Selasa, 09 Oktober 2012

Kesempatan Mengadu

Kita sebenarnya diberi kesempatan untuk mengadu. Kita adukan semua persoalan kita kepada Allah. Kita adukan semua kebingungan kita, pekerjaan, rizki, kesehatan, cinta, dan semua apapun. Kita mengadu, dan kita pasrah menunggu dijawab. Dan pasti Allah menjawabnya langsung. Ruh bisa merasakannya, namun kalau dia dipaksa tertinggal-tinggal oleh gerakan badan, maka dia tidak sempat menikmati pertemuan
dengan Allah itu.

Saat ruku’ kita ruku’ lama, sambil menarik regang kaki dan punggung . Nikmati saja seperti menikmati peregangan bila senam. Saat sujud, kita tumpukan kepala sebagai tumpuan utama. Nikmat rasanya ‘terpijat’ dahi ini oleh gerak sujud. Saat ruh telah ikut sujud, saya baca dengan penghayatan, “Subhana robbiyal a’laa wa bi hamdih” (Maha Suci Engkau yang Maha Tinggi dan Maha Terpuji). Rasanya nikmat sekali sujud lama.

Lalu, lalu kita duduk setelah sujud. kita baca sepotong-sepotong bacaannya,. Robbighfirlii (Ya Tuhan ampunilah aku). Lalu kita diam sejenak. Tiba-tiba keluar sendiri air mata, kita menangis karena menyadari betapa dalam makna kalimat pengaduan ini. Kita minta secara langsung untuk dimaafkan . Ruh kita meminta secara langsung, dan Allah menjawabnya. kita menangis. Ruh kita menangis, kita yang sejati, menangis. War hamnii (dan sayangilah aku), air mata itupun tumpah. Wajburnii. Diam. War fa’nii. Diam.. Warzuqnii (beri rizki padaku -Ya Allah), air mata kita akan benar-benar tumpah, betul-betul kita tiba-tiba sadar bahwa selama ini kita mengejar-ngejar rizki tapi tidak serius mengakui itu dariNya

lalu saat ini kita sedang memintanya langsung! Wahdinii (tunjukilah aku -karena aku sedang bingung dan tak tahu). Diam sejenak, rasakan getaran qalbu nya kita akan merasakan air mata kita benar-benar meleleh deras Wa’aafinii (dan sehatkan aku). Wa’fuannii (dan maafkan aku- yang banyak dosa ini).

Mulailah kita berdoa dengan meratap. Seraya mengucapkan, “Ya Allah… Ya Allah… Ya Allah…”, sambil mengangkat tangan setinggi wajah seperti seorang pengemis yang meminta-minta. Berkali-kali, hingga hati kita siap berdoa. Imam Gazali berkata kalau kita ingin dekat Allah maka kita harus sungguh-sungguh memanggilnya laksana seorang anak kecil yang ketakutan karena ada ular atau bahya, lalu memanggil-manggil ayahnya

“Ayah… Ayah… Ayah…”, maka ayahnya pasti datang dengan seruan itu dan melindungi anak tersebut. Demikianlah kalau kita ingin bebas dari maksiat, kata Al Ghazali, maka kita harus panggil dengan betul-betul ketakutan akan maksiat tersebut, kita panggil pelindung kita dengan sungguh-sungguh seakan anak kecil memanggil-manggil ayahnya, maka akan dilindungi kita dari maksiat tersebut.

Cobalah kita berdoa, mengadu di depan Tuhan secara langsung. kita ikhlaskan apapun jawaban dari doa tersebut. Dengan bahasa yang kita mengerti dan kita kuasai agar esensi do’a tercapai yakni dialog bercakap-cakap dengan Allah SWT.
Mugi2 migunani tumprap kula pribadi lan sedayanipun...Aamiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar