Rabu, 27 Februari 2013

Hobi Mengoleksi Amalan



 Darmo paling senang kalau ia mendapatkan amalan dan ijazah wirid dari seorang Kyai. Bahkan ia benar-benar maniak “wirid”. Bukunya ada tiga jilid, semua isinya tulisan tentang wirid, doa, dzikir, macam-macam, sampai soal pelet dan gendam pun ada di catatannya.
⁠Buku itu ditenteng kemana-mana, layaknya tukang kredit. Suatu hari ia ingin pamer pada kawan lamanya yang s

udah sekian tahun tidak bertemu, Kunto, nama kawan itu.
⁠
⁠“Kun, bagaimana perkembanganmu, apa kamu sudah punya amalan untuk pegangan hidupmu?”
⁠“Saya nggak punya apa-apa Mo, saya hanya punya satu saja …”
⁠“Lah, amalan kok satu, kurang sempurna Kun. Kalau saya nih…” katanya sambil menyodorkan tiga buku catatan amalan itu.
⁠“Kamu mestinya jadi sarjana Mo..”
⁠“Wah saya sudah S 7. Mestinya sudah lebih professor soal amalan…”
⁠Kunto hanya senyum-senyum saja.
⁠“Jadi kamu sudah bisa apa
⁠saja Mo?”
⁠“Jangankan samurai, peluru pun sudah nggak mempan.
⁠Orang sekampung juga sudah mulai tahu kedigdayaanku ini…”
⁠“Sakti donk kamu?”
⁠“Begitulah…”
⁠ “Sesakti-sakti kamu, kalau ketemu isterimu kamu juga sudah takut bukan main….”
⁠
⁠“Kok tahu kamu?”
⁠“Tau saja. Apa artinya kesaktianmu….kalau begitu”
⁠“Bukan itu Kun. Wirid saya juga lengkap. Semua kalau diamalkan kita menjadi paling sempurna. Ibarat bumbu paling lengkap punyaku. Tapi kalau kamu kan Cuma satu….”
⁠“Lha iya. Kalau kamu mau masak, semua bumbu kamu masukkan dalam masakan, jadinya rasa apa Mo…”
⁠Darmo agak kebingungan.
⁠“Iya..ya….Rasa apa ya? Tapi kan paling top kita…”
⁠“Top apanya, paling –paling malah dibuang semua, karena rasanya bukan masakan lezat, malah jadi kayak jamu…mendem…siapa mau makan?”
⁠Darmo memandangi begitu lama tiga catatan bukunya tak berkedip.
⁠“Kalau kamu Cuma satu, itu amalan apa?”
⁠“Akh sederhana. Satu itu kan Gusti Allah, tauhid…udah..”
⁠Darmo memandangi wajah Kunto dalam-dalam. Ia bergegas memasukkan buku catatannya dalam tasnya. Ia tampak gelisah bukan main. Wajahnya pucat.
⁠“Kun, kapan-kapan aku kesini lagi….”
⁠“Pintu terbuka untukmu kawan. Syukur-syukur kamu sudah jadi dukun…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar