Kaum muslim ketika berziarah kubur
tentu mendoakan ahli kubur namun
tidak masalah pula berdoa kepada
Allah untuk kepentingannya sendiri
Silahkan baca studi kasus para
peziarah kubur pada http://
mutiarazuhud.wordpress.com/2012/10/07/
studi-kasus-ziarah/ tidak ada
satupun yang menyembah kuburan.
Dari contoh studi kasus ziarah kubur
tersebut, dapat kita ketahui bahwa
cara bertawassul dengan ahli kubur,
pada umumnya bertawassul dengan
amal sholeh berupa bacaan ayat suci
Al Qur’an yang dihadiahkan kepada
ahli kubur kemudian dilanjutkan
dengan permohonan peziarah
kepada Allah Azza wa Jalla.
Pada umumnya mengawalinya
dengan menghadiahkan Al Fatihah
kepada manusia yang paling mulia
Nabi Sayyidina Muhammad
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam dengan mengawalinya
seperti “Ila Hadrotin Nabiyyil
musthofa Muhammadin shollallahu
‘alahi wassalam wa’ala ali sayyidina
Muhammad wa’ala alihi wa shohbihi
wa atbaihi ajmain” Al Fatihah
Imam Nawawi berkata
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲُّ ﺭَﺣِﻤﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪ: ﻭﻳُﺴْﺘَﺤَﺐُّ ﺃﻥْ
ﻳُﻘﺮَﺃَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺷﻲﺀٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻘُﺮﺁﻥِ، ﻭَﺇﻥ ﺧَﺘَﻤُﻮﺍ
ﺍﻟﻘُﺮﺁﻥ ﻋِﻨْﺪﻩُ ﻛﺎﻥَ ﺣَﺴﻨﺎً
“Imam asy-Syafi’i rahimahullah
berkata : “disunnahkan agar
membaca sesuatu dari al-Qur’an
disisi quburnya, dan apabila mereka
mengkhatamkan al-Qur’an disisi
quburnya maka itu
bagus” (Riyadlush Shalihin [1/295]
lil-Imam an-Nawawi ; Dalilul Falihin
[6/426] li-Imam Ibnu ‘Allan ; al-
Hawi al-Kabir fiy Fiqh Madzhab asy-
Syafi’i (Syarah Mukhtashar Muzanni)
[3/26] lil-Imam al-Mawardi dan
lainnya.
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰ : ﻭﺃﺣﺐ ﻟﻮ ﻗﺮﺉ ﻋﻨﺪ
ﺍﻟﻘﺒﺮ ﻭﺩﻋﻰ ﻟﻠﻤﻴﺖ
Imam Syafi’i mengatakan “aku
menyukai sendainya dibacakan al-
Qur’an disamping qubur dan
dibacakan do’a untuk
mayyit” ( Ma’rifatus Sunani wal
Atsar [7743] lil-Imam al-Muhaddits
al-Baihaqi.)
Imam Ahmad semula
mengingkarinya karena atsar tentang
hal itu tidak sampai kepadanya
namun kemudian Imam Ahmad ruju’
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺑﻌﺪ ﺗﺤﺮﻳﺠﻪ ﺑﺴﻨﺪﻩ ﺇﻟﻰ
ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻰ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﺪﺍﻟﻠﻪ
ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﺑﻮ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ
ﻳﻌﻘﻮﺏ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ
ﻗﺎﻝ ﺳﺄﻟﺖ ﻳﺤﻲ ﺑﻦ ﻣﻌﻴﻦ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﺮﺃﺀﺓ
ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﻓﻘﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﻰ ﻣﺒﺸﺮ ﺑﻦ
ﺃﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺍﻟﺤﻠﺒﻲ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ
ﺍﻟﻠﺠﻼﺝ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ ﻗﺎﻝ ﻟﺒﻨﻴﻪ ﺇﺫﺍ ﺃﻧﺎ ﻣﺖ
ﻓﻀﻌﻮﻧﻰ ﻓﻰ ﻗﺒﺮﻯ ﻭﻗﻮﻟﻮﺍ ﺑﺴﻢ
ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺳﻨﻪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳﻨﻮﺍ
ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﺳﻨﺎ ﺛﻢ ﺇﻗﺮﺃﻭﺍ ﻋﻨﺪ ﺭﺃﺳﻰ
ﺃﻭﻝ ﺳﻮﺭﻩ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ ﻭﺧﺎﺗﻤﺘﻬﺎ ﻓﺈﻧﻰ ﺭﺃﻳﺖ
ﺇﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﺫﻟﻚ , ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ
ﺑﻌﺪ ﺗﺨﺮﻳﺠﻪ ﻫﺬﺍ ﻣﻮﻗﻮﻑ ﺣﺴﻦ ﺃﺧﺮﻳﺠﻪ
ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺨﻼﻝ ﻭﺃﺧﺮﻳﺠﻪ ﻣﻦ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺃﺑﻰ
ﻣﻮﺳﻰ ﺍﻟﺤﺪﺍﺩ ﻭﻛﺎﻥ ﺻﺪﻭﻗﺎ ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻴﻨﺎ
ﻣﻊ ﺃﺣﻤﺪ ﻋﻠﻰ ﺟﻨﺎﺯﺓ ﻓﻠﻤﺎ ﻓﺮﻍ ﻣﻦ
ﺫﻓﻨﻪ ﺣﺒﺲ ﺭﺟﻞ ﺿﺮﻳﺮ ﻳﻘﺮﺃ ﻋﻨﺪ
ﺍﻟﻘﺒﺮ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﻳﺎ ﻫﺬﺍ ﺇﻥ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ
ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﺑﺪﻋﺔ ﻓﻠﻤﺎ ﺧﺮﺟﻨﺎ ﻗﺎﻝ ﻟﻪ
ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻗﺪﺍﻣﺔ ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ
ﺗﻘﻮﻝ ﻓﻰ ﻣﺒﺸﺮ ﺑﻦ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﻗﺎﻝ
ﺛﻘﺔ ﻗﺎﻝ ﻛﺘﺒﺖ ﻋﻨﻪ ﺷﻴﺌﺎ ﻗﺎﻝ ﻧﻌﻢ
ﻗﺎﻝ ﺇﻧﻪ ﺣﺪﺛﻨﻰ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ
ﺍﻟﻠﺠﻼﺝ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ ﺃﻧﻪ ﺃﻭﺻﻰ ﺇﺫﺍ ﺩﻓﻦ ﺃﻥ
ﻳﻘﺮﺅﺍ ﻋﻨﺪ ﻗﺒﺮﻩ ﻓﺎﺗﺤﺔ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ
ﻭﺧﺎﺗﻤﺘﻬﺎ ﻭﻗﺎﻝ ﺳﻤﻌﺖ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻳﻮﺻﻰ
ﺑﺬﻟﻚ ﻗﺎﻝ ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﻟﻠﺮﺟﻞ ﻓﻠﻴﻘﺮﺃ.
ﺍﻩ
al-Hafidh (Ibnu Hajar) berkata
setelah mentakhrijnya dengan
sanadnya kepada al-Baihaqi, ia
berkata ; telah menceritakan kepada
kami Abu Abdillah al-Hafidz, ia
berkata telah menceritakan kepada
kami Abul ‘Abbas bin Ya’qub, ia
berkata, telah menceritakan kepada
kami al-‘Abbas bin Muhammad, ia
berkata, aku bertanya kepada Yahya
bin Mu’in tentang pembacaan al-
Qur’an disamping qubur, maka ia
berkata ; telah menceritakan
kepadaku Mubasysyir bin Isma’il al-
Halabi dari ‘Abdur Rahman bin al-
Lajlaj dari ayahnya, ia berkata
kepada putranya, apabila aku telah
wafat, letakkanlah aku didalam
kuburku, dan katakanlah oleh kalian
“Bismillah wa ‘alaa Sunnati
Rasulillah”, kemudian gusurkan
tanah diatasku dengan perlahan,
selanjutnya bacalah oleh kalian
disini kepalaku awal surah al-
Baqarah dan mengkhatamkannya,
karena sesungguhnya aku melihat
Ibnu ‘Umar menganjurkan hal itu.
Kemudian al-Hafidh (Ibnu Hajar)
berkata setelah mentakhrijnya,
hadits ini mauquf yang hasan, Abu
Bakar al-Khallal telah mentakhrijnya
dan ia juga mentakhrijnya dari Abu
Musa al-Haddad sedangkan ia orang
yang sangat jujur. Ia berkata : kami
shalat jenazah bersama bersama
Ahmad, maka tatkala telah selesai
pemakamannya duduklah seorang
laki-laki buta yang membaca al-
Qur’an disamping qubur, maka
Ahmad berkata kepadanya ; “hei apa
ini, sungguh membaca al-Qur’an
disamping qubur adalah bid’ah”.
Maka tatkala kami telah keluar,
berkata Ibnu Qudamah kepada
Ahmad : “wahai Abu Abdillah, apa
komentarmu tentang Mubasysyir bin
Isma’il ? “, Ahmad berkata : tsiqah,
Ibnu Qudamah berkata : engkau
menulis sesuatu darinya ?”, Ahmad
berkata : Iya. Ibnu Qudamah
berkata : sesungguhnya ia telah
menceritakan kepadaku dari Abdur
Rahman bin al-Lajlaj dari ayahnya,
ia berpesan apabila dimakamkan
agar dibacakan pembukaan al-
Baqarah dan mengkhatamkannya
disamping kuburnya, dan ia
berkata : aku mendengar Ibnu ‘Umar
berwasiat dengan hal itu, Maka
Ahmad berkata kepada laki-laki itu
“lanjutkanlah bacaaanmu”.
Abdul Haq berkata : telah
diriwayatkan bahwa Abdullah bin
‘Umar –radliyallahu ‘anhumaa-
memerintahkan agar dibacakan
surah al-Baqarah disisi quburnya
dan diantara yang meriwayatkan
demikian adalah al-Mu’alla bin
Abdurrahman
Begitupula berdoa kepada Allah
untuk kepentingannya sendiri boleh
berdoa langsung kepada Allah atau
memintakan doa kepada ahli kubur.
Bedakan antara menyembah ahli
kubur dengan memintakan doa
kepada ahli kubur karena ahli kubur
yang telah meraih maqom (derajat)
disisi Nya , mereka hidup
sebagaimana para syuhada
Imam al-Baihaqi telah membahas
sepenggal kehidupan para Nabi. Ia
menyatakan dalam kitab Dalailun
Nubuwwah: “Para nabi hidup di sisi
Tuhan mereka seperti para
syuhada.”
Abu Manshur ‘Abdul Qahir bin
Thahir al-Baghdadi mengatakan:
“Para sahabat kami yang ahli kalam
al-muhaqqiqun berpendapat bahwa
Nabi kita Muhammad shallallahu
alaihi wasallam hidup setelah
wafatnya. Adalah beliau shallallahu
alaihi wasallam bergembira dengan
ketaatan ummatnya dan bersedih
dengan kemaksiatan mereka, dan
beliau membalas shalawat dari
ummatnya.” Ia menambahkan, “Para
nabi alaihi salam tidaklah dimakan
oleh bumi sedikit pun. Nabi Musa
alaihi salam sudah meninggal pada
masanya, dan Nabi kita
mengabarkan bahwa beliau melihat
ia shalat di kuburnya. Disebutkan
dalam hadis yang membahas
masalah mi’raj, bahwasanya Nabi
Muhammad shallallahu alaihi
wasallam melihat Nabi Musa
alaihisalam di langit ke empat serta
melihat Adam dan Ibrahim. Jika hal
ini benar adanya, maka kami
berpendapat bahwa Nabi kita
Muhammad shallallahu alaihi
wasallam juga hidup setelah
wafatnya, dan beliau dalam
kenabiannya.”
Dari Abu Hurairah , Rasulullah
bersabda: Tidak seorang pun yang
memberi salam kepadaku kecuali
Allah akan menyampaikan kepada
ruhku sehingga aku bisa menjawab
salam itu.(HR. Abu Dawud)
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda,
ﺣﻴﺎﺗﻲ ﺧﻴﺮ ﻟﻜﻢ ﻭﻣﻤﺎﺗﻲ ﺧﻴﺮ ﻟﻜﻢ
ﺗﺤﺪﺛﻮﻥ ﻭﻳﺤﺪﺙ ﻟﻜﻢ , ﺗﻌﺮﺽ ﺃﻋﻤﺎﻟﻜﻢ
ﻋﻠﻲّ ﻓﺈﻥ ﻭﺟﺪﺕ ﺧﻴﺮﺍ ﺣﻤﺪﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺇﻥ
ﻭﺟﺪﺕ ﺷﺮﺍ ﺍﺳﺘﻐﻔﺮﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻜﻢ .
“Hidupku lebih baik buat kalian dan
matiku lebih baik buat kalian. Kalian
bercakap-cakap dan mendengarkan
percakapan. Amal perbuatan kalian
disampaikan kepadaku. Jika aku
menemukan kebaikan maka aku
memuji Allah. Namun jika
menemukan keburukan aku
memohonkan ampunan kepada Allah
buat kalian.” (Hadits ini
diriwayatkan oelh Al Hafidh Isma’il
al Qaadli pada Juz’u al Shalaati ‘ala
al Nabiyi Shallalahu alaihi wasallam.
Al Haitsami menyebutkannya dalam
Majma’u al Zawaaid dan
mengkategorikannya sebagai hadits
shahih)
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda,
ﺇﻥ ﺃﻋﻤﺎﻟﻜﻢ ﺗﻌﺮﺽ ﻋﻠﻰ ﺃﻗﺎﺭﺑﻜﻢ
ﻭﻋﺸﺎﺋﺮﻛﻢ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺧﻴﺮﺍ
ﺍﺳﺘﺒﺸﺮﻭﺍ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻗﺎﻟﻮﺍ:
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻻ ﺗﻤﺘﻬﻢ ﺣﺘﻰ ﺗﻬﺪﻳﻬﻢ ﻛﻤﺎ
ﻫﺪﻳﺘﻨﺎ)
“Sesungguhnya perbuatan kalian
diperlihatkan kepada karib-kerabat
dan keluarga kalian yang telah
meninggal dunia. Jika perbuatan
kalian baik, maka mereka
mendapatkan kabar gembira, namun
jika selain daripada itu, maka
mereka berkata: “Ya Allah, janganlah
engkau matikan mereka sampai
Engkau memberikan hidayah kepada
mereka seperti engkau memberikan
hidayah kepada kami.” (HR. Ahmad
dalam musnadnya).
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda,
( ﻣﺎ ﻣﻦ ﺭﺟﻞ ﻳﺰﻭﺭ ﻗﺒﺮ ﺃﺧﻴﻪ ﻭﻳﺠﻠﺲ
ﻋﻠﻴﻪ ﺇﻻ ﺍﺳﺘﺄﻧﺲ ﻭﺭﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﺣﺘﻲ
ﻳﻘﻮﻡ )
“Tidak seorangpun yang
mengunjungi kuburan saudaranya
dan duduk kepadanya (untuk
mendoakannya) kecuali dia merasa
bahagia dan menemaninya hingga
dia berdiri meninggalkan kuburan
itu.” (HR. Ibnu Abu Dunya dari
Aisyah dalam kitab Al-Qubûr).
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda,
( ﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﺣﺪ ﻳﻤﺮﺑﻘﺒﺮ ﺃﺧﻴﻪ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻛﺎﻥ
ﻳﻌﺮﻓﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻴﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﺇﻻ
ﻋَﺮَﻓَﻪُ ﻭﺭﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ )
“Tidak seorang pun melewati
kuburan saudaranya yang mukmin
yang dia kenal selama hidup di
dunia, lalu orang yang lewat itu
mengucapkan salam untuknya,
kecuali dia mengetahuinya dan
menjawab salamnya itu.” (Hadis
Shahih riwayat Ibnu Abdul Bar dari
Ibnu Abbas di dalam kitab Al-
Istidzkar dan At-Tamhid).
Al-Baihaqi dalam kitab Hayatul
Anbiya’ mengeluarkan hadis dari
Anas radhiyallahuanhu, Nabi
shallallahu alaihi wasallam,
bersabda: “Para nabi hidup di kubur
mereka dalam keadaan mengerjakan
shalat.” Al-Baihaqi mengeluarkan
hadis dari Anas ra: Nabi shallallahu
alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya para nabi tidaklah
ditinggalkan di dalam kubur mereka
setelah empat puluh malam, akan
tetapi mereka shalat di hadapan
Allah Subhanahu wa Ta'ala sampai
ditiupnya sangkakala.” Sufyan
meriwayatkan dalam al-Jami’, ia
mengatakan: “Syeikh kami berkata,
dari Sa’idbin al-Musayyab, ia
mengatakan, “Tidaklah seorang nabi
itu tinggal di dalam kuburnya lebih
dari empat puluh malam, lalu ia
diangkat.”
Al-Baihaqi menyatakan, atas dasar
inilah mereka layaknya seperti orang
hidup kebanyakan, sesuai dengan
Allah menempatkan mereka. ‘Abdur
Razzaq dalam Musnadnya
meriwayatkan dari as-Tsauri, dari
Abil Miqdam, dari Sa’id bin
Musayyab, ia berkata: “Tidaklah
seorang nabi mendiami bumi lebih
dari empat puluh hari.” Abui
Miqdam meriwayatkan dari Tsabit
bin Hurmuz al-Kufi, seorang syeikh
yang shaleh, Ibn Hibban dalam
Tarikhnya dan Thabrani dalam al-
Kabir serta Abu Nua’im dalam al-
Hilyah, dari Anas ra berkata:
Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah
seorang nabi pun yang meninggal,
kemudian mendiami kuburnya
kecuali hanya empat puluh hari.”
Hal yang harus kita ingat adalah
bahwa manusia yang sudah wafat
pada hakikatnya hanya berpindah
alam saja dan mereka masih
melakukan perbuatan namun sudah
tidak diperhitungkan lagi apa yang
mereka lakukan sebagai amal
perbuatan.
Rasulullah bersabda, “sebagaimana
engkau tidur begitupulah engkau
mati, dan sebagaimana engkau
bangun (dari tidur) begitupulah
engkau dibangkitkan (dari alam
kubur)”
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam telah membukakan kepada
kita salah satu sisi tabir kematian.
Bahwasanya tidur dan mati memiliki
kesamaan, ia adalah saudara yang
sulit dibedakan kecuali dalam hal
yang khusus, bahwa tidur adalah
mati kecil dan mati adalah tidur
besar.
Ibnu Zaid berkata, “Mati adalah
wafat dan tidur juga adalah wafat”.
Al-Qurtubi dalam at-Tadzkirah
mengenai hadis kematian dari
syeikhnya mengatakan: “Kematian
bukanlah ketiadaan yang murni,
namun kematian merupakan
perpindahan dari satu keadaan
kepada keadaan lain.”
Kaum muslim yang sudah wafat dan
meraih manzilah (maqom/derajat)
disisiNya mereka mendapatkan
karunia ni’mat dan hidup
sebagaimana para syuhada
Firman Allah ta’ala yang artinya
”Dan janganlah kamu mengatakan
terhadap orang-orang yang gugur di
jalan Allah (syuhada), (bahwa
mereka itu ) mati; bahkan
(sebenarnya) mereka itu hidup,
tetapi kamu tidak
menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]:
154 )
”Janganlah kamu mengira bahwa
orang-orang yang gugur di jalan
Allah (syuhada) itu mati; bahkan
mereka itu hidup disisi Tuhannya
dengan mendapat rezki.” (QS Ali
Imran [3]: 169)
“Orang-orang yang dikaruniai
nikmat oleh Allah adalah: Para nabi,
para shiddiqin, para syuhada’ dan
orang-orang shalih, mereka itulah
sebaik-baik teman“. (QS An Nisaa
[4]: 69)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “kami
meneruskan perjalanan sehingga
sampai di langit keenam, lalu aku
menemui Nabi Musa dan memberi
salam kepadanya. Dia segera
menjawab, ‘Selamat datang wahai
saudara yang dan nabi yang shalih.’
Ketika aku meningalkannya, dia
terus menangis. Lalu dia ditanya,
‘Apakah yang menyebabkan kamu
menangis? ‘ dia menjawab, ‘Wahai
Tuhanku! Kamu telah mengutus
pemuda ini setelahku, tetapi
umatnya lebih banyak memasuki
Surga daripada umatku” (HR Muslim
238)
Kaum muslim yang meraih manzilah
(maqom/derajat) disisiNya maka
mereka menjadi penduduk langit
serupa dengan para malaikat
Pendudul langit selalu bertasbih
kepada Allah
Firman Allah Azza wa Jalla yang
artinya, “Semua yang berada di
langit dan yang berada di bumi
bertasbih kepada Allah, Dan Dialah
Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (QS Al Hadid [57]:1)
Penduduk langit juga bisa
menyaksikan hamba-hamba kekasih
Tuhan di bumi sebagaimana
dinyatakan Rasulullah,
“Sesungguhnya para penghuni langit
mengenal penghuni bumi yang
selalu mengingat dan berzikir
kepada Allah bagaikan bintang yang
bersinar di langit.”
Dalam Al Qur’an dinyatakan dalam
ayat, “Untuk mereka kabar gembira
waktu mereka hidup di dunia dan di
akhirat.” (QS Yunus/10:64).
Para ulama tafsir mengomentari
ayat ini sesuai dengan pengalaman
sahabat Nabi Muhammad, Abu
Darda’, yang menanyakan apa
maksud ayat ini. Rasulullah
menjelaskan, “Yang dimaksud ayat
ini ialah mimpi baik yang dilihat
atau diperlihatkan Allah Subhanahu
wa ta’ala kepadanya.” Dalam ayat
lain lebih jelas lagi Allah berfirman,
“Allah memegang jiwa (orang) ketika
matinya dan (memegang) jiwa
(orang) yang belum mati di waktu
tidurnya.” (QS al-Zumar [39]:42).
Penduduk langit dapat bertemu
dengan manusia yang masih hidup
Abdullah Ibnu Abbas r.a. pernah
berkata, “ruh orang tidur dan ruh
orang mati bisa bertemu diwaktu
tidur dan saling berkenalan sesuai
kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala
kepadanya, karena Allah Subhanahu
wa Ta’ala yang menggenggam ruh
manusia pada dua keadaan, pada
keadaan tidur dan pada keadaan
matinya.”
Telah menceritakan kepada kami
Mu’allaa bin Asad telah
menceritakan kepada kami ‘Abdul
‘Aziz bin Mukhtar telah
menceritakan kepada kami Tsabit Al
Bunani dari Anas radliallahu ‘anhu
mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “Siapa melihatku
dalam mimpi, berarti ia telah
melihatku, sebab setan tidak bisa
menjelma sepertiku, dan mimpi
seorang mukmin adalah sebagian
dari empat puluh enam bagian
kenabian.” (HR Bukhari 6479)
Penduduk langit dapat mendengar
dan mengetahui keadaan manusia
yang masih hidup dan dapat
mendoakan mereka
Dari Tsabit Al Bunani dari Anas bin
Malik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa Salam meninggalkan jenazah
perang Badar tiga kali, setelah itu
beliau mendatangi mereka, beliau
berdiri dan memanggil-manggil
mereka, beliau bersabda: Hai Abu
Jahal bin Hisyam, hai Umaiyah bin
Khalaf, hai Utbah bin Rabi’ah, hai
Syaibah bin Rabi’ah, bukankah
kalian telah menemukan kebenaran
janji Rabb kalian, sesungguhnya aku
telah menemukan kebenaran janji
Rabbku yang dijanjikan padaku.
Umar mendengar ucapan nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Salam, ia
berkata: Wahai Rasulullah,
bagaimana mereka mendengar dan
bagaimana mereka menjawab,
mereka telah menjadi bangkai?
Beliau bersabda: Demi Dzat yang
jiwaku berada ditanganNya, kalian
tidak lebih mendengar ucapanku
melebihi mereka, hanya saja mereka
tidak bisa menjawab. (HR Muslim
5121)
Para Sahabat ketika duduk dalam
shalat (tahiyyat), bertawasul dengan
menyebut nama-nama orang-orang
sholeh yang telah wafat maupun
dengan para malaikat namun
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam mengajarkan untuk
menyingkatnya menjadi
“Assalaamu’alaina wa’alaa
‘ibaadillaahish shoolihiin”, maka hal
itu sudah mencakup seluruh hamba-
hamba Allah yang sholeh baik di
langit maupun di bumi“
Telah menceritakan kepada kami
Umar bin Hafsh telah menceritakan
kepada kami Ayahku telah
menceritakan kepada kami Al
A’masy dia berkata; telah
menceritakan kepadaku Syaqiq dari
Abdullah dia berkata; Ketika kami
membaca shalawat di belakang Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam, maka
kami mengucapkan: ASSALAAMU
‘ALALLAHI QABLA ‘IBAADIHI,
ASSALAAMU ‘ALAA JIBRIIL,
ASSSALAAMU ‘ALAA MIKAA`IIL,
ASSALAAMU ‘ALAA FULAAN WA
FULAAN (Semoga keselamatan
terlimpahkan kepada Allah, semoga
keselamatan terlimpah kepada Jibril,
Mika’il, kepada fulan dan fulan).
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam selesai melaksanakan
shalat, beliau menghadapkan
wajahnya kepada kami dan
bersabda: Sesungguhnya Allah
adalah As salam, apabila salah
seorang dari kalian duduk dalam
shalat (tahiyyat), hendaknya
mengucapkan; AT-TAHIYYATUT
LILLAHI WASH-SHALAWAATU WATH-
THAYYIBAATU, ASSALAAMU ‘ALAIKA
AYYUHAN-NABIYYU WA
RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH,
ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALA
‘IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN,
(penghormatan, rahmat dan
kebaikan hanya milik Allah. Semoga
keselamatan, rahmat, dan
keberkahan tetap ada pada engkau
wahai Nabi. Keselamatan juga
semoga ada pada hamba-hamba
Allah yang shalih). Sesungguhnya
jika ia mengucapkannya, maka hal
itu sudah mencakup seluruh hamba-
hamba yang shalih baik di langit
maupun di bumi, lalu melanjutkan;
ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAH
WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN
‘ABDUHU WA RASUULUH (Aku
bersaksi bahwa tiada Dzat yang
berhak disembah selain Allah, dan
Muhammad adalah hamba dan
utusan-Nya). Setelah itu ia boleh
memilih do’a yang ia kehendaki. (HR
Bukhari 5762)
Dalam hadits di atas , Rasulullah
bersabda “Sesungguhnya jika ia
mengucapkannya, maka hal itu
sudah mencakup seluruh hamba-
hamba yang shalih baik di langit
maupun di bumi“
Jadi pada kenyataannya setiap
muslim, setiap hari selalu
bertawassul dengan penduduk langit
yakni bertawassul dengan muslim
yang sudah wafat dan meraih
manzilah (maqom/derajat) disisiNya
beserta para malaikat dengan
mengucapkan “ASSALAAMU
‘ALAINAA WA ‘ALA ‘IBAADILLAAHISH
SHAALIHIIN”
Firman Allah ta’ala yang artinya
“Sesungguhnya penolong kamu
hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan
orang-orang yang beriman, yang
mendirikan shalat dan menunaikan
zakat, seraya mereka tunduk (kepada
Allah)“ (QS Al Maaidah [5]: 55)
“Dan barangsiapa mengambil Allah,
Rasul-Nya dan orang-orang yang
beriman menjadi penolongnya, maka
sesungguhnya pengikut (agama)
Allah itulah yang pasti menang” (QS
Al Maaidah [5]: 56)
“dan (begitu pula) Jibril dan orang-
orang mu’min yang baik; dan selain
dari itu malaikat-malaikat adalah
penolongnya pula” (QS At Tahrim
[66]:4)
“dan berilah kami pelindung dari sisi
Engkau, dan berilah kami penolong
dari sisi Engkau” (QS An Nisaa
[4]:75)
“Karena itu ma’afkanlah mereka,
mohonkanlah ampun bagi
mereka” (QS Ali Imran [3]:159)
“dan mohonlah ampunan bagi
dosamu dan bagi (dosa) orang-orang
mu’min, laki-laki dan
perempuan” (QS Muhammad
[47];19)
“maka terimalah janji setia mereka
dan mohonkanlah ampunan kepada
Allah untuk mereka“ (QS
Mumtahanah [60]:12)
“Dan Kami tidak mengutus
seseorang rasul melainkan untuk
dita’ati dengan seizin Allah.
Sesungguhnya jikalau mereka ketika
menganiaya dirinya datang
kepadamu, lalu memohon ampun
kepada Allah, dan Rasulpun
memohonkan ampun untuk mereka,
tentulah mereka mendapati Allah
Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang” (QS An Nisaa [4]:64)
Ibnu Katsir ketika mentafsirkan ( QS
An Nisaa [4] : 64 ) contoh scan kitab
tafsir dapat dibaca pada http://
mutiarazuhud.files.wordpress.com/2011/09/
ikjuz5p281_285.pdf menyampaikan
**** awal kutipan *****
Al-Atabi ra menceritakan bahwa
ketika ia sedang duduk di dekat
kubur Nabi Shallallahu alaihi
wasallam, datanglah seorang Arab
Badui, lalu ia mengucapkan,
“Assalamu’alaika, ya Rasulullah
(semoga kesejahteraan terlimpahkan
kepadamu, wahai Rasulullah). Aku
telah mendengar Allah ta’ala
berfirman yang artinya,
‘Sesungguhnya jikalau mereka ketika
menganiaya dirinya datang
kepadamu, lalu memohon ampun
kepada Allah, dan Rasul pun
memohonkan ampun untuk mereka,
tentulah mereka menjumpai Allah
Maha Penerima Tobat lagi Maha
Penyayang‘ (QS An-Nisa: 64),
Sekarang aku datang kepadamu,
memohon ampun bagi dosa-dosaku
(kepada Allah) dan meminta syafaat
kepadamu (agar engkau
memohonkan ampunan bagiku)
kepada Tuhanku.”
Kemudian lelaki Badui tersebut
mengucapkan syair berikut , yaitu:
“Hai sebaik-baik orang yang
dikebumikan di lembah ini lagi
paling agung, maka menjadi
harumlah dari pancaran
keharumannya semua lembah dan
pegunungan ini. Diriku sebagai
tebusan kubur yang engkau menjadi
penghuninya; di dalamnya terdapat
kehormatan, kedermawanan, dan
kemuliaan.“
Kemudian lelaki Badui itu pergi, dan
dengan serta-merta mataku terasa
mengantuk sekali hingga tertidur.
Dalam tidurku itu aku bermimpi
bersua dengan Nabi shallallahu
alaihi wasallam., lalu beliau
shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“Hai Atabi, susullah orang Badui itu
dan sampaikanlah berita gembira
kepadanya bahwa Allah telah
memberikan ampunan kepadanya!”
***** akhir kutipan *****
Adz-Dzahabi; dalam karyanya; Siyar
A’lam an-Nubala’, jld. 9, cet. 9,
tentang biografi Imam Ma’ruf al-
Karkhi; beliau adalah Abu Mahfuzh
al-Baghdadi. Dari Ibrahim al-Harbi
berkata: “Makam Imam Ma’ruf al-
Karkhi adalah obat yang paling
mujarab”. Adz-Dzahabi berkata:
“Yang dimaksud ialah terkabulnya
doa di sana yang dipanjatkan oleh
orang yang tengah kesulitan, oleh
karena tempat-tempat yang berkah
bila doa dipanjatkan di sana akan
terkabulkan, sebagaimana
terkabulkannya doa yang
dipanjatkan di waktu sahur (sebelum
subuh), doa setelah shalat-shalat
wajib, dan doa di dalam masjid-
masjid……”.
Siyar A’lam an-Nubala’, jld. 12, cet.
14, tentang biografi Imam al-
Bukhari (penulis kitab Shahih);
beliau adalah Abu Abdillah
Muhammad ibn Isma’il ibn Ibrahim
al-Bukhari, dalam menceritakan
tentang wafatnya. simak tulisan adz-
Dzahabi berikut ini: “Abu ‘Ali al-
Gassani berkata: “Telah
mengkhabarkan kepada kami Abu al-
Fath Nasr ibn al-Hasan as-Sakti as-
Samarqandi; suatu ketika dalam
beberapa tahun kami penduduk
Samarqand mendapati musim
kemarau, banyak orang ketika itu
telah melakukan shalat Istisqa’,
namun hujan tidak juga turun.
Kemudian datang seseorang yang
dikenal sebagai orang saleh
menghadap penguasa Samarqand, ia
berkata: “Saya punya pendapat
maukah engkau mendengarkannya?
Penguasa tersebut berkata: “Baik,
apa pendapatmu?”. Orang saleh
berkata: “Menurutku engkau harus
keluar bersama segenap manusia
menuju makam Imam Muhammad
ibn Isma’il al-Bukhari, makam
beliau berada di Kharatnak, engkau
berdoa meminta hujan di sana,
dengan begitu semoga Allah
menurunkan hujan bagi kita”. Sang
penguasa berkata: “Aku akan
kerjakan saranmu itu”. Maka
keluarlah penguasa Samarqand
tersebut dengan orang banyak
menuju makam Imam al-Bukhari,
banyak sekali orang yang menangis
di sana, mereka semua meminta
tolong kepada Imam al-Bukhari.
Kemudian Allah menurunkan hujan
yang sangat deras, hingga orang-
orang saat itu menetap di Kharatnak
sekitar tujuh hari, tidak ada
seorangpun dari mereka yang dapat
pulang ke Samarqand karena banyak
dan derasnya hujan. Jarak antara
Samarqand dan Kharatnak sekitar
tiga mil”
Para Sahabat , bertawassul dan
bertabarruk ke makam Rasulullah
sebagaimana yang disampaikan oleh
Ibnu katsir dalam kitab tarikhnya
7/105: “Berkata al hafidz Abu Bakar
al Baihaqi, telah menceritakan Abu
Nashar bin Qutadah dan Abu bakar
al Farisi, mereka berdua berkata:
telah menceritakan kepada kami Abu
Umar bin Mathor, telah
menceritakan kepada kami Ibrahim
bin Ali Addzahli, telah menceritakan
kepada kami Yahya bin Yahya, telah
menceritakan kepada kami Abu
Mu’awiyah dari ‘Amasy dari Abi
Shalih dari Malik Ad Daar Ia berkata,
“Orang-orang mengalami kemarau
panjang saat pemerintahan Umar.
Kemudian seorang laki-laki datang
ke makam Nabi Shallallahu alaihi
wasallam dan berkata “Ya Rasulullah
Shallallahu alaihi wasallam
mintakanlah hujan untuk umatmu
karena mereka telah binasa”.
Kemudian orang tersebut mimpi
bertemu Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam dan dikatakan kepadanya
“datanglah kepada Umar dan
ucapkan salam untuknya
beritahukan kepadanya mereka
semua akan diturunkan hujan.
Katakanlah kepadanya “bersikaplah
bijaksana, bersikaplah bijaksana”.
Maka laki-laki tersebut menemui
Umar dan menceritakan kepadanya
akan hal itu. Kemudian Umar
berkata “Ya Tuhanku aku tidak
melalaikan urusan umat ini kecuali
apa yang aku tidak mampu
melakukannya” (Sanadnya shahih
adalah penetapan dari Ibnu katsir.
Malik adalah Malik Ad Daar dan ia
seorang bendahara gudang makanan
pada pemerintahan Umar,ia adalah
tsiqoh)
Al hafidz Ibnu Hajar al Asqolani
dalam fathul bari juz 2 pada kitab
aljumah bab sualun nas al imam
idza qohathu”, Diriwayatkan oleh
Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang
shahih dari riwayat Abu Shalih As
Saman dari Malik Ad Daar seorang
bendahara Umar. Ia berkata “Orang-
orang mengalami kemarau panjang
saat pemerintahan Umar. Kemudian
seorang laki-laki datang ke makam
Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan
berkata “Ya Rasulullah Shallallahu
alaihi wasallam mintakanlah hujan
untuk umatmu karena mereka telah
binasa datanglah kepada Umar
dst..dan laki2 itu adalah Bilal bin
Haris al Muzani”.
Contoh lain
Sayyidah Nafisah putri al Hasan al
Anwar ibn Zaid al Ablaj ibn al Hasan
ibn Ali karramallahu wajhah. Beliau
radhiyallahu anha dilahirkan di kota
Makkah Al Mukarromah pada hari
rabu 11 rabiul awal tahun 145H.
Ketika sayyidah Nafisah telah
dewasa, telah siap untuk menempuh
jenjang pernikahan dan telah
mumpuni dari segi ilmu maupun
ketaqwaannya. Karena hal itu
banyak sekali pemuda yang datang
kepada Ayahnya untuk melamar
beliau, baik dari keturunan
Rasulullah, pembesar-pembesar
ulama’ ataupun suku Quraisy.
Termasuk yang sangat ingin
menikahi beliau adalah Ishaq ibn
Ja’far as Shadiq, yaitu pemuda yang
tekenal diantara teman-temannya
dengan julukan Al Mu’tamin karena
sifat amanah dan keteguhan
imannya.
Ishaq bukanlah orang yang asing lagi
bagi sayyidah Nafisah, karena ia
adalah putra imam Ja’far al Shadiq
ibn Muhammad al Baqir ibn Ali
Zainal Abidin ibn Husain cucu
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa
sallam.
Ia telah melihat banyak sekali
pemuda-pemuda yang datang
kepada Ayah sayyidah Nafisah guna
melamarnya, tetapi beliau selalu
mengatakan: “Aku ingin
menyampaikan amanah kepada
pemiliknya, aku ingin
mengembalikan tetesan ke dalam
lautan dan aku ingin menanam
mawar di dalam kebunnya”.
Maka ketika setiap pemuda yang
mendengarnya akan mengurungkan
niatnya untuk meminang, mereka
berkata: mungkin ada suatu rahasia
dari balik perkataan tersebut yang
kita tidak ketahui.
Meskipun demikian Ishaq
menganggap ia harus tetap mencoba
kesempatannya. akhirnya ia
beristikharah kepada Allah kemudian
pergi bersama pembesar-pembesar
Ahli Bait untuk meminang sayyidah
Nafisah, akan tetapi penolakanlah
yang ia dapatkan sehingga ia pulang
dengan hati yang hancur karena
lamarannya ditolak.
Kemudian ia pergi ke Masjid Nabawy
dan melakukan shalat. Setelah itu ia
masuk ke dalam ruang makam
Rasulullah dan berdiri di samping
makam seraya berkata:
“Semoga rahmat dan keselamatan
selalu tercurah kepadamu wahai
Rasulullah, wahai Penghulu para
rasul, Penutup para nabi, dan
kekasih Tuhan semesta alam.aku
datang untuk memberitahukan
engkau keadaanku, aku limpahkan
hajatku kepadamu supaya engkau
membantuku , kepadamulah
manusia mengadukan hajat mereka
dan meminta bantuan pertolongan,
aku telah melamar Nafisah kepada
ayahnya tetapi ia menolakku“.
kemudian Ia mengucapkan salam
dan pergi dari makam Rasulullah.
Keesokan harinya Ishaq dikagetkan
dengan berita bahwa ia di panggil
oleh al Hasan al Anwar, dan ketika ia
menemuinya al Hasan berkata: “Tadi
malam aku mimpi bertemu dengan
kakekku Rasulullah dengan rupa
yang sangat menawan, beliau
mengucapkan salam kepadaku
seraya berkata: “Wahai Hasan
nikahkanlah putrimu Nafisah dengan
Ishaq al Mu’tamin!”.
Kemudian dilangsungkanlah
pernikahan mereka pada hari Jumat
tanggal 1 Rajab 161 H, sehingga
lengkaplah cahaya berkah Hasan dan
Husein di rumah itu karena
sayyidah Nafisah adalah keturunan
Hasan, sedang suaminya keturunan
Husein radhiyallahu ‘anhuma. Sayyid
Ishaq juga terkenal keagungannya,
sifat wara’, banyak orang yang
meriwayatkan hadist dan atsar
darinya karena beliau juga terkenal
sebagai Muhaddist yang
berkompeten.
Bertawassul dengan ahli kubur yang
telah meraih maqom (derajat)
disisiNya tidak harus selalu di sisi
kuburnya.
“Dari ‘Ali bin Husain bahwasanya ia
melihat seorang laki-laki mendatangi
sebuah celah dekat kuburan Nabi
shallallaahu ‘alaihi wasallam
kemudian ia masuk ke dalamnya dan
berdoa. Maka Ali bin Husain
berkata: ‘Maukah anda aku
sampaikan hadits yang aku dengar
dari ayahku dari kakekku dari
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi
wasallam beliau bersabda: ‘Janganlah
kalian menjadikan kuburanku
sebagai ‘ied, dan jangan jadikan
rumah kalian sebagai kuburan. Dan
bersholawatlah kepadaku karena
sholawat kalian akan sampai
kepadaku di manapun kalian berada’
Riwayat dari Ali bin Husain bin Ali
bin Abi Thalib tersebut sekedar
mengingatkan orang tersebut jangan
menyembah kuburan dan tidak
perlu bersusah payah memasuki
celah karena bertawassul pada
Rasulullah ataupun bersholawat
kepada Rasulullah dapat pula
dilakukan di tempat manapun.
Kaum muslim yang mengetahui,
memahami dan meyakini bahwa ahli
kubur yang telah meraih maqom
(derajat) disisi Allah ta'ala , mereka
hidup disisiNya sebagaimana para
Syuhada maka mereka membenci
perkataan "menziarahi kubur
Rasulullah" . Mereka lebih menyukai
perkataan "menziarahi Rasulullah"
atau mendatangi Rasulullah
sebagaimana contohnya Imam Malik
membenci perkataan “aku
menziarahi kubur Nabi shallallahu
alaihi wasallam.”
Namun ulama Ibnu Taimiyyah salah
memahami ucapan Imam Malik dan
kita dapat temukan pemahamannya
pada kitab Majmu’ Fatawa juz 27
hal. 111-112, Ibnu Taimiyah berkata
yang artinya,“… bahkan Imam Malik
dan yang lainnya membenci kata-
kata, ‘Aku menziarahi kubur Nabi
Shallallahu alaihi wasallam’ sedang
Imam Malik adalah orang paling
alim dalam bab ini, dan penduduk
Madinah adalah paling alimnya
wilayah dalam bab ini, dan Imam
Malik adalah imamnya penduduk
Madinah. Seandainya terdapat
sunnah dalam hal ini dari Rasulullah
Shallallahu alaihi wasallam. yang di
dalamnya terdapat lafaz ‘menziarahi
kuburnya’, niscaya tidak akan
tersembunyi (tidak diketahui) hal itu
oleh para ulama ahli Madinah dan
penduduk sekitar makam beliau –
demi bapak dan ibuku .“
Imam Ibnu Hajar al-Asqallani, di
dalam kitab Fathul-Bari juz 3 hal.
66, menjelaskan, bahwa Imam Malik
membenci ucapan “aku menziarahi
kubur Nabi shallallahu alaihi
wasallam.” adalah karena semata-
mata dari sisi adab, bukan karena
membenci amalan ziarah kuburnya.
Hal tersebut dijelaskan oleh para
muhaqqiq (ulama khusus)
mazhabnya. Dan ziarah kubur
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam adalah termasuk amalan
yang paling afdhal dan
pensyari’atannya jelas, dan hal itu
merupkan ijma’ para ulama.
Imam Malik adalah orang yang
sangat memuliakan Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam, sampai-
sampai ia enggan naik kendaraan di
kota Madinah karena menyadari
bahwa tubuh Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam dikubur di tanah
Madinah, sebagaimana ia nyatakan,
“Aku malu kepada Allah ta’ala untuk
menginjak tanah yang di dalamnya
ada Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam. dengan kaki hewan
(kendaraan-red)” (lihat Syarh Fath
al-Qadir, Muhammad bin Abdul
Wahid As-Saywasi, wafat 681 H.,
Darul Fikr, Beirut, juz 3, hal. 180).
Bagaimana mungkin sikap yang
sungguh luar biasa itu dalam
memuliakan jasad Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam dan
meyakini Beliau shallallahu alaihi
wasallam hidup sebagaimana para
syuhada, membuatnya benci kepada
orang yang ingin menziarahi makam
Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam ? Sungguh ini adalah
sebuah pemahaman yang keliru.
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam
kitab berjudul “Hasyiyah
Al-’allaamah Ibn Hajar Al-Haitami
‘Alaa Syarh Al-Idlah Fii Manasik Al-
Hajj”, (Kitab Penjelasan terhadap
Karya Imam an-Nawawi) menuliskan
(yang artinya) “… Jangan tertipu
dengan pengingkaran Ibnu Taimiyah
terhadap kesunnahan ziarah ke
makam Rasulullah, karena
sesungguhnya dia adalah manusia
yang telah disesatkan oleh Allah;
sebagaimana kesesatannya itu telah
dinyatakan oleh Imam al-’Izz ibn
Jama’ah, juga sebagaimana telah
panjang lebar dijelaskan tentang
kesesatannya oleh Imam
Taqiyyuddin as-Subki dalam karya
tersendiri untuk itu (yaitu kitab
Syifa’ as-Siqam Fi Ziyarah Khayr al-
Anam). Penghinaan Ibnu Taimiyah
terhadap Rasulullah ini bukan
sesuatu yang aneh; oleh karena
terhadap Allah saja dia telah
melakukan penghinaan, –Allah Maha
Suci dari segala apa yang dikatakan
oleh orang-orang kafir dengan
kesucian yang agung–. Kepada Allah;
Ibnu Taimiyah ini telah menetapkan
arah, tangan, kaki, mata, dan lain
sebagainya dari keburukan-
keburukan yang sangat keji. Ibn
Taimiyah ini telah dikafirkan oleh
banyak ulama, –semoga Allah
membalas segala perbuatan dia
dengan keadilan-Nya dan semoga
Allah menghinakan para
pengikutnya; yaitu mereka yang
membela segala apa yang dipalsukan
oleh Ibn Taimiyah atas syari’at yang
suci ini–”.
Basyir bin Handzalah ra,
meriwayatkan bahawa Nabi
shallallahu alaihi wasallam
menanggalkan sandalnya bila berada
di kawasan perkuburan. (HR an-
Nasa’i, Tirmidzi, Abu Daud dan Ibn
Majah)
Ketika aku menemani Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam melalui
perkuburan kaum Muslimin, baginda
terlihat seorang lelaki berjalan di
antara kubur dengan memakai
terompah, maka baginda pun
bersabda, "Wahai orang yang
memakai terompah, lepaskanlah
kedua terompahmu itu. Maka orang
tersebut memandang dan ketika
bahawa yang dipandang itu adalah
Rasulullah, dia pun segera
melepaskan kedua terompahnya lalu
melemparkan keduanya. (HRiwayat
al-Baihaqi)
Imam at-Thahawi mengatakan jika
kawasan perkuburan itu bersih dan
selamat barulah ditanggalkan kasut
atau sandal dengan tujuan
menghormati ahli kubur, tetapi jika
kawasan kuburan itu kotor atau
berduri maka tidak perlu membuka
alas kaki. Abu Daud murid Imam
Ahmad bin Hambal mengatakan:
"Aku melihat Imam Ahmad apabila
menghantar jenazah, ketika
mendekati pemakaman,
menanggalkan sandalnya."
Ibn Hajar berpendapat makruh
hukumnya memakai sandal/kasut di
kawasan perkuburan.
Wassalam
Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor
16830