, 15 Februari 2013

Tidaklah para Wali Allah mendiami kuburnya kecuali empat puluh hari

Kaum muslim ketika berziarah kubur
tentu mendoakan ahli kubur namun
tidak masalah pula berdoa kepada
Allah untuk kepentingannya sendiri
Silahkan baca studi kasus para
peziarah kubur pada http://
mutiarazuhud.wordpress.com/2012/10/07/
studi-kasus-ziarah/ tidak ada
satupun yang menyembah kuburan.
Dari contoh studi kasus ziarah kubur
tersebut, dapat kita ketahui bahwa
cara bertawassul dengan ahli kubur,
pada umumnya bertawassul dengan
amal sholeh berupa bacaan ayat suci
Al Qur’an yang dihadiahkan kepada
ahli kubur kemudian dilanjutkan
dengan permohonan peziarah
kepada Allah Azza wa Jalla.
Pada umumnya mengawalinya
dengan menghadiahkan Al Fatihah
kepada manusia yang paling mulia
Nabi Sayyidina Muhammad
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam dengan mengawalinya
seperti “Ila Hadrotin Nabiyyil
musthofa Muhammadin shollallahu
‘alahi wassalam wa’ala ali sayyidina
Muhammad wa’ala alihi wa shohbihi
wa atbaihi ajmain” Al Fatihah
Imam Nawawi berkata
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲُّ ﺭَﺣِﻤﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪ: ﻭﻳُﺴْﺘَﺤَﺐُّ ﺃﻥْ
ﻳُﻘﺮَﺃَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺷﻲﺀٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻘُﺮﺁﻥِ، ﻭَﺇﻥ ﺧَﺘَﻤُﻮﺍ
ﺍﻟﻘُﺮﺁﻥ ﻋِﻨْﺪﻩُ ﻛﺎﻥَ ﺣَﺴﻨﺎً
“Imam asy-Syafi’i rahimahullah
berkata : “disunnahkan agar
membaca sesuatu dari al-Qur’an
disisi quburnya, dan apabila mereka
mengkhatamkan al-Qur’an disisi
quburnya maka itu
bagus” (Riyadlush Shalihin [1/295]
lil-Imam an-Nawawi ; Dalilul Falihin
[6/426] li-Imam Ibnu ‘Allan ; al-
Hawi al-Kabir fiy Fiqh Madzhab asy-
Syafi’i (Syarah Mukhtashar Muzanni)
[3/26] lil-Imam al-Mawardi dan
lainnya.
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰ : ﻭﺃﺣﺐ ﻟﻮ ﻗﺮﺉ ﻋﻨﺪ
ﺍﻟﻘﺒﺮ ﻭﺩﻋﻰ ﻟﻠﻤﻴﺖ
Imam Syafi’i mengatakan “aku
menyukai sendainya dibacakan al-
Qur’an disamping qubur dan
dibacakan do’a untuk
mayyit” ( Ma’rifatus Sunani wal
Atsar [7743] lil-Imam al-Muhaddits
al-Baihaqi.)
Imam Ahmad semula
mengingkarinya karena atsar tentang
hal itu tidak sampai kepadanya
namun kemudian Imam Ahmad ruju’
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺑﻌﺪ ﺗﺤﺮﻳﺠﻪ ﺑﺴﻨﺪﻩ ﺇﻟﻰ
ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻰ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﺪﺍﻟﻠﻪ
ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﺑﻮ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ
ﻳﻌﻘﻮﺏ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ
ﻗﺎﻝ ﺳﺄﻟﺖ ﻳﺤﻲ ﺑﻦ ﻣﻌﻴﻦ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﺮﺃﺀﺓ
ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﻓﻘﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﻰ ﻣﺒﺸﺮ ﺑﻦ
ﺃﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺍﻟﺤﻠﺒﻲ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ
ﺍﻟﻠﺠﻼﺝ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ ﻗﺎﻝ ﻟﺒﻨﻴﻪ ﺇﺫﺍ ﺃﻧﺎ ﻣﺖ
ﻓﻀﻌﻮﻧﻰ ﻓﻰ ﻗﺒﺮﻯ ﻭﻗﻮﻟﻮﺍ ﺑﺴﻢ
ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺳﻨﻪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳﻨﻮﺍ
ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﺳﻨﺎ ﺛﻢ ﺇﻗﺮﺃﻭﺍ ﻋﻨﺪ ﺭﺃﺳﻰ
ﺃﻭﻝ ﺳﻮﺭﻩ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ ﻭﺧﺎﺗﻤﺘﻬﺎ ﻓﺈﻧﻰ ﺭﺃﻳﺖ
ﺇﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﺫﻟﻚ , ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ
ﺑﻌﺪ ﺗﺨﺮﻳﺠﻪ ﻫﺬﺍ ﻣﻮﻗﻮﻑ ﺣﺴﻦ ﺃﺧﺮﻳﺠﻪ
ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺨﻼﻝ ﻭﺃﺧﺮﻳﺠﻪ ﻣﻦ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺃﺑﻰ
ﻣﻮﺳﻰ ﺍﻟﺤﺪﺍﺩ ﻭﻛﺎﻥ ﺻﺪﻭﻗﺎ ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻴﻨﺎ
ﻣﻊ ﺃﺣﻤﺪ ﻋﻠﻰ ﺟﻨﺎﺯﺓ ﻓﻠﻤﺎ ﻓﺮﻍ ﻣﻦ
ﺫﻓﻨﻪ ﺣﺒﺲ ﺭﺟﻞ ﺿﺮﻳﺮ ﻳﻘﺮﺃ ﻋﻨﺪ
ﺍﻟﻘﺒﺮ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﻳﺎ ﻫﺬﺍ ﺇﻥ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ
ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﺑﺪﻋﺔ ﻓﻠﻤﺎ ﺧﺮﺟﻨﺎ ﻗﺎﻝ ﻟﻪ
ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻗﺪﺍﻣﺔ ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ
ﺗﻘﻮﻝ ﻓﻰ ﻣﺒﺸﺮ ﺑﻦ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﻗﺎﻝ
ﺛﻘﺔ ﻗﺎﻝ ﻛﺘﺒﺖ ﻋﻨﻪ ﺷﻴﺌﺎ ﻗﺎﻝ ﻧﻌﻢ
ﻗﺎﻝ ﺇﻧﻪ ﺣﺪﺛﻨﻰ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ
ﺍﻟﻠﺠﻼﺝ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ ﺃﻧﻪ ﺃﻭﺻﻰ ﺇﺫﺍ ﺩﻓﻦ ﺃﻥ
ﻳﻘﺮﺅﺍ ﻋﻨﺪ ﻗﺒﺮﻩ ﻓﺎﺗﺤﺔ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ
ﻭﺧﺎﺗﻤﺘﻬﺎ ﻭﻗﺎﻝ ﺳﻤﻌﺖ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻳﻮﺻﻰ
ﺑﺬﻟﻚ ﻗﺎﻝ ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﻟﻠﺮﺟﻞ ﻓﻠﻴﻘﺮﺃ.
ﺍﻩ
al-Hafidh (Ibnu Hajar) berkata
setelah mentakhrijnya dengan
sanadnya kepada al-Baihaqi, ia
berkata ; telah menceritakan kepada
kami Abu Abdillah al-Hafidz, ia
berkata telah menceritakan kepada
kami Abul ‘Abbas bin Ya’qub, ia
berkata, telah menceritakan kepada
kami al-‘Abbas bin Muhammad, ia
berkata, aku bertanya kepada Yahya
bin Mu’in tentang pembacaan al-
Qur’an disamping qubur, maka ia
berkata ; telah menceritakan
kepadaku Mubasysyir bin Isma’il al-
Halabi dari ‘Abdur Rahman bin al-
Lajlaj dari ayahnya, ia berkata
kepada putranya, apabila aku telah
wafat, letakkanlah aku didalam
kuburku, dan katakanlah oleh kalian
“Bismillah wa ‘alaa Sunnati
Rasulillah”, kemudian gusurkan
tanah diatasku dengan perlahan,
selanjutnya bacalah oleh kalian
disini kepalaku awal surah al-
Baqarah dan mengkhatamkannya,
karena sesungguhnya aku melihat
Ibnu ‘Umar menganjurkan hal itu.
Kemudian al-Hafidh (Ibnu Hajar)
berkata setelah mentakhrijnya,
hadits ini mauquf yang hasan, Abu
Bakar al-Khallal telah mentakhrijnya
dan ia juga mentakhrijnya dari Abu
Musa al-Haddad sedangkan ia orang
yang sangat jujur. Ia berkata : kami
shalat jenazah bersama bersama
Ahmad, maka tatkala telah selesai
pemakamannya duduklah seorang
laki-laki buta yang membaca al-
Qur’an disamping qubur, maka
Ahmad berkata kepadanya ; “hei apa
ini, sungguh membaca al-Qur’an
disamping qubur adalah bid’ah”.
Maka tatkala kami telah keluar,
berkata Ibnu Qudamah kepada
Ahmad : “wahai Abu Abdillah, apa
komentarmu tentang Mubasysyir bin
Isma’il ? “, Ahmad berkata : tsiqah,
Ibnu Qudamah berkata : engkau
menulis sesuatu darinya ?”, Ahmad
berkata : Iya. Ibnu Qudamah
berkata : sesungguhnya ia telah
menceritakan kepadaku dari Abdur
Rahman bin al-Lajlaj dari ayahnya,
ia berpesan apabila dimakamkan
agar dibacakan pembukaan al-
Baqarah dan mengkhatamkannya
disamping kuburnya, dan ia
berkata : aku mendengar Ibnu ‘Umar
berwasiat dengan hal itu, Maka
Ahmad berkata kepada laki-laki itu
“lanjutkanlah bacaaanmu”.
Abdul Haq berkata : telah
diriwayatkan bahwa Abdullah bin
‘Umar –radliyallahu ‘anhumaa-
memerintahkan agar dibacakan
surah al-Baqarah disisi quburnya
dan diantara yang meriwayatkan
demikian adalah al-Mu’alla bin
Abdurrahman
Begitupula berdoa kepada Allah
untuk kepentingannya sendiri boleh
berdoa langsung kepada Allah atau
memintakan doa kepada ahli kubur.
Bedakan antara menyembah ahli
kubur dengan memintakan doa
kepada ahli kubur karena ahli kubur
yang telah meraih maqom (derajat)
disisi Nya , mereka hidup
sebagaimana para syuhada
Imam al-Baihaqi telah membahas
sepenggal kehidupan para Nabi. Ia
menyatakan dalam kitab Dalailun
Nubuwwah: “Para nabi hidup di sisi
Tuhan mereka seperti para
syuhada.”
Abu Manshur ‘Abdul Qahir bin
Thahir al-Baghdadi mengatakan:
“Para sahabat kami yang ahli kalam
al-muhaqqiqun berpendapat bahwa
Nabi kita Muhammad shallallahu
alaihi wasallam hidup setelah
wafatnya. Adalah beliau shallallahu
alaihi wasallam bergembira dengan
ketaatan ummatnya dan bersedih
dengan kemaksiatan mereka, dan
beliau membalas shalawat dari
ummatnya.” Ia menambahkan, “Para
nabi alaihi salam tidaklah dimakan
oleh bumi sedikit pun. Nabi Musa
alaihi salam sudah meninggal pada
masanya, dan Nabi kita
mengabarkan bahwa beliau melihat
ia shalat di kuburnya. Disebutkan
dalam hadis yang membahas
masalah mi’raj, bahwasanya Nabi
Muhammad shallallahu alaihi
wasallam melihat Nabi Musa
alaihisalam di langit ke empat serta
melihat Adam dan Ibrahim. Jika hal
ini benar adanya, maka kami
berpendapat bahwa Nabi kita
Muhammad shallallahu alaihi
wasallam juga hidup setelah
wafatnya, dan beliau dalam
kenabiannya.”
Dari Abu Hurairah , Rasulullah
bersabda: Tidak seorang pun yang
memberi salam kepadaku kecuali
Allah akan menyampaikan kepada
ruhku sehingga aku bisa menjawab
salam itu.(HR. Abu Dawud)
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda,
ﺣﻴﺎﺗﻲ ﺧﻴﺮ ﻟﻜﻢ ﻭﻣﻤﺎﺗﻲ ﺧﻴﺮ ﻟﻜﻢ
ﺗﺤﺪﺛﻮﻥ ﻭﻳﺤﺪﺙ ﻟﻜﻢ , ﺗﻌﺮﺽ ﺃﻋﻤﺎﻟﻜﻢ
ﻋﻠﻲّ ﻓﺈﻥ ﻭﺟﺪﺕ ﺧﻴﺮﺍ ﺣﻤﺪﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺇﻥ
ﻭﺟﺪﺕ ﺷﺮﺍ ﺍﺳﺘﻐﻔﺮﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻜﻢ .
“Hidupku lebih baik buat kalian dan
matiku lebih baik buat kalian. Kalian
bercakap-cakap dan mendengarkan
percakapan. Amal perbuatan kalian
disampaikan kepadaku. Jika aku
menemukan kebaikan maka aku
memuji Allah. Namun jika
menemukan keburukan aku
memohonkan ampunan kepada Allah
buat kalian.” (Hadits ini
diriwayatkan oelh Al Hafidh Isma’il
al Qaadli pada Juz’u al Shalaati ‘ala
al Nabiyi Shallalahu alaihi wasallam.
Al Haitsami menyebutkannya dalam
Majma’u al Zawaaid dan
mengkategorikannya sebagai hadits
shahih)
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda,
ﺇﻥ ﺃﻋﻤﺎﻟﻜﻢ ﺗﻌﺮﺽ ﻋﻠﻰ ﺃﻗﺎﺭﺑﻜﻢ
ﻭﻋﺸﺎﺋﺮﻛﻢ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺧﻴﺮﺍ
ﺍﺳﺘﺒﺸﺮﻭﺍ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻗﺎﻟﻮﺍ:
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻻ ﺗﻤﺘﻬﻢ ﺣﺘﻰ ﺗﻬﺪﻳﻬﻢ ﻛﻤﺎ
ﻫﺪﻳﺘﻨﺎ)
“Sesungguhnya perbuatan kalian
diperlihatkan kepada karib-kerabat
dan keluarga kalian yang telah
meninggal dunia. Jika perbuatan
kalian baik, maka mereka
mendapatkan kabar gembira, namun
jika selain daripada itu, maka
mereka berkata: “Ya Allah, janganlah
engkau matikan mereka sampai
Engkau memberikan hidayah kepada
mereka seperti engkau memberikan
hidayah kepada kami.” (HR. Ahmad
dalam musnadnya).
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda,
( ﻣﺎ ﻣﻦ ﺭﺟﻞ ﻳﺰﻭﺭ ﻗﺒﺮ ﺃﺧﻴﻪ ﻭﻳﺠﻠﺲ
ﻋﻠﻴﻪ ﺇﻻ ﺍﺳﺘﺄﻧﺲ ﻭﺭﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﺣﺘﻲ
ﻳﻘﻮﻡ )
“Tidak seorangpun yang
mengunjungi kuburan saudaranya
dan duduk kepadanya (untuk
mendoakannya) kecuali dia merasa
bahagia dan menemaninya hingga
dia berdiri meninggalkan kuburan
itu.” (HR. Ibnu Abu Dunya dari
Aisyah dalam kitab Al-Qubûr).
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda,
( ﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﺣﺪ ﻳﻤﺮﺑﻘﺒﺮ ﺃﺧﻴﻪ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻛﺎﻥ
ﻳﻌﺮﻓﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻴﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﺇﻻ
ﻋَﺮَﻓَﻪُ ﻭﺭﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ )
“Tidak seorang pun melewati
kuburan saudaranya yang mukmin
yang dia kenal selama hidup di
dunia, lalu orang yang lewat itu
mengucapkan salam untuknya,
kecuali dia mengetahuinya dan
menjawab salamnya itu.” (Hadis
Shahih riwayat Ibnu Abdul Bar dari
Ibnu Abbas di dalam kitab Al-
Istidzkar dan At-Tamhid).
Al-Baihaqi dalam kitab Hayatul
Anbiya’ mengeluarkan hadis dari
Anas radhiyallahuanhu, Nabi
shallallahu alaihi wasallam,
bersabda: “Para nabi hidup di kubur
mereka dalam keadaan mengerjakan
shalat.” Al-Baihaqi mengeluarkan
hadis dari Anas ra: Nabi shallallahu
alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya para nabi tidaklah
ditinggalkan di dalam kubur mereka
setelah empat puluh malam, akan
tetapi mereka shalat di hadapan
Allah Subhanahu wa Ta'ala sampai
ditiupnya sangkakala.” Sufyan
meriwayatkan dalam al-Jami’, ia
mengatakan: “Syeikh kami berkata,
dari Sa’idbin al-Musayyab, ia
mengatakan, “Tidaklah seorang nabi
itu tinggal di dalam kuburnya lebih
dari empat puluh malam, lalu ia
diangkat.”
Al-Baihaqi menyatakan, atas dasar
inilah mereka layaknya seperti orang
hidup kebanyakan, sesuai dengan
Allah menempatkan mereka. ‘Abdur
Razzaq dalam Musnadnya
meriwayatkan dari as-Tsauri, dari
Abil Miqdam, dari Sa’id bin
Musayyab, ia berkata: “Tidaklah
seorang nabi mendiami bumi lebih
dari empat puluh hari.” Abui
Miqdam meriwayatkan dari Tsabit
bin Hurmuz al-Kufi, seorang syeikh
yang shaleh, Ibn Hibban dalam
Tarikhnya dan Thabrani dalam al-
Kabir serta Abu Nua’im dalam al-
Hilyah, dari Anas ra berkata:
Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah
seorang nabi pun yang meninggal,
kemudian mendiami kuburnya
kecuali hanya empat puluh hari.”
Hal yang harus kita ingat adalah
bahwa manusia yang sudah wafat
pada hakikatnya hanya berpindah
alam saja dan mereka masih
melakukan perbuatan namun sudah
tidak diperhitungkan lagi apa yang
mereka lakukan sebagai amal
perbuatan.
Rasulullah bersabda, “sebagaimana
engkau tidur begitupulah engkau
mati, dan sebagaimana engkau
bangun (dari tidur) begitupulah
engkau dibangkitkan (dari alam
kubur)”
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam telah membukakan kepada
kita salah satu sisi tabir kematian.
Bahwasanya tidur dan mati memiliki
kesamaan, ia adalah saudara yang
sulit dibedakan kecuali dalam hal
yang khusus, bahwa tidur adalah
mati kecil dan mati adalah tidur
besar.
Ibnu Zaid berkata, “Mati adalah
wafat dan tidur juga adalah wafat”.
Al-Qurtubi dalam at-Tadzkirah
mengenai hadis kematian dari
syeikhnya mengatakan: “Kematian
bukanlah ketiadaan yang murni,
namun kematian merupakan
perpindahan dari satu keadaan
kepada keadaan lain.”
Kaum muslim yang sudah wafat dan
meraih manzilah (maqom/derajat)
disisiNya mereka mendapatkan
karunia ni’mat dan hidup
sebagaimana para syuhada
Firman Allah ta’ala yang artinya
”Dan janganlah kamu mengatakan
terhadap orang-orang yang gugur di
jalan Allah (syuhada), (bahwa
mereka itu ) mati; bahkan
(sebenarnya) mereka itu hidup,
tetapi kamu tidak
menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]:
154 )
”Janganlah kamu mengira bahwa
orang-orang yang gugur di jalan
Allah (syuhada) itu mati; bahkan
mereka itu hidup disisi Tuhannya
dengan mendapat rezki.” (QS Ali
Imran [3]: 169)
“Orang-orang yang dikaruniai
nikmat oleh Allah adalah: Para nabi,
para shiddiqin, para syuhada’ dan
orang-orang shalih, mereka itulah
sebaik-baik teman“. (QS An Nisaa
[4]: 69)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “kami
meneruskan perjalanan sehingga
sampai di langit keenam, lalu aku
menemui Nabi Musa dan memberi
salam kepadanya. Dia segera
menjawab, ‘Selamat datang wahai
saudara yang dan nabi yang shalih.’
Ketika aku meningalkannya, dia
terus menangis. Lalu dia ditanya,
‘Apakah yang menyebabkan kamu
menangis? ‘ dia menjawab, ‘Wahai
Tuhanku! Kamu telah mengutus
pemuda ini setelahku, tetapi
umatnya lebih banyak memasuki
Surga daripada umatku” (HR Muslim
238)
Kaum muslim yang meraih manzilah
(maqom/derajat) disisiNya maka
mereka menjadi penduduk langit
serupa dengan para malaikat
Pendudul langit selalu bertasbih
kepada Allah
Firman Allah Azza wa Jalla yang
artinya, “Semua yang berada di
langit dan yang berada di bumi
bertasbih kepada Allah, Dan Dialah
Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (QS Al Hadid [57]:1)
Penduduk langit juga bisa
menyaksikan hamba-hamba kekasih
Tuhan di bumi sebagaimana
dinyatakan Rasulullah,
“Sesungguhnya para penghuni langit
mengenal penghuni bumi yang
selalu mengingat dan berzikir
kepada Allah bagaikan bintang yang
bersinar di langit.”
Dalam Al Qur’an dinyatakan dalam
ayat, “Untuk mereka kabar gembira
waktu mereka hidup di dunia dan di
akhirat.” (QS Yunus/10:64).
Para ulama tafsir mengomentari
ayat ini sesuai dengan pengalaman
sahabat Nabi Muhammad, Abu
Darda’, yang menanyakan apa
maksud ayat ini. Rasulullah
menjelaskan, “Yang dimaksud ayat
ini ialah mimpi baik yang dilihat
atau diperlihatkan Allah Subhanahu
wa ta’ala kepadanya.” Dalam ayat
lain lebih jelas lagi Allah berfirman,
“Allah memegang jiwa (orang) ketika
matinya dan (memegang) jiwa
(orang) yang belum mati di waktu
tidurnya.” (QS al-Zumar [39]:42).
Penduduk langit dapat bertemu
dengan manusia yang masih hidup
Abdullah Ibnu Abbas r.a. pernah
berkata, “ruh orang tidur dan ruh
orang mati bisa bertemu diwaktu
tidur dan saling berkenalan sesuai
kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala
kepadanya, karena Allah Subhanahu
wa Ta’ala yang menggenggam ruh
manusia pada dua keadaan, pada
keadaan tidur dan pada keadaan
matinya.”
Telah menceritakan kepada kami
Mu’allaa bin Asad telah
menceritakan kepada kami ‘Abdul
‘Aziz bin Mukhtar telah
menceritakan kepada kami Tsabit Al
Bunani dari Anas radliallahu ‘anhu
mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “Siapa melihatku
dalam mimpi, berarti ia telah
melihatku, sebab setan tidak bisa
menjelma sepertiku, dan mimpi
seorang mukmin adalah sebagian
dari empat puluh enam bagian
kenabian.” (HR Bukhari 6479)
Penduduk langit dapat mendengar
dan mengetahui keadaan manusia
yang masih hidup dan dapat
mendoakan mereka
Dari Tsabit Al Bunani dari Anas bin
Malik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa Salam meninggalkan jenazah
perang Badar tiga kali, setelah itu
beliau mendatangi mereka, beliau
berdiri dan memanggil-manggil
mereka, beliau bersabda: Hai Abu
Jahal bin Hisyam, hai Umaiyah bin
Khalaf, hai Utbah bin Rabi’ah, hai
Syaibah bin Rabi’ah, bukankah
kalian telah menemukan kebenaran
janji Rabb kalian, sesungguhnya aku
telah menemukan kebenaran janji
Rabbku yang dijanjikan padaku.
Umar mendengar ucapan nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Salam, ia
berkata: Wahai Rasulullah,
bagaimana mereka mendengar dan
bagaimana mereka menjawab,
mereka telah menjadi bangkai?
Beliau bersabda: Demi Dzat yang
jiwaku berada ditanganNya, kalian
tidak lebih mendengar ucapanku
melebihi mereka, hanya saja mereka
tidak bisa menjawab. (HR Muslim
5121)
Para Sahabat ketika duduk dalam
shalat (tahiyyat), bertawasul dengan
menyebut nama-nama orang-orang
sholeh yang telah wafat maupun
dengan para malaikat namun
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam mengajarkan untuk
menyingkatnya menjadi
“Assalaamu’alaina wa’alaa
‘ibaadillaahish shoolihiin”, maka hal
itu sudah mencakup seluruh hamba-
hamba Allah yang sholeh baik di
langit maupun di bumi“
Telah menceritakan kepada kami
Umar bin Hafsh telah menceritakan
kepada kami Ayahku telah
menceritakan kepada kami Al
A’masy dia berkata; telah
menceritakan kepadaku Syaqiq dari
Abdullah dia berkata; Ketika kami
membaca shalawat di belakang Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam, maka
kami mengucapkan: ASSALAAMU
‘ALALLAHI QABLA ‘IBAADIHI,
ASSALAAMU ‘ALAA JIBRIIL,
ASSSALAAMU ‘ALAA MIKAA`IIL,
ASSALAAMU ‘ALAA FULAAN WA
FULAAN (Semoga keselamatan
terlimpahkan kepada Allah, semoga
keselamatan terlimpah kepada Jibril,
Mika’il, kepada fulan dan fulan).
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam selesai melaksanakan
shalat, beliau menghadapkan
wajahnya kepada kami dan
bersabda: Sesungguhnya Allah
adalah As salam, apabila salah
seorang dari kalian duduk dalam
shalat (tahiyyat), hendaknya
mengucapkan; AT-TAHIYYATUT
LILLAHI WASH-SHALAWAATU WATH-
THAYYIBAATU, ASSALAAMU ‘ALAIKA
AYYUHAN-NABIYYU WA
RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH,
ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALA
‘IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN,
(penghormatan, rahmat dan
kebaikan hanya milik Allah. Semoga
keselamatan, rahmat, dan
keberkahan tetap ada pada engkau
wahai Nabi. Keselamatan juga
semoga ada pada hamba-hamba
Allah yang shalih). Sesungguhnya
jika ia mengucapkannya, maka hal
itu sudah mencakup seluruh hamba-
hamba yang shalih baik di langit
maupun di bumi, lalu melanjutkan;
ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAH
WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN
‘ABDUHU WA RASUULUH (Aku
bersaksi bahwa tiada Dzat yang
berhak disembah selain Allah, dan
Muhammad adalah hamba dan
utusan-Nya). Setelah itu ia boleh
memilih do’a yang ia kehendaki. (HR
Bukhari 5762)
Dalam hadits di atas , Rasulullah
bersabda “Sesungguhnya jika ia
mengucapkannya, maka hal itu
sudah mencakup seluruh hamba-
hamba yang shalih baik di langit
maupun di bumi“
Jadi pada kenyataannya setiap
muslim, setiap hari selalu
bertawassul dengan penduduk langit
yakni bertawassul dengan muslim
yang sudah wafat dan meraih
manzilah (maqom/derajat) disisiNya
beserta para malaikat dengan
mengucapkan “ASSALAAMU
‘ALAINAA WA ‘ALA ‘IBAADILLAAHISH
SHAALIHIIN”
Firman Allah ta’ala yang artinya
“Sesungguhnya penolong kamu
hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan
orang-orang yang beriman, yang
mendirikan shalat dan menunaikan
zakat, seraya mereka tunduk (kepada
Allah)“ (QS Al Maaidah [5]: 55)
“Dan barangsiapa mengambil Allah,
Rasul-Nya dan orang-orang yang
beriman menjadi penolongnya, maka
sesungguhnya pengikut (agama)
Allah itulah yang pasti menang” (QS
Al Maaidah [5]: 56)
“dan (begitu pula) Jibril dan orang-
orang mu’min yang baik; dan selain
dari itu malaikat-malaikat adalah
penolongnya pula” (QS At Tahrim
[66]:4)
“dan berilah kami pelindung dari sisi
Engkau, dan berilah kami penolong
dari sisi Engkau” (QS An Nisaa
[4]:75)
“Karena itu ma’afkanlah mereka,
mohonkanlah ampun bagi
mereka” (QS Ali Imran [3]:159)
“dan mohonlah ampunan bagi
dosamu dan bagi (dosa) orang-orang
mu’min, laki-laki dan
perempuan” (QS Muhammad
[47];19)
“maka terimalah janji setia mereka
dan mohonkanlah ampunan kepada
Allah untuk mereka“ (QS
Mumtahanah [60]:12)
“Dan Kami tidak mengutus
seseorang rasul melainkan untuk
dita’ati dengan seizin Allah.
Sesungguhnya jikalau mereka ketika
menganiaya dirinya datang
kepadamu, lalu memohon ampun
kepada Allah, dan Rasulpun
memohonkan ampun untuk mereka,
tentulah mereka mendapati Allah
Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang” (QS An Nisaa [4]:64)
Ibnu Katsir ketika mentafsirkan ( QS
An Nisaa [4] : 64 ) contoh scan kitab
tafsir dapat dibaca pada http://
mutiarazuhud.files.wordpress.com/2011/09/
ikjuz5p281_285.pdf menyampaikan
**** awal kutipan *****
Al-Atabi ra menceritakan bahwa
ketika ia sedang duduk di dekat
kubur Nabi Shallallahu alaihi
wasallam, datanglah seorang Arab
Badui, lalu ia mengucapkan,
“Assalamu’alaika, ya Rasulullah
(semoga kesejahteraan terlimpahkan
kepadamu, wahai Rasulullah). Aku
telah mendengar Allah ta’ala
berfirman yang artinya,
‘Sesungguhnya jikalau mereka ketika
menganiaya dirinya datang
kepadamu, lalu memohon ampun
kepada Allah, dan Rasul pun
memohonkan ampun untuk mereka,
tentulah mereka menjumpai Allah
Maha Penerima Tobat lagi Maha
Penyayang‘ (QS An-Nisa: 64),
Sekarang aku datang kepadamu,
memohon ampun bagi dosa-dosaku
(kepada Allah) dan meminta syafaat
kepadamu (agar engkau
memohonkan ampunan bagiku)
kepada Tuhanku.”
Kemudian lelaki Badui tersebut
mengucapkan syair berikut , yaitu:
“Hai sebaik-baik orang yang
dikebumikan di lembah ini lagi
paling agung, maka menjadi
harumlah dari pancaran
keharumannya semua lembah dan
pegunungan ini. Diriku sebagai
tebusan kubur yang engkau menjadi
penghuninya; di dalamnya terdapat
kehormatan, kedermawanan, dan
kemuliaan.“
Kemudian lelaki Badui itu pergi, dan
dengan serta-merta mataku terasa
mengantuk sekali hingga tertidur.
Dalam tidurku itu aku bermimpi
bersua dengan Nabi shallallahu
alaihi wasallam., lalu beliau
shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“Hai Atabi, susullah orang Badui itu
dan sampaikanlah berita gembira
kepadanya bahwa Allah telah
memberikan ampunan kepadanya!”
***** akhir kutipan *****
Adz-Dzahabi; dalam karyanya; Siyar
A’lam an-Nubala’, jld. 9, cet. 9,
tentang biografi Imam Ma’ruf al-
Karkhi; beliau adalah Abu Mahfuzh
al-Baghdadi. Dari Ibrahim al-Harbi
berkata: “Makam Imam Ma’ruf al-
Karkhi adalah obat yang paling
mujarab”. Adz-Dzahabi berkata:
“Yang dimaksud ialah terkabulnya
doa di sana yang dipanjatkan oleh
orang yang tengah kesulitan, oleh
karena tempat-tempat yang berkah
bila doa dipanjatkan di sana akan
terkabulkan, sebagaimana
terkabulkannya doa yang
dipanjatkan di waktu sahur (sebelum
subuh), doa setelah shalat-shalat
wajib, dan doa di dalam masjid-
masjid……”.
Siyar A’lam an-Nubala’, jld. 12, cet.
14, tentang biografi Imam al-
Bukhari (penulis kitab Shahih);
beliau adalah Abu Abdillah
Muhammad ibn Isma’il ibn Ibrahim
al-Bukhari, dalam menceritakan
tentang wafatnya. simak tulisan adz-
Dzahabi berikut ini: “Abu ‘Ali al-
Gassani berkata: “Telah
mengkhabarkan kepada kami Abu al-
Fath Nasr ibn al-Hasan as-Sakti as-
Samarqandi; suatu ketika dalam
beberapa tahun kami penduduk
Samarqand mendapati musim
kemarau, banyak orang ketika itu
telah melakukan shalat Istisqa’,
namun hujan tidak juga turun.
Kemudian datang seseorang yang
dikenal sebagai orang saleh
menghadap penguasa Samarqand, ia
berkata: “Saya punya pendapat
maukah engkau mendengarkannya?
Penguasa tersebut berkata: “Baik,
apa pendapatmu?”. Orang saleh
berkata: “Menurutku engkau harus
keluar bersama segenap manusia
menuju makam Imam Muhammad
ibn Isma’il al-Bukhari, makam
beliau berada di Kharatnak, engkau
berdoa meminta hujan di sana,
dengan begitu semoga Allah
menurunkan hujan bagi kita”. Sang
penguasa berkata: “Aku akan
kerjakan saranmu itu”. Maka
keluarlah penguasa Samarqand
tersebut dengan orang banyak
menuju makam Imam al-Bukhari,
banyak sekali orang yang menangis
di sana, mereka semua meminta
tolong kepada Imam al-Bukhari.
Kemudian Allah menurunkan hujan
yang sangat deras, hingga orang-
orang saat itu menetap di Kharatnak
sekitar tujuh hari, tidak ada
seorangpun dari mereka yang dapat
pulang ke Samarqand karena banyak
dan derasnya hujan. Jarak antara
Samarqand dan Kharatnak sekitar
tiga mil”
Para Sahabat , bertawassul dan
bertabarruk ke makam Rasulullah
sebagaimana yang disampaikan oleh
Ibnu katsir dalam kitab tarikhnya
7/105: “Berkata al hafidz Abu Bakar
al Baihaqi, telah menceritakan Abu
Nashar bin Qutadah dan Abu bakar
al Farisi, mereka berdua berkata:
telah menceritakan kepada kami Abu
Umar bin Mathor, telah
menceritakan kepada kami Ibrahim
bin Ali Addzahli, telah menceritakan
kepada kami Yahya bin Yahya, telah
menceritakan kepada kami Abu
Mu’awiyah dari ‘Amasy dari Abi
Shalih dari Malik Ad Daar Ia berkata,
“Orang-orang mengalami kemarau
panjang saat pemerintahan Umar.
Kemudian seorang laki-laki datang
ke makam Nabi Shallallahu alaihi
wasallam dan berkata “Ya Rasulullah
Shallallahu alaihi wasallam
mintakanlah hujan untuk umatmu
karena mereka telah binasa”.
Kemudian orang tersebut mimpi
bertemu Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam dan dikatakan kepadanya
“datanglah kepada Umar dan
ucapkan salam untuknya
beritahukan kepadanya mereka
semua akan diturunkan hujan.
Katakanlah kepadanya “bersikaplah
bijaksana, bersikaplah bijaksana”.
Maka laki-laki tersebut menemui
Umar dan menceritakan kepadanya
akan hal itu. Kemudian Umar
berkata “Ya Tuhanku aku tidak
melalaikan urusan umat ini kecuali
apa yang aku tidak mampu
melakukannya” (Sanadnya shahih
adalah penetapan dari Ibnu katsir.
Malik adalah Malik Ad Daar dan ia
seorang bendahara gudang makanan
pada pemerintahan Umar,ia adalah
tsiqoh)
Al hafidz Ibnu Hajar al Asqolani
dalam fathul bari juz 2 pada kitab
aljumah bab sualun nas al imam
idza qohathu”, Diriwayatkan oleh
Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang
shahih dari riwayat Abu Shalih As
Saman dari Malik Ad Daar seorang
bendahara Umar. Ia berkata “Orang-
orang mengalami kemarau panjang
saat pemerintahan Umar. Kemudian
seorang laki-laki datang ke makam
Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan
berkata “Ya Rasulullah Shallallahu
alaihi wasallam mintakanlah hujan
untuk umatmu karena mereka telah
binasa datanglah kepada Umar
dst..dan laki2 itu adalah Bilal bin
Haris al Muzani”.
Contoh lain
Sayyidah Nafisah putri al Hasan al
Anwar ibn Zaid al Ablaj ibn al Hasan
ibn Ali karramallahu wajhah. Beliau
radhiyallahu anha dilahirkan di kota
Makkah Al Mukarromah pada hari
rabu 11 rabiul awal tahun 145H.
Ketika sayyidah Nafisah telah
dewasa, telah siap untuk menempuh
jenjang pernikahan dan telah
mumpuni dari segi ilmu maupun
ketaqwaannya. Karena hal itu
banyak sekali pemuda yang datang
kepada Ayahnya untuk melamar
beliau, baik dari keturunan
Rasulullah, pembesar-pembesar
ulama’ ataupun suku Quraisy.
Termasuk yang sangat ingin
menikahi beliau adalah Ishaq ibn
Ja’far as Shadiq, yaitu pemuda yang
tekenal diantara teman-temannya
dengan julukan Al Mu’tamin karena
sifat amanah dan keteguhan
imannya.
Ishaq bukanlah orang yang asing lagi
bagi sayyidah Nafisah, karena ia
adalah putra imam Ja’far al Shadiq
ibn Muhammad al Baqir ibn Ali
Zainal Abidin ibn Husain cucu
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa
sallam.
Ia telah melihat banyak sekali
pemuda-pemuda yang datang
kepada Ayah sayyidah Nafisah guna
melamarnya, tetapi beliau selalu
mengatakan: “Aku ingin
menyampaikan amanah kepada
pemiliknya, aku ingin
mengembalikan tetesan ke dalam
lautan dan aku ingin menanam
mawar di dalam kebunnya”.
Maka ketika setiap pemuda yang
mendengarnya akan mengurungkan
niatnya untuk meminang, mereka
berkata: mungkin ada suatu rahasia
dari balik perkataan tersebut yang
kita tidak ketahui.
Meskipun demikian Ishaq
menganggap ia harus tetap mencoba
kesempatannya. akhirnya ia
beristikharah kepada Allah kemudian
pergi bersama pembesar-pembesar
Ahli Bait untuk meminang sayyidah
Nafisah, akan tetapi penolakanlah
yang ia dapatkan sehingga ia pulang
dengan hati yang hancur karena
lamarannya ditolak.
Kemudian ia pergi ke Masjid Nabawy
dan melakukan shalat. Setelah itu ia
masuk ke dalam ruang makam
Rasulullah dan berdiri di samping
makam seraya berkata:
“Semoga rahmat dan keselamatan
selalu tercurah kepadamu wahai
Rasulullah, wahai Penghulu para
rasul, Penutup para nabi, dan
kekasih Tuhan semesta alam.aku
datang untuk memberitahukan
engkau keadaanku, aku limpahkan
hajatku kepadamu supaya engkau
membantuku , kepadamulah
manusia mengadukan hajat mereka
dan meminta bantuan pertolongan,
aku telah melamar Nafisah kepada
ayahnya tetapi ia menolakku“.
kemudian Ia mengucapkan salam
dan pergi dari makam Rasulullah.
Keesokan harinya Ishaq dikagetkan
dengan berita bahwa ia di panggil
oleh al Hasan al Anwar, dan ketika ia
menemuinya al Hasan berkata: “Tadi
malam aku mimpi bertemu dengan
kakekku Rasulullah dengan rupa
yang sangat menawan, beliau
mengucapkan salam kepadaku
seraya berkata: “Wahai Hasan
nikahkanlah putrimu Nafisah dengan
Ishaq al Mu’tamin!”.
Kemudian dilangsungkanlah
pernikahan mereka pada hari Jumat
tanggal 1 Rajab 161 H, sehingga
lengkaplah cahaya berkah Hasan dan
Husein di rumah itu karena
sayyidah Nafisah adalah keturunan
Hasan, sedang suaminya keturunan
Husein radhiyallahu ‘anhuma. Sayyid
Ishaq juga terkenal keagungannya,
sifat wara’, banyak orang yang
meriwayatkan hadist dan atsar
darinya karena beliau juga terkenal
sebagai Muhaddist yang
berkompeten.
Bertawassul dengan ahli kubur yang
telah meraih maqom (derajat)
disisiNya tidak harus selalu di sisi
kuburnya.
“Dari ‘Ali bin Husain bahwasanya ia
melihat seorang laki-laki mendatangi
sebuah celah dekat kuburan Nabi
shallallaahu ‘alaihi wasallam
kemudian ia masuk ke dalamnya dan
berdoa. Maka Ali bin Husain
berkata: ‘Maukah anda aku
sampaikan hadits yang aku dengar
dari ayahku dari kakekku dari
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi
wasallam beliau bersabda: ‘Janganlah
kalian menjadikan kuburanku
sebagai ‘ied, dan jangan jadikan
rumah kalian sebagai kuburan. Dan
bersholawatlah kepadaku karena
sholawat kalian akan sampai
kepadaku di manapun kalian berada’
Riwayat dari Ali bin Husain bin Ali
bin Abi Thalib tersebut sekedar
mengingatkan orang tersebut jangan
menyembah kuburan dan tidak
perlu bersusah payah memasuki
celah karena bertawassul pada
Rasulullah ataupun bersholawat
kepada Rasulullah dapat pula
dilakukan di tempat manapun.
Kaum muslim yang mengetahui,
memahami dan meyakini bahwa ahli
kubur yang telah meraih maqom
(derajat) disisi Allah ta'ala , mereka
hidup disisiNya sebagaimana para
Syuhada maka mereka membenci
perkataan "menziarahi kubur
Rasulullah" . Mereka lebih menyukai
perkataan "menziarahi Rasulullah"
atau mendatangi Rasulullah
sebagaimana contohnya Imam Malik
membenci perkataan “aku
menziarahi kubur Nabi shallallahu
alaihi wasallam.”
Namun ulama Ibnu Taimiyyah salah
memahami ucapan Imam Malik dan
kita dapat temukan pemahamannya
pada kitab Majmu’ Fatawa juz 27
hal. 111-112, Ibnu Taimiyah berkata
yang artinya,“… bahkan Imam Malik
dan yang lainnya membenci kata-
kata, ‘Aku menziarahi kubur Nabi
Shallallahu alaihi wasallam’ sedang
Imam Malik adalah orang paling
alim dalam bab ini, dan penduduk
Madinah adalah paling alimnya
wilayah dalam bab ini, dan Imam
Malik adalah imamnya penduduk
Madinah. Seandainya terdapat
sunnah dalam hal ini dari Rasulullah
Shallallahu alaihi wasallam. yang di
dalamnya terdapat lafaz ‘menziarahi
kuburnya’, niscaya tidak akan
tersembunyi (tidak diketahui) hal itu
oleh para ulama ahli Madinah dan
penduduk sekitar makam beliau –
demi bapak dan ibuku .“
Imam Ibnu Hajar al-Asqallani, di
dalam kitab Fathul-Bari juz 3 hal.
66, menjelaskan, bahwa Imam Malik
membenci ucapan “aku menziarahi
kubur Nabi shallallahu alaihi
wasallam.” adalah karena semata-
mata dari sisi adab, bukan karena
membenci amalan ziarah kuburnya.
Hal tersebut dijelaskan oleh para
muhaqqiq (ulama khusus)
mazhabnya. Dan ziarah kubur
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam adalah termasuk amalan
yang paling afdhal dan
pensyari’atannya jelas, dan hal itu
merupkan ijma’ para ulama.
Imam Malik adalah orang yang
sangat memuliakan Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam, sampai-
sampai ia enggan naik kendaraan di
kota Madinah karena menyadari
bahwa tubuh Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam dikubur di tanah
Madinah, sebagaimana ia nyatakan,
“Aku malu kepada Allah ta’ala untuk
menginjak tanah yang di dalamnya
ada Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam. dengan kaki hewan
(kendaraan-red)” (lihat Syarh Fath
al-Qadir, Muhammad bin Abdul
Wahid As-Saywasi, wafat 681 H.,
Darul Fikr, Beirut, juz 3, hal. 180).
Bagaimana mungkin sikap yang
sungguh luar biasa itu dalam
memuliakan jasad Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam dan
meyakini Beliau shallallahu alaihi
wasallam hidup sebagaimana para
syuhada, membuatnya benci kepada
orang yang ingin menziarahi makam
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam ? Sungguh ini adalah
sebuah pemahaman yang keliru.
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam
kitab berjudul “Hasyiyah
Al-’allaamah Ibn Hajar Al-Haitami
‘Alaa Syarh Al-Idlah Fii Manasik Al-
Hajj”, (Kitab Penjelasan terhadap
Karya Imam an-Nawawi) menuliskan
(yang artinya) “… Jangan tertipu
dengan pengingkaran Ibnu Taimiyah
terhadap kesunnahan ziarah ke
makam Rasulullah, karena
sesungguhnya dia adalah manusia
yang telah disesatkan oleh Allah;
sebagaimana kesesatannya itu telah
dinyatakan oleh Imam al-’Izz ibn
Jama’ah, juga sebagaimana telah
panjang lebar dijelaskan tentang
kesesatannya oleh Imam
Taqiyyuddin as-Subki dalam karya
tersendiri untuk itu (yaitu kitab
Syifa’ as-Siqam Fi Ziyarah Khayr al-
Anam). Penghinaan Ibnu Taimiyah
terhadap Rasulullah ini bukan
sesuatu yang aneh; oleh karena
terhadap Allah saja dia telah
melakukan penghinaan, –Allah Maha
Suci dari segala apa yang dikatakan
oleh orang-orang kafir dengan
kesucian yang agung–. Kepada Allah;
Ibnu Taimiyah ini telah menetapkan
arah, tangan, kaki, mata, dan lain
sebagainya dari keburukan-
keburukan yang sangat keji. Ibn
Taimiyah ini telah dikafirkan oleh
banyak ulama, –semoga Allah
membalas segala perbuatan dia
dengan keadilan-Nya dan semoga
Allah menghinakan para
pengikutnya; yaitu mereka yang
membela segala apa yang dipalsukan
oleh Ibn Taimiyah atas syari’at yang
suci ini–”.
Basyir bin Handzalah ra,
meriwayatkan bahawa Nabi
shallallahu alaihi wasallam
menanggalkan sandalnya bila berada
di kawasan perkuburan. (HR an-
Nasa’i, Tirmidzi, Abu Daud dan Ibn
Majah)
Ketika aku menemani Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam melalui
perkuburan kaum Muslimin, baginda
terlihat seorang lelaki berjalan di
antara kubur dengan memakai
terompah, maka baginda pun
bersabda, "Wahai orang yang
memakai terompah, lepaskanlah
kedua terompahmu itu. Maka orang
tersebut memandang dan ketika
bahawa yang dipandang itu adalah
Rasulullah, dia pun segera
melepaskan kedua terompahnya lalu
melemparkan keduanya. (HRiwayat
al-Baihaqi)
Imam at-Thahawi mengatakan jika
kawasan perkuburan itu bersih dan
selamat barulah ditanggalkan kasut
atau sandal dengan tujuan
menghormati ahli kubur, tetapi jika
kawasan kuburan itu kotor atau
berduri maka tidak perlu membuka
alas kaki. Abu Daud murid Imam
Ahmad bin Hambal mengatakan:
"Aku melihat Imam Ahmad apabila
menghantar jenazah, ketika
mendekati pemakaman,
menanggalkan sandalnya."
Ibn Hajar berpendapat makruh
hukumnya memakai sandal/kasut di
kawasan perkuburan.
Wassalam
Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor
16830